TALKSHOW PENGARUSUTAMAAN GENDER MENUJU KELUARGA SEJAHTERA BERSAMA LK3
TALKSHOW PENGARUSUTAMAAN GENDER MENUJU KELUARGA SEJAHTERA BERSAMA LK3
Keluarga sejahtera adalah impian setiap manusia karena merupakan suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan fisik, psikis, spriritual maupun sosial serta adanya pembagian kerja antara lelaki dan perempuan yang diperlakukan adil dan setara. Namun, kondisi ini sering kali tidak terwujud dengan mudah karena berbagai masalah keluarga, yang salah satunya adalah masalah gender. Untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi permasalahan gender dalam keluarga tersebut, LK3 berusaha memaparkan strategi “Pengarusutamaan Gender Menuju Keluarga Sejahtera†dalam talkshow yang berlangsung di hari Sabtu, 14 mei 2011. Talkshow berlangsung selama 1 jam dipandu oleh penyiar Dyta dengan menghadirkan 3 orang narasumber yakni : Bapak Drs. I Made Djueta, Ibu Komang Sri Supadmi, dan Wahyu Dewanto, Psi.
“Gender merupakan perbedaan sosial antara laki – laki dan perempuan dalam masyarakatâ€, demikian dijelaskan oleh bapak Made. Peran gender merupakan kegiatan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh laki – laki maupun perempuan. Misalnya anak laki – laki membantu ayah mencari nafkah dan anak perempuan membantu ibu bekerja di rumah. Peran gender walaupun terikat nilai – nilai tertentu, dapat berubah dari waktu ke waktu seiring perubahan masyarakat. Dalam kehidupan modern seperti ini sering kita jumpai laki – laki yang mengurus anak dan kaum ibu yang berkarier.
Dijelaskan oleh ibu Komang, kesetaraan mutlak diperlukan untuk mencapai kesejahteraan keluarga terutama di kehidupan modern ini. Kesetaraan gender merupakan suatu keadaan dimana perempuan dan laki – laki menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak asazi dan potensinya bagi keutuhan dan kelangsungan rumah tangga secara proporsional, hal ini tercantum dalam UU No. 23 tahun 2004 pasal 3 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Turut serta berinteraktif melalui telepon 244444 yakni ibu Mas yang bertanya “Dalam pekerjaan sering saya temui adanya halangan untuk mewujudkan kesetaraan gender, bagaimana menyikapinya?†dijawab olehWahyu Dewanto bahwa hal ini terjadi karena pengaruh budaya. Utamanya di Indonesia sering kali wanita tidak dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi karena masyarakat menilai wanita terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga sehingga tidak dapat mengerjakan pekerjaan kantor. Padahal tidak sedikit wanita yang sukses mengurus rumah tangga juga sukses dalam karier. Agar kesetaraan gender tercapai, tentu perlunya kesadaran segala pihak untuk mewujudkannya. Ditambahkan oleh Ibu Komang bahwa saat ini banyak sekali pekerjaan laki – laki yang dapat juga dikerjaan oleh kaum perempuan. Seperti menjadi petugas parkir, penjaga SPBU, bahwakn tukang ojek. Ini merupakan bentuk kesetaraan gender tanpa merendahkan perempuan. Jika mau mengengok kembali ke belakang, perempuan juga terbiasa mengambil pekerjaan berat seperti mengangkat batu, mengangkat pasir, dan lain sebagainya yang sering terjadi di desa atau daerah pinggiran. “Tentu itu merupakan bukti bahwa perempuan tidak hanya bisa mengerjaan pekerjaan yang halus dan lembut saja namun juga memiliki kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan kasar, ya bisa dibilang begitu,†kata Ibu Komang menjelaskan.
Dalam keluarga yang berwawasan gender, semua anggota keluarga dapat berbagi beban kerja secara setara dan adil. Demi tercapainya relasi gender yang baik dalam keluarga, hendaknya semua anggota keluarga berlaku adil, saling menghargai, saling terbuka dan memegang kesepakatan. Niscaya dengan menerapkan hal tersebut maka keluarga sejahtera dapat dicapai.
-dyt-