Menu

TALKSHOW RANGKAIAN KUNINGAN

  • Selasa, 13 September 2016
  • 1502x Dilihat

TALKSHOW RANGKAIAN  KUNINGAN

HARI & TGL          :  SELASA, 13 SEPTEMBER 2016

PUKUL                  :  09.00 – 10.00 wita

NARASUMBER    :  COKORDA PUTRA WISNU WARDANA  (FTPL AGAMA HINDU KOTA DENPASAR)

PENYIAR              : TANTRI ADEL

 

Hari Raya Kuningan merupakan  salah satu rangkaian  dari Hari Raya Galungan  dalam Agama Hindu ,  yang jatuh pada 10 hari setelah Galungan, yaitu pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan. Kata Kuningan memiliki makna “Kuning”  yang merupakan simbul kemakmuran. Makna lain dari Kuningan adalah  “kauningan”  atau kepandaian/ kepradnyanan yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya. Rangkaian Hari Suci Galungan dan Kuningan cukup panjang yang dimulai dari Tumpek Wariga yag jatuhnya tepat 25 hari sebelum Perayaan Galungan, sementara batas akhir ragkaian Perayaan Galungan jatuhnya pada Budha Kliwon Paang.  Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian pemedalan jagat yang merupakan kesempatan untuk Sarwa Dewata, Dewa Dewi Bhatara Bhatari turun ke Bumi.

Sebelum memasuki perayaan Hari Suci Kuningan setelah umat Hindu merayakan  Galungan  ada beberapa rangkaian upacara yang dilalui diantaranya :

·         Pemaridan Guru (Saniscara Pon Wuku Dunggulan), pada hari ini Umat Hindu berupaya  meningkatkan kesucian diri melalui penglukatan (Asuci Laksana).  Dan pada hari ini juga dilakukan kegiatan nyurud salah satu persembahan dalam upakara utama  yang dihaturkan saat Galungan yaitu Tumpeng Guru.

·         Ulihan (Redite Wage Wuku Kuningan) memiliki makna Para Leluhur/ Dewata kembali ke stananya. Saat haru Ulihan  ini sesajen yang dihaturkan  dilambangkan sebagai perbekalan perjalanan beliau menuju stananya seperti ketipat beras dan rempah – rempah.

·         Pemacekan Agung (Soma Kliwon Wuku Kuningan)  pada hari ini umat melakukan persembahan Bhuta Yadnya berupa Segehan Agung  agar tidak diganggu oleh Bhuta Galungan.

·         Budha paing Kuningan pada hari ini dilakukan pemujaan kepada Dewa Wisnu sebagai Dewa pemelihara melalui paibon sesuai dengan Desa,  Kala Patra.

·         Penampahan kuningan,  hari ini digunakan untuk mempersiapkan sarana – sarana yang digunakan untuk Hari Suci Kuningan.

 

 

Pada Hari Raya Kuningan umat Hindu melakukan persembahan  yang  ditujukan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa  sebelum matahari tepat berada diatas ubun – ubun  (sebelum pukul 12.00 wita)  dengan berbagai piranti  yang sarat makna  seperti  Tamiang, Endongan,  Selanggi, Tebog,  Kolem,  Wayang – Wayangan dan Ter. Piranti –  piranti yang digunakan ini menyimbulkan bagaimana manusia harus merefleksikan kehidupannya  sehari – hari. Adapun makna dari masing – masing piranti yang digunakan adalah sebagai berikut :

 

 

·         Tamiang sebagai lambang perisai diri atau  perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam. Manusia diharapkan mampu membentengi diri untuk senantiasa mempertahankan kesucian dan melindungi diri dari pengaruh negaif.

·         Selanggi berupa wadah yang bentuknya menyerupai bunga yang sedang mekar yang didalamnya berisikan nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Selanggi atau sulanggi berarti teladan atau contoh, yang melambangkan kebahagian hidup manusia apabila , mampu menjadi teladan bagi orang lain.

·         Tebog hamper mirip dengan selanggi terbuat dari ron yang berisikan nasi kuning dan lauk pauknya yang melambangkan keadilan. Hal ini melambangkan dalam melakukan ritual tak terpaku pada kepentingan diri sendiri akan tetapi bagaimana manusia bisa sejahtera dalam kehidupan bersama seperti istilah selunglung sebayantaka.

·         Endongan yang berbentuk seperti tas yang maknanya adalah perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti. Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran.

·         Kolem yang berarti tidur atau istirahat melambangkan pengendalian hawa nafsu dalam diri sendiri (Sad Ripu).

·         Wayang – Wayangan  yang melambangkan bayangan dan roh leluhuryang turun ke dunia yang menyaksikan dan menerima sembah bakti kita.

·         Ter adalah simbol senjata tajam  (ketajaman pikiran) karena bentuknya memang menyerupai panah.

 

Sementara Nasi kuning yang kita haturkan merupakan simbul kemakmuran sandang pangan dan papan dalam hidup. (del)