PUJAWALI PIODALAN PURA SAKENAN
Pujawali piodalan Pura Sakenan akan segera tiba, yang jatuh hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan dalam kalender Pawukon Bali yang panjangnya adalah 210 hari. Perayaan berlangsung selama 3 hari dengan puncaknya di hari sabtu, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Kuningan, 10 hari setelah Galungan yang memuja Dewa Siwa sebagai manifestasi Hyang Widhi.
Bapak Nyoman Dayuh, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar menjelaskan sekelumit sejarah Pura Sakenan dalam dijelaskan dalam Dwijendra Tattwa, sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani beliau. Lalu disebutkan lagi, Dalam perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa Dawa. Di pulau ini Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha. Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah utara. Tak dikisahkan bagaimana halnya di dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana. Akhirnya, di situlah Danghyang Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran.
Sementara itu Bapak I Made Wija Wijaya selaku Widyasaba Desa Serangan yang juga panitia Pujawali di Pura Sakenan Desa Pekraman Serangan, makna dari pujawali ini adalah untuk memperoleh kemakmuran, wara nugraha, serta kebahagiaan lahir bathin dari Ida Betara. Menurut Bapak I Made Wija Wijaya, nama Serangan berasal dari kata “Sira” dan “Angen” atau Kangen / Sayang. Jadi Pura Sakenan di bangun dengan latar belakang wujud syukur orang yang merasa sira angen dengan keindahan alam pulau Bali.
Pengempon utawi Pemucuk Pura Sakenan ada 4 Desa Adat yaitu : Desa Adat kepawon, Pemogan, Kelan, dan Desa Pekraman Serangan. Adapun urutan Pura yang harus di datangi oleh para pemedek adalah : Pertama - tama pemedek maturan sembah di Pura Susunan Wadon, kemudian ke Pura Dalem Sakenan, terakhir ke Pura Pesamuan Sakenan, ucap Bapak Made Yatna selaku Petajuh Parahyangan Desa Pekraman Serangan.
Terkait dengan Banten pada saat Pujawali Bebangkit untuk pakelem diatur karang tengah, yang berisi ayam atau bebek selem, dan Pemesuan untuk pakelem di letakkan di timur yang berisi ayam atau bebek selem. Bapak I Made Wija Wijaya juga menghimbau kepada para pemedek agar melakukan penganyaran pada saat panyejeran Ida Bathara yaitu pada hari minggu, senin, dan selasa yaitu tanggal 18 hingga 20 September 2016 mengingat saat puncak acara Pujawali di hari Sabtu akan lebih difokuskan pada kegiatan internal Pujawali Pura Sakenan (Erd-GP).
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026