TALKSHOW BERSAMA LK3 BINA SEJAHTERA PROVINSI BALI ‘MERANGSANG MINAT BACA ANAK’
Membaca merupakan jendela dunia. Ungkapan tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Melalui membaca kita dapat menambah ilmu dan mengetahui informasi- informasi terkini. Maka dari itu LK3 Bina Sejahtera Provinsi Bali sengaja mengangkat topik “Merangsang Minat Baca Anak†dalam talkshow di hari Sabtu, 6 Agustus 2011 pukul 09.00 hingga pk. 10.00 wita. Talkshow dipandu oleh penyiar Dyta dengan 3 orang narasumber yakni Bapak Drs. Kuswiyanto dan Ibu Komang Sri Supadmi selaku pengurus di LK3 Bina Sejahtera Provinsi Bali serta Ibu Ketut Sri Dewi, S.Pd selaku guru Bahasa Indonesia di SMP N 1 Denpasar.
Di awal talkshow, bapak Kuswiyanto menjelaskan bahwa kecendrungan saat ini menurunnya minat baca anak – anak. Jika berbicara mengenai anak, tentu merupakan usia emas untuk diberi asupan apapun juga baik yang positif maupun negatif. Tentu tidak ada salahnya jika kita merangsang kembali minat baca anak – anak yang dimulai di keluarga, karena keluarga merupakan tempat belajar anak yang pertama dan utama.
Ibu Dewi menjelaskan bahwa minat baca anak dapat diartikan sebagai keinginan – keinginan yang ingin diketahui anak untuk mengeksporasi hal – hal yang baru seperti pengetahuan dan wawasan melalui kegiatan membaca. Mengeksporasi hal baru juga bisa dilakukan dengan mendengarkan, membuka internet, membaca majalah dan lain sebagainya. Penting sekali merangsang anak agar mau membaca Sebab minat baca tidak muncul begitu saja, harus betul – betul dilatih dan memerlukan proses yang kontinyu.
Selanjutnya ibu Komang menguraikan bahwa banyak orang awam berpendapat anak – anak mulai belajar sejak menginjakkan kaki di bangku sekolah. Namun, kenyataannya menurut seorang pakar bahwa sesaat setelah bayi lahir, otak bayi sudah mulai berfungsi secara penuh dan siap menyerap semua informasi yang digunakan anak tersebut di kemudian hari. Karena itu, proses pengajaran dan pembelajaran dilakukan sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan, misalnya dengan bersuara lembut, didengarkan musik spiritual. “Buanglah pemikiran bahwa pengajaran dan pendidikan hanya dilakukan di sekolah formal oleh seorang guru / pendidik yang mempunyai ilmu formal, namun orang tua merupakan pendidik yang utama dan pertama. Jadi, orang tua harus aktif membatu anak belajar mengenal berbagai hal yang baru, termasuk membaca,†demikian disampaikan oleh ibu Komang.
Turut berinteraktif melalui telepon 244444 yakni ibu Wiwit di Sidakarya yang bertanya, “Kapan sebaiknya anak dilatih membaca dan menulis? Karena pada saat TK anak saya tidak dituntut untuk cepat dapat membaca dan menulis. Namun, ketika masuk SD anak saya diharapkan sudah mampu untuk membaca dan menulis.†Dijawab oleh ibu Dewi, “Apa yang ibu alami, memang anggapan dahulu untuk pra-sekolah itu, belum diberikan pelajaran membaca karena dianggap sulit. Tetapi, kenyataannya sekarang sudah bergeser. Jadi, jauh sebelum masuk ke bangku sekolah, orang tua sudah berperan mengajarkan. Jadi belajar membaca tidak harus begitu resmi menurut kurikulum yang berlaku, pengetahuan keterampilan membaca sudah harus dikuasai pada waktu pra-sekolah. Sehingga saat memasuki sekolah formal sudah ada basic untuk melanjutkan belajar membaca, tidak dari nol. Untuk mengefektifkan kegiatan membaca, dapat dilakukan sejak dini dengan memperkenalkan keterampilan berbahasa, mulai dari membaca, mendengarkan, berbicara, menyimak, dan lainnya.â€
“Mendongen tentu sangat berkaitan dengan membaca, dan di jaman yang modern ini ternyata hal tersebut masih sangat revelan,†demikian dijelaskan oleh bapak Kuswiyanto. Dengan mendongeng, kreatifitas anak menjadi terangsang. “Oleh karena itu, sampai kapanpun mendongeng untuk anak apalagi dilakukan sebelum tidur sangat baik karena membantu proses mereka untuk cepat tertidur sekaligus memberikan asupan tentang sesuatu yang dianggap positif bagi kehidupannya, merangsang pertumbuhan otak, kreatifitas dan imajinasi.†Ditambahkan oleh ibu Komang, membacakan cerita untuk anak bermanfaat untuk menanamkan kecintaan anak untuk membaca buku. Selanjutnya adalah membuat anak lebih tenang dan nyaman karena sebelum tidur ditunggui oleh orangtuanya sambil dibacakan cerita. Yang ketiga adalah membantu anak mengenal kata dan kalimat. Yang keempat adalah menyampaikan pesan moral kepada anak.
Jika dikaitkan dengan keturunan / bakat, minat baca itu bisa dipengaruhi tapi jika tidak didukung oleh lingkungan bisa saja bakat membaca itu hilang. Kalaupun seorang anak memiliki bakat gemar membaca, hal itu harus tetap diasah, dirangsang, di dukung oleh orang tua agar bakat ini terus hidup. Jadi, minat baca itu bisa dibentuk oleh lingkungan. Dijelaskan oleh ibu Dewi, anak yang rajin membaca otomatis akan mudah menyerap pelajaran di sekolah. Pada umumnya hal itu dapat menunjang prestasinya di sekolah.
Diakhir talkshow para narasumber berpesan agar keluarga membiasakan diri, orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk belajar, belajar, dan belajar untuk membaca. Sisihkan waktu untuk anak, karena anak merupakan asset yang tak ternilai. Selain itu, belilah buku untuk hadiah bagi anak dan para sahabat , itu merupakan salah satu motivasi untuk membaca.
-dyt-