Menu

Talkshow Hari Raya Siwaratri dgn tema Malam Siwa, malam peleburan dosa dalam sastra Hindu

  • Selasa, 24 Januari 2017
  • 2742x Dilihat

Narasumber: Bapak Dr. I Made Adi Surya Pradnya (tokoh agama)

Selasa, 24 Januari 2017

Host: Wahyuni

Pelaksanaan Hari Raya Siwaratri bermakna malam perenungan dosa, dengan tujuan tercapainya kesadaran diri. Siwaratri merupakan simbolisasi dan aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual guna tercapainya ‘penyatuan’ Siwa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman. Serta disampaikan juga Siwaratri yang berasal dari kata "Siwa" yang berarti baik hati,suka memanfaatkan, memberi harapan, membahagiakan, dan diartikan sebagai sebuah gelar atau nama dalam bahasa sansekerta. Sedangkan kata "Ratri"artinya malam dan dapat diartikan kegelapan. Jadi Siwaratri itu dapat di artikan sebagai malam pemerilina atau pelebur kegelapan dalam diri dan hati menuju jalan yang lebih terang.

Brata Siwaratri dilaksanakan sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering disebut prawaning tilem kapitu dengan tiga jenis brata, yaitu :

1. Upawasa berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti puasa tidak makan-minum. Tujuan dari upawasa adalah untuk merubah susunan energi tubuh halus kita, agar tubuh halus kita ibaratnya bisa menjadi "wadah penampung", yang dapat menampung energi suci karunia Ista Dewata.

2. Mona berasal dari bahasa sansekerta “Mauna”, yang memiliki arti tidak berbicara, atau tidak mengucapkan kata-kata. Tujuan dari mona adalah untuk merubah kondisi pikiran kita, agar pikiran kita lebih jernih, yang dapat membuat kita lebih mudah terhubung dengan Ista Dewata atau terhubung dengan keheningan di dalam diri.

3. Tan Mrema [jagra].- / Dalam buku suci Shiwaratri Kalpa, Tan Mrema juga disebut “Tan Aturu Atanghi”, yang memiliki arti tidak tidur, tetap terjaga, atau bergadang. Tan Mrema umumnya lebih dikenal dengan istilah Jagra. Makna lebih mendalam dari Jagra adalah fokus [tetap terjaga] pada rasa bhakti yang mendalam kepada Dewa Shiwa. Serta  Brata Shiwaratri itu hendaknya disesuaikan dengan kemampuan, situasi dan kondisi kita masing-masing.

Ada 3 tingkatan dalam melaksanakan brata Siwaratri, diantaranya 1) Utama - Upawasa, Mona dan Jagra. 2) Madya - Mona dan Jagra / atau Upawasa dan Jagra. 3) Nista - Jagra. Serta jangka waktu pelaksanaan Brata Shiwaratri dilaksanakan mulai pagi hari saat matahari terbit dan berakhir pada saat matahari terbit berikutnya [selama 24 jam]. Tingkatan Brata Shiwaratri manapun yang kita pilih [sesuai dengan kemampuan, situasi dan kondisi kita masing-masing], ketika melaksanakan Brata Shiwaratri penting untuk diperhatikan, bahwa hendaknya selama periode 24 jam dapat  melaksanakan beberapah hal diantaranya:

1. Memfokuskan diri kepada rasa bhakti yang mendalam kepada Dewa Shiwa. Seperti misalnya sebanyak mungkin melakukan penjapaan mantra Dewa Shiwa [“Om Namah Shivaya”] secara manasika japa [diucapkan di dalam hati], atau tekun melakukan meditasi advaitta-citta [meditasi non-dualitas], yaitu meditasi keheningan, sebagaimana ajaran rahasia Dewa Shiwa dalam buku-buku suci Shiwa Tantra, atau tekun melakukan pelayanan dan kebaikan kepada mahluk lain, sebagaimana dalam ajaran suci Shiwa Tantra disebutkan bahwa salah satu arti kata "Shiwa" adalah belas kasih agung.

2. Memfokuskan diri kepada perenungan ajaran suci dharma. Seperti misalnya membaca buku-buku suci, mendengarkan dharma wacana seorang Guru Suci, dsb-nya. Jangan fokus kita teralihkan kepada kesenangan duniawi seperti misalnya main game, bergossip, pacaran, merayu lawan jenis, dsb-nya.

3. Menahan diri dari segala perbuatan yang melanggar dharma. Jangan menyakiti, jangan mencuri, jangan menipu, dsb-nya.

4. Menahan diri dari segala perkataan yang melanggar dharma. Jangan ngomel-ngomel, jangan marah atau memaki, jangan menjelekkan orang lain, jangan merendahkan orang lain, jangan menghina, dsb-nya.

 Setelah matahari terbit keesokan harinya, Brata Shiwaratri sudah berakhir dan hendaknya kita lanjutkan dengan sadhana Tilem sasih Kapitu sebagai penutup keseluruhan Brata Shiwaratri. Disampaikan juga harapan dari Bapak Dr. I Made Adi Surya Pradnya terhadap kaum remaja, agar tidak menyalah artikan makna dan pelaksanaan dari Malam Siwaratri . (why)