Tema : Makna Filosofi Hari Raya Siwaratri
Narasumber : Cokorda Wisnu Wardana
Forum Tenaga Penyuluh Lapangan Agama Hindu
Kota Denpasar
Penyiar : Ratna
Siwa ratri diartikan sebagai malam Siwa karena pada hari tersebut Tuhan dalam manifestasi Sag Hyang Siwa beryoga. Hari Siwa ratri ini jatuh pada purwaning tilem kapitu untuk memohon pengampunan atas dosa yang manusia perbuat pada malam peleburan dosa dengan brata – brata yang dilaksanakan. Di Bali, Siwaratri dikaitkan dengan cerita lubdaka yang dikarang oleh Mpu Tanakung yang mengisahkan seorang pemburu yang tentunya gemar membunuh binatang. Pada suatu ketika tepat di puwani tilem kapitu pergi kehutan untuk memburu namun hingga larut malam tidak memperoleh buruan. Kemudian bermalamlah ia di hutan, karena takut dengan harimau maka dia naik kepohon, bergadang dengan memetik daun bila. Tanpa disadarinya ada lingga pemujaan Siwa di bawah pohon tersebut yang terkena petikan – petikan daun bila. Keesokan harinya ia pulang dan singkat cerita ia sakit keras dan meninggal dunia yang kemudian atmanya kebingungan karena atmanya di rebut oleh Dewa Siwa dan Dewa Yama. Karena taat akan brata Siwaratri maka ia masuk ke alam Siwa loka.
Secara filosofi lubdaka merupakan penggambaran manusia yang tidak pernah puas dengan keadaaan dirinya. Yang ia bunuh adalah sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya maka ia melakukan perenungan dala;m dirinya dengan monobrata, upawasa dan jagra. Daun bila yag dipetik dan menjatuhkannya itu adalah butir genitri yang 108 itulah samadi lubdaka yang memperoleh hasil yaitu ketenangan, kebahagiaan hidup. Dalam melaksanakan brata Siwaratri ada tiga tingkatan yang bisa dilakukan oleh umat Hindu yang meliputi tingkatan Utama, Madhya dan Nista. Untuk tingkat Utama brata yang dilaksanakan adalah monobrata (pendendalian diri dalam berbicara), Upawasa (pengendalian diri dalam hal makanan) dan jagra (begadang, dalam kondisi sadar). Untuk pelaksanaan brata Siwa Ratri tingkatan Madhya cukup melakukan dua brata yakni upawasa dan jagra. Sedangkan untuk pelaksanaan tingkat nista yang wajib dilakukan saat Hari suci Siwaratri adalah jagra atau begadang. Jagra atau begadang dilakukan selama 36 jam. Lain halnya bagi yang melakukan monobrata dan upawasa berlaku 24 jam yang dilaksanakan saat purwani tilem kapitu mulai terbit matahari hingga besoknya di tilem kapitu saat matahari terbit kembali.
Pelaksanaan hari suci Siwaratri dengan perenungan yang disertai pengendalian diri, berbicara yang baik, tidak makan dan minum dan melakukan semadi japa berulang-ulang. Hari suci Siwaratri bisa diisi dengan acara kerohanian misalnya membaca kitab suci weda, mendalami ajaran agama mengadakan malam sastra dan lain lain.
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026