Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memerlukan perhatian, kasih sayang yang lebih spesifik, baik itu di lingkungan rumah dan sekolah. Spesifikasi tersebut ada karena memiliki berbagai hambatan dalam pertumbuhannya dan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya.
Komang Sudarma, seorang tenaga pendidik di SLBA Negeri Denpasar yang dalam program talkshow hari ini (23/11) menjelaskan anak yang penyandang Tunanetra walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus, hal tersebut yang di latih di SLBA Negeri Denpasar.
Masih di program yang sama, Nyoman Andika dan Yunita Hadi dari Pusat Layanan Autis Denpasar yang turut serta menjadi narasumber memberi penjelasan mengenai Autisme. Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan, tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
Khusus ABK yang cenderung hiperaktif disarankan untuk diet ketat. Adapun diet ketat tersebut di antaranya “pantang” mengonsumsi makanan yang mengandung tepung terigu, gula tebu, cokelat, pemanis buatan, penyedap buatan, makanan instan, kecap, gluten, Diet tersebut setidaknya dapat mengurangi energi anak-anak hiperaktif sehingga mempermudah konsentrasi anak. Meskipun demikian tidak semua ABK harus menjalani diet yang sama. Maka diperlukan tes yang dapat membuktikan alergi anak berkebutuhan khusus.
(rah)