Menu

PEREKONOMIAN BALI SEBAGAI CERMIN KONDISI EKONOMI INDONESIA

  • Senin, 25 Mei 2015
  • 10746x Dilihat

Narasumber : Dr. I Wayan Kandi Wijaya, SE, AK, MM, CA  - Dosen FE Univ.Ngurah Rai               

Penyiar  : Bambang Hariyadi

Dalam dasa warsa belakangan ini kondisi ekonomi Nasional mengalami pasang surut sebagai ekses dari  ekonomi Global dan hambatan dari faktor  Internal. Ekonomi dunia sedang mengalami stagnan sebagai akibat dari perubahan struktur keuangan dunia yang semakin melemah. Kondisi ini tidak dapat dipungkiri mempengaruhi kondisi ekonomi nasional. Perjalanan ekonomi nasional, menurut beberapa pengamat , jalannya tertatih-tatih. Apa yang dialami oleh perekonomian Bali  saat ini secara makro hampir tidak jauh berbeda dari apa yang  ekonomi nasional, hanya kondisinya yang berbeda.

Faktor penyebabnya adalah berasal dari faktor ekternal dan internal. Untuk mengatasi hal ini ada beberapa solusi yang sifatnya temporer yang harus diambil oleh pemerintah Indonesia dalam memperbaiki kondisi nasional dan daerah.

 

           Tiga pilar utama yang menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional adalah  faktor Investasi, konsumsi dan export.

Kondisi ekonomi nasional saat ini jalannya tertatih-tatih. Tingkat pertumbuhan ekonomi secara Nasional melambat turun dari 5,02 sebelum triwulan I, menjadi 4,71 persen dalam triwulan I 2015. Hal ini disebabkan oleh kondisi faktor Internal dan Ekternal. Faktor internal seperti melemahnya permintaan domestik lembaga non profit, konsumsi sektor pemerintah dan investasi pada sektor bangunan, dan yang menonjol sebelumnya disebabkan oleh faktor Politik. Seperti diketahui saja bahwasanya kondisi ekonomi suatu negara dipengaruh oleh faktor politik disamping faktor lainnya.

           Secara nasional 2 tahun belangkangan ini terjadi kegaduhan politik terjadi  pasa saat saat akan adanya pergantian pemerintah SBY. Kondisi ekonomi secara nasional pasa saat pemerintahan SBY relatif setabil. Ketika terjadi pemilihan umum dimana partai partai politik saling berusaha menarik simpati masyarakat untuk memilih salah satu partai, sebagai pemenang pemilu, nah disitu tdk dapat diabaikan terjadi kegaduhan politik disebabkan oleh kondisi masa. Banyaknya bermunculan partai baru, banyak terjadi permasalahan , seperti dalam Golkar, Demokrat, PPP dan sebagainya yang membawa konskwensi Ekonomi nasional.

Kondisi kegaduhan politik direspon negatif secara global oleh pelaku pelaku ekonomi seperti , pasar internasional, perdagangan, pasar uang dan , pasar investasi. Setalah terjadi pergantian pemerintahan oleh pemenang pemilu, pemerintahan diganti oleh JOKOWI, terjadi ajusment disegala bidang yang menyebabkan pergantian team ekonomi Indonesia, yang saat ini masih diragukan kemampuannya, disebabkan oleh the right man or the right place.

Hal ini disebabkan orang orang yang duduk di kabinet, khususnya dalam bidang ekonomi, tidak mencerminkan orang orang capable dibidangnya, yang memiliki kemampuan secara makro, baik secara akdemik maupun secara teknis.  Disamping dari faktor tersebut, ada hambatan secara administratif, seperti terlalu banyaknya Udang Undang dan Peraturan pemerintah, serta regulasi yang harus dievaluasi oleh team ekonomi pemerintah JOKOWI sebagai salah satu kebijakan pendorong kemajuan ekonomi yang ingin dicapai pemerintahan saat ini. Respon kegaduhan politik menjadi pemicu melambat jalannya perekonomian nasional.

Sedangkan faktor ekternal disebabkan kondisi yang dialami Tiongkok dan Singapura sebagai negara parner paling besar yang memberikan sumbangan ekonomi nasional. Import negara ini menurun dari Indonesia, turunya harga minyak dunia, Turunnya nilai rupiah terhadap dollar.

Solusinya adalah secara temporer seperti menjaga pasar luar negeri, mengendalikan Inflasi, merevisi kebijakan yang menghabat pertumbuhan ekonomi seperti per-udang-undangan, peraturan pemerintah regulasi. Serta memperkuat daya saing melalui pembangunan berkesinambungan sektor ekport dan ekonomi kita, pembangunan infra struktur pendukung kelancaran ekonomi guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.

 

         Kondisi  Perekonomian  Bali tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi nasional, secara umum perekonomian ditopang sektor jasa dan pariwisata dan perdagangan sebagai andalan utama, walaupun tumpuan harapan pada sektor pertanian. Sampai saat ini sektor pertanian belum mampu menopang perekonomian Bali sesuai harapan, hal ini disebabkan karena makin sempitnya lahan pertanian produktif, dan lemahnya SDM yang menggarap, serta lemahnya pasar produksi pertanian.

        Selain itu bagaimanapun turunya harga jual bahan bakar minyak di luar negeri, serta dinaikanya harga bahan bakar di dalam negeri menjadi pemicu naiknya harga secara umum menjadi pemicu naiknya cost beberapa sektor, naiknya inflasi. Hanya saja dengan bertahannya sektor pariwisata sebagai penopang perekonomian Bali, mendorong tumbuhnya industri kreatif yang berbasis kearifpan lokal, dapat menjadi kekuatan dan menopang  perekonomian Bali , dari lemahnya sektor lain.

       Arus derasnya investasi dalam property yang merambah Bali, sebagai akibat tingginya pasar property di Bali , mengakibatkan arus pasar uang menjadi bergairah, sehingga daya beli masyarakat tetap tinggi, dan tidak begitu dirasakan dampak yang ditimbulkan ekonomi nasional terhadap perekonomian Bali. Mengutif pendapat dari pengamat ekonomi Bali dari beberapa kalangan yang menilai Ekonomi Bali mengalami perlambatan, sesungguhnya menurut penulis dapat diterima mengingat rantai ekonomi suatu daerah dalam satu negara tidak dapat terlepas dari pengaruh kebijakan ekonomi negara yang bersangkutan, hanya saja kondisi yang menyebabkan perlambatan ekonomi tiap daerah berbeda antara daerah lain di Indonesia. Hal ini tergantung , seberapa besar sektor andalan daerah bersangkut dalam menopang ekonomi daerahnya. Jika relaltif sama dengan andalan ekonomi nasional maka, perlambatan pasti dialami lebih dirasakan dibandingkan dengan daerah yang memiliki sektor unggulan yang berbeda dengan nasional.

Mengutip pendapat Prof. K.Sri Budhi misalkan perlambatan ekonomi Bali dalam triwulan I 2015, disebabkan oleh faktor internal, bukan karena pengaruh perekonomian Nasional, tetapi disebabkan faktor internal tidak sepenuhnya dapat diterima, mengingat  antara ekonomi suatu daerah memiliki korelasi searah dengan ekonomi nasional, sebab perekonomian suatu negara tergantung kepada penyerapan anggaran, jika penyerapan APBN melambat maka terjadilah kondisi yang tidak kita inginkan.

       Bali sebagai centre bisinis kerajinan daerah lain diluar Bali, memiliki value added beda dengan produk kerajinan luar Bali, hal ini juga menjadi pendorong bagi realisasi trasaksi perdagangan serta perputaran dana yang masuk ke Bali.

Bagi Bali keahwatiran yang makin dirasakan kedepan, ada semacam pemaksaan dana dana luar masuk Bali sebagai sumber investasi bagi luar Bali, tidak dapat dipungkiri dana mengalir ke luar Bali dalam bentuk hasil investasi yang dilakukan pihak luar, sehingga Bali merasa diperah untuk menghasilkan uang bagi suatu investasi namun kecil dampak manfaat yang  diraskan Bali sendiri, dari tahun ketahun seperti itu. Gejala ini memang merupakan masalah klasik, tetapi hal ini perlu diantisipasi kedepan. Dalam mengatasi perlabatan ekonomi Bali ada empat komponen yang harus diperdayakan, yaitu konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan eksport. Diantara keempat itu terpenting adalah Investasi dan Eksportnya.  Dan untuk menjaga iklim investasi yang stabil maka perlu dijaga Stabilitas Makro ekonomi termasuk pengendalian inflasinya dan kebijakan yang dapat mendorong kegairahan berinvestasi. Sedangkan dalam mendorong eksport perlu didorong dan lebih reiil ekonomi kreatif yang berbasiskan kearipan lokal dengan akar budaya yang berbeda dimiliki Bali menjadi daya tarik tersendiri yang segera perlu mendapat perhatian dikalangan pengambil kebijakan. Namun demikian perlambatan ekonomi nasional dalam triwulan I 2015, mungkin sifatnya sementara. BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Triwulan II-2015 meningkat dari 4,71  yang dicapai dalam triwulan I . Pencapaian peningkatan ini akan ditentukan oleh seberapa besar realisasi proyek infrastruktur yang direncanakan, konsumsi pemerintah yang tetap kuat dan ekport yang membaik.

 

        Sebagai solusi dalam memperkuat ekonomi Bali ke depan, sebagai pilar adalah disampaing mendorong ekonomi kreatif sebagai sumber eksport Bali, tetap menjaga existensi Bali dari semua aspek yang menjadi daya tarik pariwisata Bali,  termasuk pemerataan pembangunan di wilayah lain sarbagita. Basis budaya di setiap wilayah terus tetap dipelihara, diberi ruang, dikembangkan untuk tetap hidup untuk mendorong kehidupan masyarakat Bali tetap diprioritaskan oleh  pengambil kebijakan.

        Masyarakat Bali harus mengambil peran dalam menopang ekonomi nasional melalui peran aktif diberbagai sektorusaha dan tetap mengarahkan kualitasnya menjadi lebih baik dalam menghadapi Asean Economic Community mulai 2015, ini menjadi penting untuk diperhatikan. Masyarakat Bali sudah bergeser kondisi kedudukannya, dan meninggalkan sendi sendi kehidupan ekonomi masyarakat Bali sebagai sumber kearifan lokal. Kedepan ini yang perlu diantisipasi dan diwaspadai agar Bali tidak kehilangan jati diri seperti diwacanakan dalam beberapa tahun lalu.