Talkshow Sosialisasi Pencegahan Dan Penanggulangan Demam Berdarah Di Kota Denpasar, Selasa, 19 April 2011
Dalam mengantisipasi kasus demam berdarah di Kota Denpasar sudah banyak yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar. Salah satunya kembali dilaksanakan Talkshow Wacana Praja di studio RPKD 91,45 FM guna mensosialisasikan Pencegahan dan Penanggulangan Demam Berdarah di Kota Denpasar. Hadir sebagai narasumber yakni Bapak dr. Ida Bagus Gede Ekaputra dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Talkshow berlangsung selama 1 jam mulai pukul 09.00 hingga 10.00 wita dipandu oleh Penyiar Yenni.
Talkshow diawali dengan pemaparan seputar Demam Berdarah yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dangue yang ditularkan oleh Nyamuk Aides Agepty yang menjadi salah satu penyakit menular di Dunia, utamanya pada negara-negara berkembang. Demam berdarah di Indonesia muncul pertama kali pada Tahun 1968 di Surabaya, kemudian masuk ke Bali di tahun 1973 di daerah Badung. Penyakit ini belum ditemukan obat dan vaksinnya sampai saat ini, sehingga salah satunya cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terkena penyakit ini adalah dengan melakukan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) yang tentunya dibutuhkan komitmen bersama untuk pelaksanaannya.
Dari perkembangan data di Dinas Kesehatan, 4 Kecamatan di Kota Denpasar merupakan daerah endemis, yaitu dalam 3 tahun terakhir rata-rata setiap tahun selalu ada kasus Demam berdarah yang mengalami kenaikan dan bersiklus, yang biasanya meningkat pada bulan Mei, setelah itu akan mengalami penurunan pada bulan Juni- Oktober, dan akan meningkat kembali pada bulan November. Namun terkait dengan cuaca yang tidak menentu, tentunya diperlukan kewaspadaan terhadap demam berdarah setiap saat karena siklusnya juga tidak dapat diprediksi.
Dijelaskan juga tanda-tanda / gejala dari seseorang yang terserang virus Dangue yaitu panas badan yang tinggi sekitar 2-7 hari setelah terkena gigitan, gejala lemah, pusing, pegal-pegal, mual dan pada gejala yang klasik biasanya muncul bintik-bintik pendarahan pada bagian bawah kulit, sering nyeri ulu hati, dan bisa berlanjut sering buang air besar, mimisan dan apabila terlambat mendapat penanganan, penderita bisa pingsan sampai berakibat kematian. Sehubungan dengan mutasi virus yang berubah-ubah, gejala klasik pada demam berdarah terkadang tidak ditemui pada penderita, sehingga perlu lebih dicermati pada saat penurunan panas badan yang biasanya terjadi pada hari ke-3 (sebenarnya merupakan fase yang berbahaya), yang memungkinkan terjadinya pingsan pada fase pertama. Pada Hari ke-6, yaitu setelah melewati pingsan pertama, biasanya panas badan akan meningkat lagi, dan kembali memungkinkan terjadinya pingsan kedua, pada fase ini apabila lambat dilakukan pertolongan, dapat berakibat penderita meninggal. Oleh karena itu diperlukan kesadaran masyarakat dan kewaspadaan di musim – musim demam berdarah terhadap panas yang tidak jelas sebabnya, segeralah periksa ke fasilitas kesehatan setempat.
Jika timbul gejawa awal demam berdarah, pertama yang harus dilakukan adalah beri minum si penderita berupa air putih, teh, ataupun susu. Jika masih panas ringan bisa dikompres air hangat di dahi serta diberi obat penurun panas. Setelah itu, segeralah bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. “Jangan senang dulu bila hari ke-3 panas turun karena bisa saja di hari ke-5 atau ke-6 panas kembali tinggi, amannya pada hari ke-8 tidak panas kembali baru bisa dikatakan normal,†demikian dijelaskan oleh dr. Ida Bagus Gede Ekaputra
Untuk di Kota Denpasar, masyarakat yang rentan diserang demam berdarah tidak hanya anak – anak namun juga dewasa dengan rentang usia antara15 – 44 tahun. Penularan demam berdarah yakni melalui gigitan nyamuk demam berdarah Aides Agepty. Orang yang kena Demam Berdarah minimal 2 kali digigit nyamuk Aides Agepty. Ada 4 tipe virus demam berdarah. Jika seseorang digigit oleh tipe 1 dan seminggu kemudian digigit lagi dengan tipe yang sama maka orang tersebut akan kebal, tidak timbul demam berdarah, hanya demam biasa saja. Namun, jika setelah digigit tipe 1 dan seminggu kemudian digigit dengan tipe lainnya, inilah yang menyebabkan demam berdarah. Tipe yang paling parah adalah tipe 3 yang perlu penanganan cepat. Nyamuk yang lebih sering menggigit adalah nyamuk betina dengan sifat menggigit berulang – ulang. Waktu menggigit yang disukai nyamuk Aides Agepty adalah pada saat ada sinar matahari,puncaknya yakni pada pagi (jam8 – jam10) dan sore (jam3 – jam5). Nyamuk betina Aides Agepty dapat bertahan hidup antara 2 minggu hingga 3 bulan. Adapun ciri – ciri nyamuk Aides Agepty, yakni berwarna hitam dengan belang putih, suka menggit berulang – ulang, tinggal di tempat yang lembab dengan sedikit cahaya juga di pohon yang rimbun, barang – barang yang bergantungan, serta pada barang – barang bekas. Namun, nyamuk ini suka berteluh di air yang bersih, yang biasanya alasnya bukan dari tanah seperti botol, kaleng, vas, lain sebagainya.
Untuk pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan memberantas sarang nyamuk melalui PSN DBD (Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dangue) secara berkelanjutan minimal seminggu sekali. Karena perkembangan nyamuk dari telur adalah sekitar 9 hari hingga 11 hari. Sekali bertelur, nyamuk dapat menghasilkan 200 butir,jika dibiarkan maka akan menghasilkan begitu banyak nyamuk. Cara pelaksanaan PSN DBD yakni dengan 3M + (Menutup, menguras, mengubur barang bekas yang bisa menampung air, ditambah dengan memelihara ikan atau memasang kasa nyamuk di fentilasi). Dalam keadaan kering (bukan di air) telur nyamuk dapat bertahan hidup 6 bulan, begitu mendapatkan air, dalam waktu 2 hari telur dapat menetas. Untuk pencegahan juga dapat dilakukan dengan menggunakan obat nyamuk lotion terutama jika berada di tempat yang banyak terjadi kasus demam berdarah.
Turut serta berinteraktif melalui 244444 yakni ibu Sri di Kuta, yang bertanya, “Anak saya pernah tidak panas tapi ngilu di tulang dan pusing, selanjutnya muncul bintik merah di kulit. Setelah di cek ke dokter ternyata DB. Sepertinya gejala anak saya tidak umum. Apakah ini sering terjadi? Lalu apa bedanya DB dengan Chikungunya?†Dijawab oleh dr. Ida Bagus Gede Ekaputra, bahwa gejala DB bisa berubah sesuai dengan mutasi virus DB sehingga gejalanya tidak hanya bersifat klasik dengan mengalami demam terlebih dahulu. Bedanya dengan Chikungunya adalah DB lebih cepat menimbulkan kematian, sedangkan Chikungunya lebih banyak menyerang sendi serta otot penyangga tubuh sehingga menimbulkan ngilu hamper seperti lumpuh. Chikungunya juga belum ditemukan obatnya namun bisa disembuhkan dengan memberikan analgesik.
Beberapa informasi terbaru, tanaman Liligundi, Lavender, dan Sereh ternyata tidak disukai nyamuk. Dianjurkan kepada masyarakat untuk menanam tumbuhan tersebut. Sedangkan Fogging juga diperlukan namun harus pada saat yang tepat karena Fogging bukan obat tapi merupakan racun. Fogging focus yang dilaksanakan pemerintah kota Denpasar adalah jika adanya laporan masyarakat yang terserang DB. Tim fogging/Jumatik akan turun ke lapangan untuk mengecek sebelum melakukan Fogging. Fogging hanya dapat membunuh nyamuk dewasa dan efeknya hanya 2 hingga 3 hari. Sehingga fogging tidak akan berhasil tanpa adanya PSN dari masyarakat.
-dyt-