Menu

TALKSHOW BERSAMA KISARA JUMAT, 12 SEPTEMBER 2014

  • Jumat, 12 September 2014
  • 1367x Dilihat

TALKSHOW BERSAMA KISARA JUMAT, 12 SEPTEMBER 2014

TOPIK "Perlu ngga sih pendidikan seksualitas untuk remaja?"

NARASUMBER:

1. Nindi

2. Ayu Ningsih

 

Penyiar : Yuniary

 

Pendidikan seksualitas merupakan sebuah informasi mengenai seksualitas, menempatkan seks pada perspektif yang tepat, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri sendiri), penanaman rasa percaya diri dan difokuskan pada peningkatan kemampuan dalam mengambil keputusan. Dalam pengambilan keputusan, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengetahui informasi, mempertimbangkannya, memgambil keputusan, dan keterampilan mengkomunikasikannya. Ada 6 prinsip dasar yang harus termuat dalam pendidikan seksualitas, antara lain :

1.      Perkembangan manusia; anatomi, reproduksi, dan fisiologi

2.      Hubungan antar manusia; keluarga, teman, pacaran, pernikahan/perkawinan

3.      Kemampuan personal; nilai, pengambilan keputusan, komunikasi dan negosiasi

4.      Kesehatan seksual; kontrasepsi, pencegahan IMS, HIV-AIDS, aborsi, dan kekerasan seksual

5.      Budaya masyarakat; peran gender, seksualitas, dan agama

            Kebanyakan orang tua beranggapan bahwa pendidikan seksualitas berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentu membuat orang tua khawatir, apabila dengan pemberian informasi tersebut justru remaja cenderung untuk mencobanya. Untuk itu perlu diluruskan kembali penngertian mengenai penndidikan seksualitas. Pendidikan seksualitas berusaha untuk menempatkan seksualitas pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapann negatif tentang seksualitas.

Pendidikan seksualitas sangat diperlukan untu remaja, hal ini disebabkan oleh remaja yang sedang menngalami masa pubertas mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan mulai timbul ketertarikan dengan lawan jenis.

Misalkan dengan memberikan informasi mengenai bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi dan alat kelaminnya, jenis kelamin dan perbedaan dengan lawan jenisnya. Informasi yang diberikanpun diusahakan agar memberikan secara benar dan utuh. Pada usia 6 sampai 12 tahun dapat diberikan informasi mengenai terjadinya proses pembuahan ovum oleh sperma, membentuk pandangan anak tentang seksualitas, menjelaskan tenang perbedaan seksual laki-laki dan perempuan dengan menggunakan bahasa dan nama yang tepat dalam menunjukkan annggota tubuhnya, mengenal dan menghargai seluruh anggota tubuhnya termasuk organ reproduksi, mengerti tentang keluarga, tujuan dan kewajibannya agar menjadi anggota keluarga yang baik dengan mengikutsertakan rasa setia, kasih sayang, cinta, rasa saling menghormati. Pendidikan seksualitas ini sebaiknya diberikan disesuaikan dengan tahap perkembangan usia.

Remaja dapatt perberan aktif sebagai pendidik sebaya (peer-educator) yang membantu menyebarkan informasi tentang pengetahuan seksualitas yang benar kepada teman-temannya.. berperan sebagai partisipan yang mendukung pendidikaan seksualitas dengan cara menjadi sumber informasi tentang kebutuhan remaja, apa yang diinginkan, bagaimana pandangan mereka tentang pendidikan seksulitas, aktif dalam kegiatan.

Dengan adanya pendidikan seksualitas bagi remaja, diharapkan agar remaja dapat menempatkan seksualitas pada perspektif yang tepat dan mencoba mengubah anggapan negatif tentang seksualitas. Perlu kita pahami bahwa berbicara masalah seksualitas bukanlah sesuatu yang kotor atau tidak pantas dibicarakan. Hal ini disebabkan karena pengertian seks dikonotasikan dengan hubungan kelamin, sehingga masih dianggap tabu dan dianggap sebagai konsumsi orang dewasa saja, sedangkan remaja atau siapapun yang belum menikh, tidak boleh membicarakannya.

Kita bisa mencari informasi dan pengetahuan tentang seksualitas melalui; buku-buku pengetahuan tentang seksualitas yang lengkap dan benar, rubrik konsultasii yang diasuh oleh lembaga-lembaga atau orang-orang yang kredibilitasnya dpat dipertanggungjawabkan, siaran-siaran radio, pusat-pusat konsultasi remaja, guru, kakak, atau orang tua yang dianggap tahu.