Tumpek Landep akan segera diselenggarakan tepat hari Saniscara Kliwon Wuku Landep pada tanggal 4 Februari 2017, ritual ini untuk menyucikan benda-benda pusaka atau benda-benda yang terbuat dari besi, secara konsep tattwa tumpek landep memiliki arti merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah (pikiran). Melalui upacara pada tumpek landep ini diharapkan tingkah laku perbuatan umat selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa menggunakan viveka dengan memilah mana yang baik maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran juga kesedihan menggelayut di hati. Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa pikiran adalah rajanya Indria. Sesayut pasupati itu lambang untuk mengingatkan manusia agar mengupayakan pikiran menjadi senjata Pasupati yaitu kekuatan untuk menguasai gejolak indria. Kalau pikiran itu tajam maka indria pun akan tumpul dan patuh pada arahan pikiran. Pikiran yang menjadi rajanya indria inilah yang harus terus diperjuangkan dalam hidup ini.
Dalam Tumpek Landep secara umum untuk merayakannya, masyarakat Hindu menggelar kegiatan ritual yang khusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, yang berkat jasanya telah mampu memberikan kemudahan bagi umat dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya adalah benda-benda pusaka, semisal keris, tombak, sampai kepada kendaraan bermotor, komputer, dan sebagainya. Disamping hal tersebut, sesungguhnya hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.
Melalui perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar. Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup. Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.
Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan(*erd).