Menu

PUJAWALI PIODALAN PURA SAKENAN

  • Kamis, 15 September 2016
  • 1497x Dilihat

PUJAWALI  PIODALAN  PURA  SAKENAN

            Pujawali  piodalan  Pura  Sakenan akan segera tiba, yang jatuh  hari  Sabtu  Kliwon  Wuku  Kuningan  dalam  kalender  Pawukon  Bali  yang  panjangnya  adalah  210  hari. Perayaan  berlangsung  selama  3  hari dengan  puncaknya  di hari  sabtu,  bertepatan  dengan  perayaan  Hari  Raya  Kuningan,  10  hari  setelah  Galungan  yang  memuja  Dewa  Siwa  sebagai  manifestasi  Hyang  Widhi.

            Bapak Nyoman Dayuh, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar menjelaskan sekelumit sejarah Pura Sakenan dalam dijelaskan dalam Dwijendra Tattwa,  sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani beliau. Lalu disebutkan lagi, Dalam perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa Dawa. Di pulau ini Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha. Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah utara. Tak dikisahkan bagaimana halnya di dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana. Akhirnya, di situlah Danghyang Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. 

            Sementara itu  Bapak  I  Made  Wija  Wijaya   selaku Widyasaba Desa Serangan yang juga panitia Pujawali di  Pura  Sakenan  Desa  Pekraman  Serangan,  makna  dari  pujawali  ini  adalah  untuk  memperoleh  kemakmuran,  wara  nugraha,  serta  kebahagiaan  lahir  bathin  dari  Ida  Betara.  Menurut  Bapak  I  Made  Wija   Wijaya,  nama  Serangan  berasal  dari  kata  “Sira”  dan  “Angen”  atau  Kangen  /  Sayang.  Jadi  Pura  Sakenan  di  bangun  dengan  latar  belakang  wujud  syukur  orang  yang  merasa  sira  angen  dengan  keindahan  alam  pulau  Bali.

            Pengempon  utawi  Pemucuk  Pura  Sakenan  ada  4  Desa  Adat  yaitu :  Desa  Adat  kepawon,  Pemogan,  Kelan,  dan  Desa  Pekraman  Serangan.  Adapun  urutan  Pura  yang  harus  di  datangi  oleh  para  pemedek  adalah :  Pertama  -  tama  pemedek  maturan  sembah  di  Pura  Susunan  Wadon,  kemudian  ke  Pura  Dalem  Sakenan,  terakhir  ke  Pura  Pesamuan  Sakenan,  ucap  Bapak  Made  Yatna  selaku  Petajuh  Parahyangan  Desa  Pekraman  Serangan.

Terkait  dengan  Banten  pada  saat  Pujawali  Bebangkit  untuk  pakelem  diatur  karang  tengah,  yang  berisi  ayam  atau  bebek  selem,  dan   Pemesuan  untuk  pakelem  di  letakkan  di  timur  yang  berisi  ayam  atau  bebek  selem.  Bapak  I  Made  Wija  Wijaya  juga  menghimbau  kepada  para  pemedek  agar  melakukan penganyaran pada  saat  panyejeran  Ida  Bathara  yaitu pada  hari  minggu,  senin, dan selasa yaitu tanggal 18 hingga 20 September 2016 mengingat saat  puncak  acara  Pujawali  di  hari  Sabtu akan lebih difokuskan pada kegiatan internal Pujawali Pura Sakenan (Erd-GP).