Hari/Tanggal : Senin, 10 Oktober 2016
Narasumber : Made Arsa Wiguna (Dosen IHDN Fakultas Dharma Acarya)
Rainan Pegat Uwakan merupakan nama lain dari hari Buda Kliwon Pahang. Rainan ini jatuh pada hari Rabu (Buda), wara kliwon, wuku Pahang atau 35 hari setelah hari raya Galungan. Secara Etimologi, Pegat Uwakan berasal dari dua kata, yaitu : Pegat yang berarti putus, dan Uwakan yang berarti sabda/suara, sehingga dapat disimpulkan rainan Pegat Uwakan merupakan batas berakhirnya tapa brata/yoga semadi yang dimulai dari Sugian Jawa hingga Rainan Pegat Uwakan.
Rainan Pegat Uwakan biasanya ditandai dengan pencabutan penjor,dan segala hiasan seperti lamak dan tamiang yang dikumpulkan menjadi satu kemudian dibakar dan abu hasil pembakaran dimasukkan ke dalam buah kelapa gading (kasturi) setelah itu ditanamkan di sebelah kanan pekarangan rumah atau ditanamkan di lubang tempat pemasangan penjor sebelumnya, 0dengan mengaturkan banten pembersihan (pratista), sadayalusa, penyeneng, dan tetebus kemudian ditatap.
Sebagaimana yang tertuang dalam lontar Sundarigama, bahwa umat Hindu pantang melaksanakan upacara termasuk upacara manusia yadnya dan upacara lainnya sepanjang Sugian Jawa hingga rainan Pegat Uwakan, pantangan ini sering disebut dengan Nguncal Balung karena saat itu dianggap sebagai dewasa yang kurang baik untuk melaksanakan upacara. Setelah lewat rainan Pegat Uwakan, barulah umat Hindu boleh melaksanakan nibakang padewasan (penentuan hari baik) untuk pelaksanaan upacara agama* (M.A.K).
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026