Umat Hindu setiap enam bulan sekali selalu diingatkan betapa pentingnya melestarikan lingkungan (tumbuh-tumbuhan), melalui perayaan Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag atau sering juga disebut Tumpek Bubuh dan Tumpek Wariga. Tumpek uduh merupakan awal dari rentetan hari raya galungan dimana Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh ini jatuh 25 hari sebelum hari Raya Galungan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Pada Saat melakukan Upacara ini biasanya umat melantunkan sahe, seperti mantra tetapi bukan mantra. Bunyinya seperti ini : “ Kaki-kaki buin selai lemeng Galungane mangde mebuah ngeed, ngeed ngeed “. Seperti itu kira kira yang diucapkan umat saat menghaturkan sesajen yang berisi bubur di depan tumbuhan. Prosesi upacara ini, khususnya aplikasinya dalam kehidupan.
Bapak Dr. Nanang Sutrisno S.Ag.,M.Si dalam talkshow di kesempatan pagi hari ini bersama RPKD FM menjelaskan, Makna filosofis Tumpek Wariga adalah sebagai bentuk pemujaan kepada Sanghyang Sangkara yang merupakan manifestasi dari Tuhan sesungguhnya bermakna bagaimana memelihara alam melalui tumbuh-tumbuhan sehingga kebutuhan oksigen dari seluruh makhluk hidup bisa terpenuhi. Sang Hyang Sangkara merupakan manifestasi Hyang Widhi dalam menciptakan tumbuh-tumbuhan, yang dalam pengider-ider berwarna hijau, dengan arah barat laut. Diantara barat dengan Mahadewa sebagai dewatanya, berwarna kuning, dan utara dengan Wisnu sebagai dewatanya, berwarna Hitam. Dalam Ganapatti Tattwa warna Kuning melambangkan tanah, hitam adalah air. Jadi tumbuhan bisa hidup jika ada pertemuan antara tanah dan air. Demikian pula tanah dan air akan terjaga jika ada tumbuhan. Karena itu, umat Hindu akan memuja Tuhan sebagai Dewa Sangkara untuk memohon kekuatan jiwa dan raga dalam mengembangkan tumbuh-tumbuhan.
Dari Sisi Etika, umat Hindu pada hari ini tidak diperbolehkan menebang pohon. Umat pun pada Tumpek Wariga tidak mau memetik buah, bunga, dan daun. Justru mereka diharapkan menanam pohon. Artinya, secara etika, umat Hindu ingin menyerasikan dirinya dengan alam, baik melalui upacara maupun tindakan nyata. Bapak Nanang Sutrisnojuga berpesan melalui perayaan Tumpek Bubuh ini sejatinya umat diingatkan betapa pentingnya merawat alam dengan menanam tumbuh-tumbuhan. Tak hanya tumbuhan yang buahnya berguna untuk sumber makanan, tetapi juga pohon-pohon untuk menjaga keseimbangan alam menghasilkan oksigen dan menyerap polusi udara.( GP )
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026