Menu

Tenaga Pendidik Tunanetra, Berdedikasi Mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB)

  • Selasa, 05 Mei 2026
  • 21x Dilihat


Banyak guru tunanetra di Indonesia yang membuktikan kemampuannya setara, bahkan melampaui batas fisik mereka. Contohnya adalah Made Ayu Windari, tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Tabanan, Bali. Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk meraih kemajuan dan bermanfaat bagi orang sekitar. Ayu Windari hadir sebagai narasumber Talkshow Wacana Praja di studio RPKD 92,6 FM (Senin 4/5).

Ayu Windari menceritakan kisah perjalanan hidupnya, hingga memilih profesi tenaga pendidik di SLB N 1 Tabanan, Bali. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Ayu Windari terinspirasi oleh seorang guru wanita yang juga seorang penyandang disabilitas netra, Ayu Windari berkeinginan suatu saat bisa menjadi seperti beliau dan berprinsip dengan keinginan yang kuat serta keberanian menghadapi tantangan dalam hidup, maka setiap peluang adalah jalan menggapai keberhasilan.

Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Ayu Windari berpesan agar pemerintah dan masyarakat bersinergi dalam menciptakan pendidikan yang inklusif. Kolaborasi ini menjamin hak belajar yang setara, serta membuka akses dan dukungan yang lebih luas bagi para pendidik yang memiliki keterbatasan. Berikut adalah peran penting dari sinergitas tersebut :

1. Peran Pemerintah (Regulasi & Fasilitas) : 
Pemerintah wajib menyediakan payung hukum dan memastikan infrastruktur sekolah ramah bagi penyandang disabilitas. Pelatihan Khusus seperti : Mengadakan program peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

2. Peran Masyarakat (Mendukung Lingkungan Sosial) : 
Menciptakan budaya penerimaan yang setara, menghargai keberagaman, dan menghilangkan stigma terhadap disabilitas.

3. Dukungan Komunitas : 
Orang tua dan masyarakat dapat membentuk komite yang proaktif dalam memberikan dukungan moral serta fasilitas bagi guru dan siswa.

4. Organisasi Profesi :

Untuk memperjuangkan kesejahteraan, kesetaraan akses, dan peningkatan mutu, para pendidik difabel memiliki wadah advokasi resmi yaitu Ikatan Guru Tunanetra Inklusif (IGTI).


Tenaga pendidik inklusif membutuhkan keterlibatan dari berbagai elemen masyarakat. Dalam kesehariannya mengajar Ayu Windari menggunakan teknologi & metode belajar Pembaca Layar (Screen Reader) dan materi berbasis Braille untuk mentransfer ilmu. Fleksibilitas ini memungkinkan tenaga pendidik inklusif seperti tunanetra dapat mengajar mata pelajaran umum, agama, hingga kejuruan seperti komputer dan musik.