Menu

Mulat Sarira Memperkokoh Jati Diri Kemenangan Dharma di Hari Raya Galungan

  • Selasa, 22 Mei 2018
  • 1108x Dilihat

Pemaknaan hari raya suci Galungan sebagai hari kemenangan dharma atas adharma tidak terlepas dari rangkaian hari raya runtutannya, seperti termuat dalam lontar sundarigama, rangkaian upacara Galungan ini cukup banyak mulai dari Tumpek Pengatag, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, hari Penyekeban, Penyajaan Galungan, Penampahan Galungan, Hari Galungan, dan Manis Galungan, sampai hari Pegat Uwakan. Pada hari Tumpek Pengatag atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga dimana pada hari ini dimaknai sebagai proses menyambut hari suci Galungan, yang tujuan utamanya sebagai hari pensucian alam semesta, seperti tumbuh - tumbuhan sehingga diperingati sebagai hari untuk mengupacarai tumbuh - tumbuhan. Namun pada sebuah rangkaian ini yang patut dipahami bahwa Kota Denpasar kini sudah menjadi kota metropolitan, kota yang heterogen dan kota dengan modernisasi yang tinggi, sehingga agama tampil sebagai jiwa /spirit dalam tindakan untuk menjaga keseimbangan perubahan tersebut.
Seperti dijelaskan oleh Bapak I Nyoman Dayuh (Penyuluh Agama Hindu) dari Kementerian Agama Kota Denpasar, pada sesi talkshow interaktif di Studio RPKD 92,6 FM, menjelaskan bahwa Galungan ini sejatinya lahir dari masyarakat agraris yang selalu menghargai alam, namun saat ini sudah semakin terkikis oleh adanya pembangunan. Dengan spirit agraris yang religius, menjadikan masyarakat Bali mampu mempertahankan nilai - nilai religi dan jati dirinya.
Sebagai rangkaian penting selanjutnya adalah perayaan Hari Sugihan, yang diambil dari kata "Sugi"; yang berarti membersihkan, menyucikan buana agung dan buana alit. Sugihan Jawa yang intinya adalah pada kebersihan buana agung atau alam semesta, atau Parhyangan seperti penyucian pada tempat - tempat suci atau pelinggih, tempat pemujaan, peralatan upacara, dimana masyarakat ditujukan untuk membersihkan tempat - tempat pemujaan sebelum Hari Suci Galungan tiba.
Sedangkan Sugihan Bali dimaksudkan hari penyucian buana alit (mikrokosmos), atau pada diri sendiri, yang dilakukan dengan melukat atau membersihkan raga pada sumber - sumber mata air atau tirta pangelukatan.
Dalam rangkaian hari raya tersebut juga mengandung nilai - nilai kesenangan, seperti pada saat Hari Penampahan Galungan, dimana biasanya kaum pria menyambutnya dengan membuat penjor dan ngelawar, yang didalamnya terkandung makna kebersamaan.
Sehingga dari rangkaian hari raya tersebut diharapkan masyarakat disucikan dan dibersihkan secara lahir dan batin untuk mencapai ketentraman, kedamaian, dan kebenaran.(bc)