Menu

TALKSHOW TUMPEK WAYANG

  • Jumat, 06 November 2015
  • 1024x Dilihat

TALKSHOW TUMPEK WAYANG ( 06 Nopember 2015 )

Nara Sumber    : Bpk. Anom Ranuara ( Budayawan )

Host                  : Wisnu

 

 

Saniscara  Kliwon  Wuku Wayang atau yang sering disebut dengan Tumpek Wayang adalah Salah satu Hari Raya Suci Umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Pada hari ini Puja Walinya Sang Hyang Iswara, Hari ini Umat Hindu di Bali menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima - pratima dan wayang, juga kepada semua macam benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti : gong, gender, angklung, kentongan.

Pengertian  Tumpek Wayang adalah  Hari Suci Umat Hindu dimana Hyang Widhi turun sebagai Sang Hyang Iswara sebagai manifestasinya yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan kehidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan.

Makna Tumpek Wayang dari segi filosofi - ritual adalah Upacara yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi dalam manifestainya sebagai Dewa Iswara dengan permohonan berupa keselamatan dan atau kerayuan umat. Dalam prakteknya upacara Tumpek Wayang ini diperuntukkan bagi semua jenis  " Reringgitan " seperti : wayang, arca, tetabuhan.

Sebuah fenomena menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang di anggap keramat yaitu pada waktu Tumpek Wayang. Fenomena tersebut di yakini oleh orang bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah di upacarai lukatan besar yang disebut  "Sapuh Leger". Maksudnya supaya anak yang lahir bertepatan dengan Tumpek Wayang terhindar dari gangguan ( buruan ) Dewa Kala.

Menurut Lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Bethara Siwa memberikan ijin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang  dilahirkan pada wuku wayang. Atas dasar isi lontar tersebut, demi keselamatan anaknya itu, semeton bali  berusaha mengupacarai anaknya   dengan  didahului mementaskan wayang  "Sapuh Leger"  berikut  aparatusnya di persiapkan jauh lebih banyak ( berat ) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Kata Sapuh Leger berasal dari kata Sapuh dan Leger, yang artinya pembersihan dari kekotoran, dan masyarakat lakon ini ditampilkan melalui pertunjukan wayang.  Secara keseluruhan  wayang  Sapuh Leger  adalah  Drama ritual dengan sarana pertunjukan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.