Menu

Talkshow Sejarah Mitologi Galungan

  • Jumat, 10 Juli 2015
  • 2102x Dilihat

Perayaan  Hari  Raya Galungan Pertama  Adalah Pada Hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan Sasih Kapat Tanggal 15 ( Purnama ) Tahun 804 Saka, Keadaan Pulau Bali Bagaikan Indra Loka. Mulai  Tahun Saka Inilah Hari Raya Galungan Terus Dilaksanakan, Kemudian Tiba - tiba Galungan Berhenti Dirayakan Entah Dasar Apa Pertimbangannya, Itu Terjadi pada Tahun 1103 Saka. Saat Raja Sri Eka Jaya Memegang Tampuk Pemerintahan Sampai Dengan Pemerintahan Raja Sri Dhanadi Tahun 1126 Saka Galungan Tidak Dirayakan. dan Akhirnya Galungan Baru Dirayakan Kembali Pada Saat Raja Sri Jaya Kasanu Memerintah, Raja  Merasa Heran Kenapa Raja dan Para Pejabat  yang Memerintah Sebelumnya Berumur Pendek. Untuk Mengetahui Sebabnya Beliau Bersemedi dan Mendapat Pewisik dari Dewi Durgha Agar Galungan Dirayakan Kembali Sesuai dengan Tradisi yang Berlaku dan Memasang Penjor.

Adapun Makna filosofi Hari Galungan adalah Untuk Merayakan Kemenangan Dharma  Melawan Adharma  dan Menghaturkan Rasa Terimakasih dan Angayubagia ke Hadapan Ida Sang Hyang Widhi, atas Terciptanya Dunia serta Segala Isinya dan Atas Karunia yang Telah Dilimpahkan. Menurut Lontar Sundarigama Menyebutkan pada Buda Kliwon Wuku Dungulan Disebut Hari Raya Galungan, Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa Apabila Galungan Jatuh pada Bulan Purnama Disebut Galungan Nadi, Umat Hindu Melaksanakan Tingkatan Upacara yang Lebih Utama. Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala Mengenai Galungan Naramangsa disebutkan Apabila Galungan Jatuh pada Tilem Kapitu dan Sasih Kesanga.

Pada Hari Raya Galungan ada Tradisi Membuat Penjor yang Merupakan Simbol dari Gunung Sekaligus Simbol dari Keberadaan Para Dewa. Penjor Berbentuk Seperti Umbul - umbul, dengan Bahan Tiang dari Bambu dan Hiasan Utama Janur, Padi, Kelapa, Buah serta Hasil - hasil Bumi lainnya. Ini Sebagai Simbol Bahwa Semua Hasil Bumi yang kita Nikmati Berasal dari Tuhan yang Biasanya Dibuat Sebelum Galungan.