Sebulan setelah Tumpek Kuningan, Umat Hindu di Bali mengenal Rerahinan Tumpek Krulut. Ada yang mengatakan bahwa Hari Suci Tumpek Krulut merupakan Hari Kasih Sayang, yang di wujudkan dalam bentuk Keindahan, dalam hal ini suara gamelan. Tumpek Krulut adalah Upacara Yadnya yang dirayakan setiap 6 bulan sekali atau 210 hari, tepat pada sabtu kliwon wuku krulut. pada hari ini kita bersyukur atas terciptanya suara suci atau tabuh dimana kita memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara, yang bertujuan agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan " taksu ". Dari alunan nada tersebut akan melahirkan gerak - gerak nan indah sebagai unsur seni dan dari keindahan itu seni menjadi hiburan yang dapat menyeimbangkan hidup.
Makna perayaan Tumpek Krulut memang kasih sayang. karena kata krulut berasal dari kata lulut yang artinya " senang atau cinta " yang bisa disejajarkan dengan makna sayang, hati menyatu dengan keindahan ( sundaram ), sehingga pikiran menjadi damai. Makna Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang itu ditujukan dengan adanya sarana banten sekartaman yang dihaturkan saat tumpek krulut. Ada yang unik dalam sesajen hari ini yaitu segala sesuatu yang dihaturkan seperti telur, buah - buahan dihaturkan dalam bentuk yang utuh atau tidak dibagi - bagi.
Secara Filsafat pemujaan bunyi - bunyian saat Tumpek Krulut mengandung makna pengendalian Tri Guna ( Satwam, Rajas, Tamas ) serta Tri Marga yakni Dharma, Artha dan Kama. Bila dipahami lebih jauh alunan nada - nada merupakan proses menuju harmonisasi alam. Guna mewujudkan harmonisasi alam ini perlu dilakukan perenungan dan memohon kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Iswara. Dan bagi umat Hindu hari suci tumpek krulut dilaksanakan untuk memohon kekuatan taksu yag ada pada dirinya sendiri sebagai kekuatan kharismatik, serta dilaksanakan berdasarkan Sradha dan Bhaktinya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya.
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026