Menu

Talkshow mengenai Tumpek Wayang Bersama Prof. Dr Made Surada, M.A

  • Jumat, 28 Juli 2017
  • 4846x Dilihat
Tumpek Wayang merupakan hari yang istimewa. Karena memiliki kekhususan yaitu pertemuan dari waktu – waktu yang transisi yaitu Saniscara Kajeng Keliwon Wayang. Dari unsur sapta wara, saniscara merupakan hitungan terakhir demikian pula halnya Kajeng (dari unsur tri wara) dan Keliwon (dari unsur panca wara), Wayang dikatakan sebagai unsur waktu yang transisi karena diantara enam tumpek yang ada dalam rangkaian Wariga merupakan tumpek terakhir yang ada di Wuku Wayang.
Tumpek Wayang memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Iswara, Dewanya kesenian (Suara). Dalam pelaksanaan Tumpek wayang ini diaplikasikan dengan pemuliaan terhadap unsur seni seperti wayang, gong, gender, dan lainnya. Tumpek wayang ini sangat diyakini sebagai pemuliaan terhadap taksu atau ketajaman jiwa dari keindahan seni. Selama ini banyak umat yang berfikiran bahwa tumpek wayang dispesialkan bagi para dalang yang aktivitasnya tersentuh langsung dengan pagelaran wayang. Sesungguhnya pola pikir ini salah sebab secara filosofis wayang yang dimaksud adalah diri kita sendiri, melakoni daivi sampad dan asuri sampad sama layaknya pagelaran wayang yaitu melakoni segala peran dalam menjalani kehidupan.
Seseorang yang lahir pada tumpek wayang lazimnya melakukan upacara peruwatan Sapuh leger sebab diyakini akan adanya kekeramatan hari tersebut. Hal ini dikaitkan dengan mithologi Sang Kala yang hendak memangsa Sang Hyang Kumara. Prof. Dr. Made Surada, M.A dalam talkshow bersama 92,6 Fm Radio Publik Kota Denpasar menjelaskan dalam konteks kekinian Sang Kala yang sosoknya diilustrasikan dengan rupa menyeramkan, ganas dan siap memangsa siapa saja ini merupakan sang waktu. Bila kita lalai dan menyalahgunakan waktu maka akan menemui bencana, sehingga siapapun yang tidak bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya akan megalami penyesalan dikemudian hari (erd).