Saniscara Kliwon Wuku Uye 26 Nopember 2016, umat Hindu Bali kembali merayakan Tumpek Kandang dengan menggelar upacara khusus kepada hewan. Tokoh agama sekaligus akademisi agama hindu, I Kadek Satria, S.ag.M.Pd dalam talkshow bersama 92,6 Radio Publik Kota denpasar menyatakan Tumpek Uye sejatinya sebagai upacara yadnya yang diperuntukkan kepada sarva prani hitan kara yaitu semua jenis binatang yang ada di alam semesta baik peliharaan atau yang hidup liar seperti golongan sato, mina, paksi, manuk, serta gumatap-gumitip. Tujuannya untuk memberikan keselamatan kesehatan lahir bathin serta penyupatan agar kelahiran berikutnya dari roh hewan-hewan tersebut bisa meningkat kualitas tingkat kehidupannya. Bukan hanya binatang secara fisik, namun dalam ranah nonfisik berupa sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia juga bisa disupat. Makna ini dicermati dari penyebutan Tumpek Uye sebagai Tumpek Kandang untuk membuat eling akan keharmonisan akan sesame makluk hidup.
Dalam hari suci Tumpek Kandang, manusia seyogyanya menyucikan diri, menetralisir (nyomya) kekuatan-kekuatan binatang dalam diri. Diluar konsepsi agama seperti itu, perayaan tumpek kandang sejatinya dapat dipandang sebagai pernyataan rasa terimakasih dan syukur umat Hindu Bali kepada Sang Pencipta yang telah mengadakan berbagai jenis fauna di jagat semestaini. Dalam kehidupan Agraria keberadaan hewan sangat bermanfaat untuk menopang kebutuhan konsunsi manusia serta kerap meminta pertolongan kepada hewan-hewan seperti memanfaatkan sapi atau kerbau untuk membajak sawah, kusir dokar yang memanfaatkan kuda untuk menarik dokarnya bahkan hewan bisa memberikan pesan-pesan penting bagi kehidupan manusia dan kerap lebih awal member isyarat akan terjadinya bencana.
Kini dalam kehidupan industry, hewan juga sangat membantu kehidupan manusia seperti halnya pebisnis ternak, industry makanan hewani, industry pupuk, dan lainnya dalam skala besar. Terkadang manusia hanya melakukan aktivitas bisnis dan melupakan alam sekitar dalam hal pembuangan limbah. Inilah tantangan manusia di era modern dalam kehidupan industry beternak, harus memperhatikan keseimbangan sesuai konsep Tri Hita Karana yang dimiliki oleh umah Hindu Bali yaitu Palemahan, Pawongan dan parahyangan. Dengan demikian akan mampu meraih kebahagiaan dengan alam sesame dan tidak lupa mengharmonisasikan diri dengan Sang Pencipta.(*erd)
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026