Menu

TALKSHOW WACANA PRAJA 12 APRIL 2011“Rabies,Flu burung,dan hama ulat bulu”

  • Rabu, 20 April 2011
  • 1383x Dilihat
TALKSHOW WACANA PRAJA 12 APRIL 2011 Selasa,12 April 2011 digelar talkshow wacana praja di 91,45 RPKD FM dengan topik “Rabies,Flu burung,dan hama ulat bulu”selama 60 menit dipandu oleh Anggreni RPKD. Hadir sebagai narasumber Ibu Drh.Suri (Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar), Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra (Dinas Kesehatan Kota Denpasar) dan Bapak Wayan Suastika SP.M,si (Dinas Pertanian Tanaman pangan dan hortikultura Kota Denpasar). Talkshow diawali oleh penjelasan singkat oleh Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra mengenai Flu burung yaitu merupakan suatu penyakit infeksi disebabkan oleh tipe A dalam hal ini virus H5N1 yang biasanya menyerang saluran pernafasan yang ditularkan melalui hewan terutama unggas yg ditularkan ke manusia.Gejalanya Flu burung yaitu demam,pusing,mual,nyeri otot dan berlanjut sesak di paru-paru yang bisa menyebabkan kematian. Dilanjutkan oleh Ibu Drh.Suri mengenai ciri- ciri hewan yang tertular Flu burung yaitu unggas mati mendadak dalam jumlah yang banyak, keluar cairan dari mata, hidung,dan terlihat bercak seperti kerokan. Flu burung bersifat endemis (sewaktu-waktu bisa muncul) yang menular melalui udara. “Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar terus melakukan berbagai langkah pencegahan dan penanganan untuk Flu burung, diantaranya dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar selalu menjaga sanitasi lingkungan, kebersihan kandang, dan tidak mengantarKabupantenkan unggas” sambungnya. Apabila ada kasus kematian unggas mendadak, warga bisa segera melapor ke Kepala Dusun/Kepala Desa/Lurah setempat atau bisa menghubungi Tim PDSR di no telepon 081337580583 dan bisa juga langsung menghubungi Dinas Peternakan di no telp 229733. Warga kota diberikan kesempatan bertanya langsung kepada narasumber via telepon 244444 : Merry – Pemogan : virus Flu burung and rabies kembali menyerang Bali dan Denpasar,sebelumnya hal ini sudah terjadi,tetapi kenapa bisa muncul kembali? apa pemerintah kurang serius menangani? Langsung ditanggapi oleh Ibu Drh.Suri bahwa Virus Flu burung bersifat endemis/ sewaktu-waktu bisa muncul, tergantung pada cuaca, biasanya sering muncul pada musim pancaroba. Berbeda halnya dengan rabies yang dapat dihindari dengan menghindari gigitan. Tentunya dalam hal ini diperlukan peran serta masyarakat dalam melakukan berbagai tindakan pencegahan, untuk Flu burung dilakukan penjagaan kebersihan sanitasi lingkungan, dan lainnya, sedangkan untuk rabies, selain menghindari gigitan, masyarakat pemilik HPR (Hewan Penular Rabies) juga perlu memperhatikan kondisi peliharaannya, mulai dari vaksinasi, makanan dan pelayanan kesehatan yang baik. Indra – Sesetan : Selama ini akibat yang ditimbulkan kedua virus (Flu burung & rabies) yang paling berdampak adalah rabies dan dari surat kabar kemarin bahkan anjing kecil pun bisa terserang dan bila menggigit menyebabkan kematian. Pada beberapa kasus terlihat Pemerintah kurang siap dengan penyediaan VAR, sehingga begitu ada pasien dengan gejala rabies datang,tetapi tidak mendapatkan VAR, sebenarnya saat ini ada beberapa persediaan VAR di Denpasar dan pasien seperti kategori apa saja yang dapat VAR, kemudian apakah pihak Rumah Sakit bisa menjamin pasien baik baik saja jika tidak diberi VAR? Kembali di tanggapi oleh Ibu Drh.Suri bahwa Rabies tidak pandang bulu, anjing besar dan kecil juga bisa terkena, namun terkadang anjing kecil sering diabaikan oleh masyarakat oleh karena itu masyarakat harus lebih waspada. Ditambahkan oleh Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra Hal yang paling penting dalam menghindari rabies yaitu menghindari gigitan, jangan membiarkan anak tidur bersama peliharaan, kemudian melakukan pertolongan pertama apabila terkena gigitan dengan membasuh luka dengan disikat detergen dan air mengalir. Hal ini diperkirakan telah membunuh virus sekitar 70%, kemudian langsung di bawa ke Rabies center (RS.Wangaya, Puskesmas Densel 1 dan juga di RSUP Sanglah), agar segera mendapatkan penanganan lebih lanjut. Menurut penelitian yang telah dilakukan, pemberian VAR perlu diberikan pada gigitan daerah resiko tinggi diatas leher, jari tangan, jari kaki dan pada kelamin, kemudian dilihat juga kondisi anjing yang menggigit selama 2 minggu, apabila dalam 2 minggu anjing tersebut mati berarti positif anjing rabies, apabila masih hidup kemungkinan belum terkena rabies. Untuk saat ini di Denpasar VAR masih disediakan gratis. Keberadaan ulat bulu di Kota Denpasar yang diamati di dua tempat yaitu di desa Penatih dan kelurahan Tonja, ulat bulu sudah ada sejak dulu bukan pindahan dari jawa atau daerah lain, karena ulat bulu dalam keadaan ekosistem yang seimbang terkendali oleh beberapa faktor antara lain faktor biotik dan abiotik. Faktor abiotik adalah lingkungan seperti curah hujan, suhu lingkungan, kelembaban dan sinar matahari,dll. Faktor biotik/hidup seperti predator, parasitoid. Tanaman tempat hidup dari ulat bulu seperti yang ada di desa Tonja dan kelurahan Penatih adalah di tanaman liar. Dari Pemerintah Kota Denpasar khususnya Dinas Pertanian tanaman pangan dan hortikultura sudah melakukan pengamatan secara intensif dan dari hasil pengamatan sudah dilakukan pengendalian. Juga sudah ada tim pengendali yang disebut dengan ‘Brigade Hama dan Penyakit’ yang sudah siap diterjunkan. Ekobiologi dari ulat bulu, diawali dengan kupu-kupu,yang keluar pada malam hari dan tertarik pada sinar lampu. Kupu-kupu tidak merusak tanaman, karena kupu-kupu hanya bertelur dan kawin.setelah bertelur, dia akan mati dengan sendirinya.Tetapi dampaknya, satu ekor kupu-kupu dapat bertelur 4 sampai 6 kelompok telur,dan satu kelompok telur berisi 600 butir telur. Apabila ditelur ini tidak ada yang mengendalikan faktor biotik atau abiotik maka 100% bisa menetas. Apabila ada kupu – kupu berterbangan di malam hari, maka 2 hingga 3 hari harus diwaspadai. Berarti sudah ada tanaman yang cocok untuk dijadikan tempat bertelur hingga menetas. Itu merupakan langkah peramalan munculnya ulat bulu. Jika sudah ditemukan seperti itu, langkah penanganan yang bisa diambil adalah dengan sanitasi. Warga kota tidak perlu takut berlebihan dan segera informasikan jika ada serangan ulat bulu, Dinas Pertanian dan Hortikultura Kota Denpasar telah menyiapkan tim pengendali, peralatan, maupun insektisida Ina – Hayam Wuruk : Fenomena baru ulat bulu menyerang Denpasar, bagaimana sebenarnya kemunculan hama ini, dan cara efektif apa untuk penangannya? Ditanggapi oleh Bapak Wayan Suastika populasi ulat bulu suatu saat bisa saja banyak. Itu yang disebut hama dan apalagi jika tidak terkendali. Mungkin ekosistem kita yang tidak seimbang, sehingga rantai makanan menjadi tidak terkendali lagi. Hilangnya predator/pemangsa bisa menjadikan ulat bulu berkembang tidak terkendali. Yang dapat dilakukan untuk mencegah yakni pengamatan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, juga dengan menjaga sanitasi yang baik agar ulat bulu tidak dapat berkembang biak di lingkungan kita. Dina di Denpasar juga juga ikut berinteraktif dan bertanya, “Orang yang suspect Flu burung ciri–cirinya seperti apa? Kemudian masa inkubasi penyakitnya berapa hari? dan penanganannya seperti apa?” Dijawab oleh Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra, “Mereka yang disebut suspect Flu burung adalah yang pernah kontak dengan unggas yang positif Flu burung, pernah ke kandang unggas yang positif Flu burung, atau kontak dengan orang yang positif Flu burung. Kemudian mengalami panas tinggi di atas 38 derajat celcius, pusing, keluar ingus, diare, muntah, serta batuk sesak. Jika ditemukan hal seperti itu maka harus diberi antivirus Tamiflu selama 5 hari sesegera mungkin sebelum lewat dari 48 jam. Dan inkubasinya antara 1 s/d 7 hari, rata-rata 3 hari. Selanjutnya pemaparan dari Ibu Drh.Suri mengenai langkah awal antisipasi dalam menangani rabies yaitu sebenarnya sudah ada Perda Provinsi Tingkat 1 No 15 tahun 2010 yang mengatur agar tidak meliarkan anjing peliharaan, namun pelaksanaanya akan lebih optimal apabila dibuatkan awig-awig melalui Desa Adat. Dari Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra mengatakan sebenarnya untuk populasi ulat bulu yang meningkat saat ini di Kota Denpasar, masih bisa dikendalikan dengan tanpa insektisida melainkan dengan cara tradisional, seperti dikumpulkan dan langsung dibakar atau dengan memakai obor. Keberadaannya pun telah mendapat respon yang cepat dari Bapak Walikota Denpasar, Dinas terkait dan juga dari desa setempat -Namun insektisida tetap disiapkan untuk berjaga-jaga apabila populasi ulat bulu semakin bertambah. Talkshow berakhir dengan tips dan saran dari para narasumber. Ibu Drh.Suri dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar menganjurkan masyarakat agar membawa anjing dan HPR-nya pada saat dilakukan vaksinasi missal, demikian juga pada saat dilakukan eliminasi agar warga mengandangkan HPR-nya dengan baik, karena petugas langsung akan menangkap HPR yang berkeliaran. Bapak Dr.I.B Gede Eka Putra dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar juga menghimbau warga kota agar memelihara dengan HPR dengan baik, tetap waspada dengan HPR peliharaannya, mengandangkan HPR, menjaga sanitasi termasuk mencuci tangan dengan baik dan menjalankan hidup dengan sehat. Kemudian dari Bapak Wayan Suastika SP.M,si dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kota Denpasar menyampaikan agar warga selalu menjaga sanitasi lingkungan dan apabila terdapat hama ulat bulu disekitar warga kota, segera hubungi Dinas Pertanian Tanaman pangan dan hortikultura Kota Denpasar di no Telp.(0361) 721330, dan juga sudah disiapkan brigade pengendalian hama di semua kecamatan di Kota Denpasar. *NRD ##