Menu

TALK SHOW ”MENGENAL BAHAYA DEMAM BERDARAH”

  • Jumat, 25 Maret 2016
  • 1049x Dilihat

Hari / Tanggal : Jumat, 25 Maret 2016

Narasumber : Rama & Sinta (mahasiswa Fakultas Kedokteran UNUD)

Penyiar : Arie Kumbara

 

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dapat menyerang pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2015, Kondisi IR di Bali tahun 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya. Target nasional Angka Kesakitan (IR) DBD tahun 2014 yaitu kurang dari 51 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka kesakitan DBD di Provinsi Bali tahun 2014 adalah 210,2 per 100.000 penduduk jauh diatas target nasional. Meningkatnya IR tahun 2014 disebabkan karena terjadi perubahan iklim, pembukaan pemukiman baru, mobilisasi penduduk, standar diagnosis yang belum seragam dimana masih memakai kriteria WHO tahun 2009 (belum menggunakan pemeriksaan serologis terutama di RSUD Kabupaten/Kota); serta belum adanya pemilahan kasus antara kasus yang didiagnosis sebagai kasus demam dengue dan demam berdarah dengue.

Sedangkan di awal tahun 2016, peningkatan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) semakin terlihat dari penuhnya Rumah Sakit / Puskesmas yang menangani pasien penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam talk show yang diadakan RPKD bersama dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universiatas Udayana (Rama dan Sinta) pada hari Jumat, 25 Maret 2016 menjelaskan mengenai penyebab, tanda / gejala, fase, klasifikasi dan pencegahan dari Demam Berdarah Dengue (DBD). Rama menjelaskan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina pada pembuluh darah. Pada umumnya nyamuk Aedes Aegypti menyerang pada musim panas dan musim hujan, dan untuk tanda ataupun gejala DBD, seperti Demam tinggi dengan suhu sekitar 38-40°C selama 2-7 hari disertai menggigil, mual dan muntah, rasa sakit pada perut, pucat, badan terasa dingin, pendarahan dibawah kulit berupa bintik – bintik merah akibat pecahnya pembuluh darah, disertai gejala lainnya.

Kemudian untuk fase dari Demam Berdarah Dengue (DBD) terbagi menjadi tiga, yaitu fase demam, kritis dan penyembuhan, dimana dijelaskan oleh Sinta, bahwa fase krusial dari ketiga fase ini adalah fase kritis, Fase ini biasanya terjadi pada hari ke-4 dan ke-5 perjalanan penyakit, dan berlangsung selama 24-48 jam. Obat antidemam tidak lagi diberikan pada fase ini. Tata laksana yang umum dilakukan adalah dengan mencatat tanda vital serta asupan dan keluaran cairan; memberikan oksigen pada kasus yang disertai shock; menghentikan perdarahan, kecuali kalau hanya mimisan ; serta menghindari tindakan yang tidak perlu (misalkan pemberian obat atau zat-zat yang bisa menimbulkan traumatik) serta jumlah cairan juga harus tetap mencukupi pada fase ini agar terhindar dari resiko pendarahan. Rama juga menjelaskan secara singkat bahwa untuk klasifikasi Demam Berdarah Dengue (DBD) diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya. Dan di sesi terakhir, Rama dan Sinta menghimbau warga kota agar dapat melakukan pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 4M Plus (menguras, menutup, mengubur, memantau), plus dengan cara memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak, mengganti air vas bunga dan tempat minumann burung seminggu sekali, menutup lubang-lubang potongan bambu atau pohon (misalnya dengan tanah dan lain-lain) dan cara plus lainnya (A.K.).