Menu

TALKSHOW BERSAMA YAYASAN KERTI PRAJA

  • Sabtu, 19 Juli 2014
  • 1797x Dilihat

TALKSHOW BERSAMA YAYASAN KERTI PRAJA

Jumat, 18 Juli 2014

Host : Bambang Hariadi

 

Memandikan Jenasah Orang Yang Meninggal Karena HIV/AIDS

 

1.       Kenapa Topik ini Penting ?

a.       Dalam Kehidupan Masyarakat  Hindu Bali ada perlakuan khusus terhadap Jenasah à  Upacara Pitra Yadnya ànyiramang layon (memandikan jenasah)

b.      Saat memandikan jenasah àbanyak orang yang terlibat dan berpartisipasi aktif sepertikeluarga dan  warga banjaràbersentuhan dengan jenasah.

c.       Kalau jenasah itu ODHA àBelum semua masyarakat paham tentang penularan HIV/AIDS dari satu orang ke orang lain àmuncul ketakutan untuk memandikan jenasah ODHA à atas kenyataan ini maka dipandang perlu disusun tata cara nyiraman layon/ jenazah Odha sebagai acuan dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya bagi Odha yang meninggal agar prosesnya berjalan baik dan lancar dari segi agama maupun kesehatan.

 

2.       Perlengkapan pemandian jenasah:

ü  Sabun antiseptik

ü  Kapas

ü  Formalin 4 %

ü  Alat suntik

ü  Cairam hypoclorite (zat pemutih pakaian )

ü  Plester kedap air

ü  Sarung tangan

ü  Masker

ü  Celemek/scout plastik

ü  Gayung/cedok

ü  Ember

 

3.       Prosedur memandikan jenasah dengan prinsip-prinsip kesehatan :

a.       Proses memandikan jenazah sebaiknya dilakukan minimal 4 jam setelah meninggal àagar sel-sel pada tubuh jenazah tersebut sudah mati (kematian seluler) , sehingga virus-virus berbahaya yang ada pada tubuh jenasah tersebut sudah mati.

b.      Orang yang akan memandikan jenasah harus dalam keadaan sehat dan tidak ada luka dikulitnya. Harus memakai perlengkapan seperti masker, sarung tangan, dan celemek atau schot plastik àbertujuan untuk menghindari cipratan cairan dari jenasah.

c.       Semualubang tubuh ditutup dengan kapas yang telah dibasahi dengan natrium hipoklorida (zat pemutih pakaian) 0, 5 %. Kadar ini didapat dengan mencampurkan cairan Natrium Hypochlorite (zat pemutih pakaian ) dengan air . Perbandingan  1 : 10 . Hal ini bertujuan untuk menghindari dan membunuh virus yang keluar  lewat cairan dari lubang-lubang pada tubuh jenazah tersebut.

d.      Plester kedap air digunakan untuk menutup bila terdapat luka atau bekas infus pada tubuh jenazah.

e.      Proses selanjutnya menyuntikan formalin 4 % untuk mengawetkan jenazah.  Formalin disuntikkan pada pembuluh darah / vena, yang mana pembuluh darah terbesar pada manusia terdapat di paha bagian dalam.

f.        Selanjutnya memandikan jenasahwawu lapus, dilakukan dengan menggunakansabun antiseptik  dan  air yang telah dicampur dengan cairan natrium hypochlorite (zat pemutih pakaian ) dengan perbandingan 1: 10 ( 1 liter hypoclorite dicampurkan dengan 10 liter air).

g.       Bagi orang yang akan memandikan jenasah saat nyiramang layon, gunakan sarung tangan steril untuk menghindari kontak langsung dengan tubuh jenasah. Hal ini dilakukan untuk menghindari virus ataupun kuman berbahaya pada jenasah  masuk ke tubuh orang yang memandikan bila ada luka pada tubuh orang yang memandikan.

h.      Memandikan jenasah dilaksanakan dengan menggunakan sabun antiseptik dan air yang telah dicampur natrium hypochlorite.

i.         Selanjutnya proses pemandian jenasah dilakukan sesuai dengan tradisi adat setempat dengan tetap memperhatikan tata cara memandikan jenasah dengan prinsip kesehatan.

j.        Setelah proses memandikan jenasah selesai dilaksanakan, pelaksana harus mencuci tangannya sebersih mungkin dengan menggunakan sabun antiseptik.

 

Stop diskriminasi dan laksanakan upacara kematian serta perlakukan jenasah ODHA sama sebagaimana terhadap jenazah bukan ODHA.