Menu

TALKSHOW BERSAMA RS WANGAYA DENPASAR

  • Sabtu, 20 Agustus 2011
  • 1512x Dilihat
Setiap manusia perlu udara untuk bernafas dan sangat terkait dengan kesehatan. Tidak hanya kualitas udara yang menentukan tingkat kesehatan kita. Namun, kualitas alat pernafasan kita pun tak kalah pentingnya. Alat pernafasan manusia yang utama tentu paru – paru. Udara yang tak sehat jika terhirup dapat mengurangi kualitas paru – paru kita sehingga terjadilah gangguan paru – paru. Maka dari itu RPKD FM bersama RS Wangaya Denpasar melaksanakan talkshow kesehatan yang membahas mengenai gangguan paru – paru “Tuberkulosis / TB DOT“ pada hari Kamis, 19 Agustus 2011. Hadir sebagai narasumber adalah dokter Ida Bagus Suta yang merupakan spesialis Paru di RS Wangaya Denpasar. Talkshow berlangsung selama 1 jam dipandu oleh Penyiar Krisna. Dokter Suta sebagai seorang spesialis paru menjelaskan, Tuberkulosis merupakan penyakit menular, bukan penyakit keturunan, dan juga bukan merupakan penyakit yang dibuat orang melalui guna – guna. “Tuberculosis disebabkan oleh kuman Tuberkulosis yang ditemukan oleh Robert Koh. Penyakit tuberculosis disebarkan melalui udara pada umumnya. Penderita tuberculosis akan batuk dan mengeluarkan dahak, nah, hal inilah yang dihirup oleh orang disekitarnya yang bisa ikut tertular. Tidak selalu kuman yang terhirup menimbulkan penyakit, jika kekebalan manusia menurun barulah orang tersebut tertular. Jadi, sangat tergantung sekali dengan kekebalan tubuh manusia,” demikian dijelaskan oleh dokter Suta. Penderita tuberkulosis jangan lagi dikucilkan, karena setelah 2 minggu dilakukan pengobatan, virus dan kumannya akan mati. Jadi kita harus mengenali penderita tuberkulosis melalui gejalanya yakni : batuk lebih dari 2 minggu dengan dahak, nyeri dada, sesak nafas. Sering kali penderita merasakan batuknya biasa saja apalagi bagi perokok. Sebenarnya tidak ada batuk yang biasa. Sering orang beranggapan batuknya tidak mengganggu sehingga bila muncul batuk berdarah bukan hanya berdahak barulah mereka cemas. Padahal hal seperti itu tidak perlu terjadi jika kita mengenali dan mengatasinya lebih awal. Kuman tuberkulosis yang sudah masuk melalui pernafasan bisa menyebar melalui jaringan sekitarnya, melalui limpa dan juga pembuluh darah. Tuberkulosis yang menyebar melalui limpa akan menyebabkan pembekakan sehingga terasa ada benjolan di ke permukaan tubuh. Selanjutnya menjadi radang, timbul rasa sakit, semakin lama akan semakin membesar bahkan bisa pecah. Sedangkan penyebaran tuberkulosis melalui darah bisa menyerang seluruh tubuh termasuk otak. Seseorang bisa saja mengalami TBC limpa saja tapi ada juga penderita yang menderita TBC limpa berbarengan dengan TBC darah/otak. Pada prinsipnya TBC bisa menyerang berbagai umur, mulai dari anak – anak, remaja maupun dewasa. Turut serta berinteraktif yakni bapak Indra melalui telepon 244444. Bapak Indra bertanya mengenai tindakan apa yang bisa dilakukan untuk mengetahui lebih awal bagaimana TBC itu? “Apakah ada kaitan antara TBC ini dengan HIV?” Tanya bapak Indra. Dijawab langsung oleh dokter Suta, “Gejala TBC itu diawali dengan batuk – batuk, panas, badan mengurus, saat demikianlah perlu segara memeriksakan diri. Sehingga diperlukan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secepatnya.” Saat ini hingga pelosok desa pun masyarakat bisa memeriksakan diri. Karena puskesmas yang tersebat di pelosok desa sudah dapat melayani pasien TBC. Sedangkan hubungan HIV dengan TBC adalah sangat terkait jika seseorang terserah HIV maka system kekebalan tubuhnya akan melemah. Saat penderita melemah dengan mudah virus TBC masuk ked lam tubuhnya sehingga terjadilah komplikasi. Selanjutnya da Ibu Dayu yang bertanya secara on-air, “Bagaimana dengan bersin keluar darah apakah termasuk TBC?” dijawab oleh dokter Suta, “Bersin darah bukanlah TBC karena darah yang keluar adalah dari hidung atau di atas pita suara. Sedangkan tuberkulosis darah yang bkeluar saat batuk bersumber di bawah dari pita suara. Untuk pemeriksaan lebih lanjut Ibu Dayu dapat memeriksakan diri ke dokter THT.” Diakhir talkshow dokter Suta menjelaskan pengobatan TBC targetnya 6 bulan yang harus dilakukan secara teratur. Pada 2 bulan pertama penderita harus minum obat teratur setiap hari. Kemudian bulan berikutnya jika dahaknya negatif dilanjutkan minum obat 3 kali dalam seminggu. Diakhir masa pengobatan jika dahaknya benar – benar negatif maka secara bakteriologis dinyatakan sembuh. Namun, masih ada kemungkinan penderita kembali menderita batuk berdahak. Ini tergantung luas paru – paru yang terinfeksi TBC karena daerah yang pernah terserang virus masih meninggalkan bekas – bekas luka. Penderita yang pernah mengalami TBC sebaiknya selalu kontrol untuk mencegah kambuh kembali. Bagi warga kota yang menemukan penderita batuk dengan dahak berdarah segeralah ajak memeriksakan diri ke sarana kesehatan terdekat, karena jika ditangani lebih cepat tentu akan lebih baik untuk mencegah terjadinya hal - hal tidak diinginkan. -dyt-