Tumpek Krulut diartikan sebagai hari kasih sayang. Terkait wacana Tumpek krulut sebagai hari valentine versi bali Secretary World Hindu Parisad, Drs. I Ketut Donder, M.Ag.,Ph.D menyatakan bahwa hal ini perlu digali dan ditinjau lebih jauh lagi, pada intinya secara etimologis kasih sayang yang dimaksud bersifat universal termasuk seluruh alam beserta isinya. Tumpek Krulut ini lebih menekankan pada unsur spirit bukan semata mata ceremonial, dan alangkah baiknya momentum ini dijadikan ajang refleksi diri bagi pasangan suami istri untuk mewujudkan keluarga yang harmonis melalui komunikasi yang sehat maupun diskusi keagamaan. Bukan sekedar cinta lebih pada kasih sayang yang tingkatannya jauh lebih tinggi dari sekedar cinta yang bersifat sesaat. Hal ini berkaitan erat dengan pengaplikasian Vasudhaiva kutumbakan yang bermakna seluruh mahluk di dunia ini adalah saudara.
Drs. I Ketut Donder, M.Ag.,Ph.D menjelaskan Kasih sayang tersebut diwujudkan dalam bentuk keindahan seni yang membuat arsa dan karsa ini menjadi hanyut dan takjub disimboliskanlah dalam bentuk seni seperti alat musik berupa gong, arja, santi yang tiada lain dipergunakan sebagai alat komunikasi dalam berkontemplasi kepada Sang Pencipta. Memunculkan harmonisasi dengan konsep tatwam asi, seperti halnya dalam melantunkan gong ataupun seni lainnya. Bunyi yang dikeluarkan oleh setiap bilah gamelan sesungguhnya melambangkan nyasa atau simbol dari ista dewata. Setiap lembar bilah gamelan hakikatnya bagaikan nomor telepon pada ista dewata. Melalui hari raya tumpek krulut ini sangat diharapkan adanya perbaikan kualitas diri dan refleksi diri serta menjalankan kehidupan setiap hari dengan penuh kasih sayang (erd).
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026