Talkshow Tomcat bersama Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kota Denpasar, Selasa 10 April 2012
Belakangan ini sering sekali kita mendengar adanya Tomcat. Pada hari Selasa, 10 April 2012 RPKD 92,6 FM melaksanakan Talkshow dengan topic “Tomcat†Bersama Dinas Pertanian,Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar. Talkshow ini berlangsung selama 60 menit, dipandu Yenni RPKD. Dalam kesempatan ini hadir Bapak I Wayan Suastika yang merupakan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan muda Kota Denpasar.
Diawal talkshow ini Bapak Suatika menjelaskan bahwa tomcat bukan merupakan serangga jenis baru, tomcat sudah dikenal sejak dulu. Keberadaan serangga ini sangat berguna bagi para petani karena tomcat merupakan pemangsa atau predator hama yang menyerang tanaman padi, jagung maupun tebu. Belakangan ini tomcat menjadi buah bibir karena populasinya masuk ke rumah penduduk.
Habitat utama tomcat pada lahan persawahan dan rerumputan yang lembab. Di kota kota besar seperti pertama kali booming di Surabaya karena lahn pertanian yang produktif itu sudah berkurang dan beralih fungsi menjadi pemukiman. Tomcat ini bersifat tertarik pada sinar lampu. Tomcat ini bukan migrasi dari luar kota, tomcat ini sudah ada sejak dulu sebagai bagian rantai kehidupan dari ekosistim tertentu. Tomcat memiliki sayap pendek, namun tidak dapat terbang. Tomcat ini bergerak dengan loncat.
Bapak Suastika menjelaskan bila saja ada tomcat di rumah,jika jumlahnya masih sedikit dapat dibasmi dengan air panas atau sapu lidi atau obor. Namun jika dalam jumlah banyak, dapat dibasmi dengan penyemprotan pestisida nabati yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh – tumbuhan, bukan pestisida yang berasal dari bahan kimia. Pestisida nabati yang sudah dicoba oleh lab fakultas pertanian jurusan hama dan penyakit unud yaitu menggunakan daun nimba atau di Bali dikenal dengan daun intaran. Cara pengolahannya adalah 2 kg daun nimba dicampur dengan 1 kg lengkuas dan 1 kg daun sere di blender kemudian di rebus namun tidak sampai mendidih. Kemudian di dinginkan, lalu dicampur detergen.
Bila tomcat hinggap ditubuh, jangan ditepuk karena cairan tubuh tomcat menggandung racun. Lebih baik ditiup atau di usir dengan cara halus. Bila sudah terkena kulit, dapat di cuci dengan air sabun lalu di periksa ke dokter. Di media masa sempat beredar kabar bahwa racun tomcat 12 kali lebih berbisa dari bisa ular. Namun menurut riset dari bidang hama dan penyakit tanaman bali penelitian tanaman rempah dan obat yang ada di Jati sari Jakarta bahwa itu tidak benar, Tomcat hanya menyebabkan gatal gatal, bila digaruk akan luka seperti tersiram air panas yaitu berwarna merah dan bergelembung. Gejala ini muncul setelah 24 sampai 48 jam setelah terkena cairan tomcat.
Dinas Pertanian,Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar siap 24 jam untuk menerima laporan.
Apabila sudah terdapat populasi tomcat disekitar lingkungan kita dan sulit dikendalikan, segera menghubungi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura kota Denpasar atau Call Center Kota Denpasar. Team Pengendalian Tomcat Kota Denpasar akan segera turun. Team ini siap 24 jam untuk melakukan pengendalian apabila warga tidak mampu mengendalikan secara fisik dan mekanis. Jangan merasa takut dengan tomcat karena tomcat bukan musuh manusia, tetapi musuh hama khususnya hama tanaman padi dan tomcat mampu mengendalikan hama padi hingga 80 %. Masyarakat harus tetap waspada karena dampak fenomena iklim dapat menyebabkan beberapa organisme seperti serangga berubah statusnya bisa mengganggu manusia.
*Nad- Adl