Manusia Memang Tergantung Dari Alam Raya, Sebagai Bagian Dari Alam Semesta Ini, Maka Umat Hindu Bali Sangat Memuja dan Menghormati Alam Semesta Beserta Isinya. Maka Dari itu, Dalam Keyakinan Beragama dan Berketuhanan Umat Hindu Memperingati Hari Tumpek Uduh Sebagai Salah Satu Penghormatan Terhadap Alam Raya Yang Telah Menyediakan Makanan Yang di Konsumsi Oleh Manusia.
Tumpek Uduh,/ Pengatag,/ Bubuh,/ Warige, yang Datang 6 Bulan Sekali Jatuh Pada Saniscara Kliwon Wuku Warige Tepat 25 Hari Sebelum Hari Raya Galungan Adalah Peringatan Turunnya Kekuatan Manifestasi Sang Hyang Widhi Dalam Swabhawanya Sebagai Sang Hyang Sangkara ke Dunia Untuk Menganugrahkan Kesuburan Serta Kemakmuran Alam Semesta Beserta Isinya, Dimana Sang Hyang Sangkara Sebagai Dewa Tumbuh – tumbuhan Baik Yang Berada di Buana Agung Maupun di Bhuana Alit Agar Ekosistem Alam dan Manusianya Dapat Berjalan Secara Harmonis.
Makna Dari Tumpek Uduh Adalah Sebagai Penyupatan Terhadap Tumbuh – tumbuhan Baik Untuk Bhuana Agung Maupun Bhuana Alit, dan Memberikan Kesempatan Kepada Manusia Supaya Bisa Menyambung Hidupnya di Dunia, Untuk Dapat Memperbaiki Karmanya Berdasarkan Pelaksanaan Ajaran “ Tri Hita Karana “
Bebanten Yang di Perlukan Untuk Selamatan Adalah Peras, Tulung Sesayut Tumpeng, Bubur Gendar, Tumpeng Agung, Penyeneng Tetebus, dan Serba Harum – haruman, Lauknya Guling Babi atau Itik.
Dikatakan Tumpek Bubuh Karena Bubuh Merupakan Lambang Kesuburan, Dimana Perayaan Tumpek Landep Memang Dimaksudkan Sebagai Ungkapan Syukur Atas Anugrah Kesuburan Yang Diberikan Ida Sang Hyang Widhi Sehingga Segala Macam Tumbuhan Bisa Tumbuh Dengan Baik Yang Kemudian Menjadi Sumber Kehidupan Utama Bagi Umat Manusia.
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026