Menu

TALKSHOW BERSAMA DOSEN FT UNIVERSITAS NGURAH RAI "RUANG PUBLIK DI KOTA DENPASAR DARI SISI ARSITEKTUR"

  • Senin, 22 Juni 2015
  • 1784x Dilihat

Senin, 22 Juni 2015

TOPIK   : RUANG PUBLIK DI  KOTA DENPASAR DARI SISI ARSITEKTUR

NARASUMBER : Ir. Agus Wiryadhi Saidi, M.Si.

Ayu Putu Utari Parthami Lestari, ST., MT.

PENYIAR         : Ratna

 

     Ruang publik yang dimaksud secara umum pada sebuah kota adalah bentuk ruang yang digunakan manusia secara bersama-sama berupa jalan, pedestrian, taman-taman, plaza, fasilitas transportasi umum (halte) dan museum. Beberapa ruang publik yang teridentifikasi di Kota Denpasar adalah: Lapangan Puputan Badung, Lapangan Renon, Lapangan Lumintang, Museum Bali, Kompleks Art Centre, Kompleks lapangan Kertalangu, beberapa pusat perbelanjaan, dstnya.

 

Idealnya ruang public kota harus memberi kenyamanan dan keamanan bagi public dengan berbagai fasilitas pendukung vitalitas ruang publik sebagai suatu kawasan, seperti:

·        Parkir. Jika memungkinkan, tersedia lahan parkir yang dapat menampung kendaraan pengguna.

·        Urban Streetscape yaitu penataan fasade, entrance, signage, dan street furniture yang memberi karakter pada lingkungan perkotaan dan menciptakan keserasian antara isi terbangun dan kenyamanan pengguna. Di Lapangan Puputan Badung sudah terasa upaya pemerintah Kota dalam memperbaiki kualitas ruang publiknya dengan streetscape. Seperti contohnya air mancur warna, pemavingan jalan Gajah Mada, children playground, dan lainnya.

·        Street furnituretermasuk didalamnya adalah bangku, tong sampah, lampu jalan, parkir sepeda, dll agar tercipta atmosfer yang menyatu dengan aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

·        Safety. Yang dimaksud dengan safety adalah adanya fasilitas seperti kantor atau pos polisi, klinik kesehatan dan apotek, saluran air untuk pemadam kebakaran, dan fasilitas-fasilitas lain yang mudah diingat dan dicapai lokasinya di sekitar ruang publik, bisa ditambahkan rambu-rambu penanda lokasi di sekitarnya.

·        Infrastruktur/ prasarana kota. Pengadaan infrastruktur yang lengkap akan memperlancar aktivitas yang berlangsung di dalamnya, seperti jaringan listrik, jaringan air bersih, drainase, buangan sampah, dan lain-lain.

·        Makan dan minuman. Ruang publik harus mampu mewadahi kegiatan sederhana penggunanya, termasuk menyediakan lokasi berjualan makanan dan minuman kecil selama pengguna menikmati ruang publik. Penjual makan dan minum ini harus terdata dan resmi sehingga akan mudah untuk diberdayakan untuk menjaga ruang publik. PKL (pedagang kaki lima) yang biasanya berkeliaran di alun-alun kota Denpasar bisa mencotoh pengeloaan PKL di pantai Kuta, dan tempat lain yang sudah rapi manajemennya.

 

Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, termasuk juga mengenai ruang public kota Denpasar. Beberapa permasalahan yang dihadapi dikota denpasar dalam konteks ruang publik dari sisi arsitektur meliputi:

a.        Pemerataan ruang publik. Di daerah-daerah dengan konsentrasi penduduk yang cukup padat, akses terhadap ruang publik malah lebih kecil. Misalnya di Monang Maning dan kawasan Denpasar Selatan sebagai salah satu pusat permukiman misalnya, perlu segera peremajaan terhadap ruang-ruang publik yang sudah ada, daripada memberikan beban tambahan ke alun-alun Puputan Badung. Ruang publik seperti balai banjar dan wantilan yang sudah ada di tiap lingkungan sebenarnya adalah potensi yang terpendam.

b.       Parkir kendaraan bermotor di halaman depan bangunan. Ini membuktikan bahwa kendaraan lebih terhormat kedudukannya ketimbang manusia di konteks urban. Daripada memberi ruang yang berkualitas untuk publik, memberikan ruang depan untuk parkir mobil ternyata tetap jadi pilihan nomor satu. Seringkali terlihat trotoar yang diokupansi parkir kendaraan, sehingga mengambil hak masyarakat atas ruang publiknya.

c.        Punahnya arkade sebagai elemen sirkulasi urban tropis. Merancang lingkungan urban yang kondusif di iklim tropis yang intens, bukanlah perkara mudah. Salah satu elemen arsitektur urban ideal untuk merespon kondisi ini adalah arkade, berupa koridor pejalan kaki beratap yang sekarang ini sudah jarang ditemui lagi. Padahal ruang publik yang dibutuhkan di Kota Denpasar, adalah ruang dengan peneduh, bukan ruang terbuka semata.

d.       Kurangnya perencanaan armature.Elemen arsitektur atau disebut juga armature adalah perlengkapan ruang arsitektur yang secara sengaja dirancang untuk melengkapi ruang luar dalam hal ini ruang terbuka kota. Armature ada yang dibuat permanen ada juga yang sifatnya sementara yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah diganti. Keberadaan armature menjadi penting karena memiliki fungsi yang dapat memfasilitasi segala bentuk aktivitas dan prilaku manusia dalam menggunakan ruang luar. Contoh armature adalah bale, tong sampah, toilet umum, dstnya. Pemerintah perlu belajar dari Bandung yang merevitalisasi taman-tamannya menjadi taman tematik yang berisi wifi gratis.

e.       Semua ruang publik di Denpasar tidak terhindar dari bayaran. Paling tidak penikmat ruang publik harus membayar parkir, dan hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan hakikat ruang publik yang bisa dinikmati oleh siapapun dia, seberapapun kerenya.

f.         Polusi.Ruang publik harus dikondisikan bebas polusi baik polusi udara, air, tanah maupun suara agar penikmat yang datang menjadi lebih sehat dan segar setelah mengunjungi ruang publik.

g.       Pemberdayaan PKL.PKL dan polisi pamong praja ibaratnya bermain kucing-kucingan setiap saat. Padahal jika diberdayakan, didata jumlahnya, dan dikelola PKL adalah sumberdaya yang menjanjikan. Kota tanpa kehadiran PKL akan sulit menunjukkan sisi humanisnya.

 

      Jadi dapat di simpulkan ruang-ruang publik yang disediakan oleh pemerintah Kota Denpasar sudah dirasa baik, namun masih kurang dari kualitas dan jumlahnya. Terbatasnya penduduk kota yang dapat ditampung oleh ruang publik dan kualitas ruang publik yang buruk adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah bersama warganya untuk mencapai kota Denpasar yang kreatif. Ruang publik di Kota Denpasar akan berfungsi maksimal jika suatu saat nanti akan muncul kaum muda kota akan lebih memilih nongkrong di lapangan Lumintang dibandingkan di warung dan restaurant waralaba.