Menu

SUGIHAN JAWA dan BALI UPACARA dan MAKNA FILOSOFINYA

  • Selasa, 02 Februari 2016
  • 2336x Dilihat

TALKSHOW  SUGIHAN JAWA DAN BALI

 

TEMA                        : SUGIHAN JAWA dan BALI UPACARA dan MAKNA FILOSOFINYA

NARASUMBER       :Dr. MADE SRI PUTRI PURNAMAWATI ( KETUA LP2M IHDN DENPASAR)

HOST                         : TANTRI ADEL

HARI/TGL                : SELASA, 02 FEBRUARI 2016

 

Denpasar RPKD FM - Menjelang Hari Raya Galungan , umat Hindu Bali melakukan Upacara Sugihan  Jawa dan Sugihan Bali. Apa maknanya ?

Sugihan Jawa jatuh pada hari Wrhaspati Wage/ Kamis Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum menyongsong perayaan hari raya Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa merupakan Pasucian Dewa Kalinggania Pamrastista Batara kabeh (Penyucian Dewa). Sugihan Jawa memiliki makna menyucikan Bhuana Agung (makrokosmos) di luar diri manusia. Pelaksanaan upacara Sugihan Jawa ini dirayakan untuk membersihkan dan mensucikan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci sebelum merayakan Sugihan Bali untuk ketenangan bathin.

Demikianlah Di kalangan masyarakat Bali, pembersihan alam semesta itu disimbolkan dengan menghaturkan Banten Prayascita dan Banten Parerebuan di Merajan sesuai dengan isi lontar Sundarigama. Mererebu bermakna sejajar dengan pembersihan atau penyucian.

Sementara Sugihan Baliyang jatuh pada Sukra Kliwon Wuku Sungsang disebutkan sebagai Kalinggania Amretista Raga Tawulan atau dengan kata lain adalah pensucian bagi Bhuwana Alit (mikrokosmos) dari alam semesta ini, yaitu diri kita masing - masing. Pada saat ini, umat Hindu diharapkan melaksanakan upaya untuk mengendalikan indria (nafsu atau keinginan-keinginannya). Memaknai hari Sugihan Bali dapat dilakukan dengan melaksanakan upawasa semampunya, maupun dengan melaksanakan persembahyanagn baik di rumah maupun tempat suci. Penyucian pikiran dapat juga dilaksanakan dengan melakukan Samadhi untuk menenangkan pikiran dalam menyambut datangnya hari kemenangan Dharma atas Adharma.

Secara filosofis Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali memiliki makna yang sama yaitu rerahinan dengan tujuan membersih-sucikan bhuwana, dunia beserta isinya. Hanya saja, secara ritual, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali berbeda sasaran.Namun ada yang menyebutkan sebelum perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dikenal sebagai Sugihan Tenten yang jatuh pada Buda Pon Wuku Sungsang,  merupakan sugihan

pertama. Kata tenten, diidentikkan dengan kata enten yang artinya ‘ingat’. “Jadi, Sugian Tenten semacam mengingatkan umat Hindu bahwa hari raya Galungan akan segera tiba, segala kewajiban mesti segera dipersiapkan.

Adapun upakara yang dilakukan saat perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah

1.      Untuk bangunan yang dianggap utama seperti Padmasana, Meru, Sanggah Kemulan, Taksu, Pengijeng, atau Pengunggun Karang dan lain lain dilakukan pabersihan dan panyucian, canang buratwangi dan tirta anyar. Dapat juga dilengkapi dengan ajuman dan daksina atau sesuai dengan aturan yang berlaku di lingkungan setempat.

2.      Untuk pelinggih yang lebih kecil digunakan canang buratwangi.

3.      Penyucian secara umum disebut juga dengan parerebuan.

 

Dengan melaksanakan persembahan sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku pada wilayah masing – masing maka pahala dari pelaksanaan upacara ini adalah kebahagiaan, pencapaian kesempurnaan dan keharmonisan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. (del)