Untuk menentukan Dewasa Ayu dicari pada saat bulan bercahaya paling terang maupun pada saat matahari berada dekat dengan Garis Khatulistiwa , demikian disampaikan oleh Gede Sutarya, Dosen Wariga Institut Hindu Dharma dalam session talkshow yang diselenggarakan RPKD Fm dengan tema “Menentukan Dewasa Ayu Dalam Konteks Kekinian” di pagi ini (18/07).
Dalam wewaran dan ala ayuning dewasa disebutkan bahwa setiap hari ada hal-hal yang baik dan ada hal-hal yang buruk, disebabkan karena pengaruh dari posisi bumi, bintang, bulan yang selalu berubah terhadap matahari.
Ada 7 macam wewaran, salah satunya triwara, yaitu: pasah, beteng, kajeng. Siklus 3 hari ini adalah akibat perubahan posisi bulan mengelilingi bumi. Setiap lima kali siklus triwara akan terjadi purnama atau tilem.
Dalam keyakinan tradisi beragama Hindu di Bali, angka lima adalah perwakilan dari Panca Dewata, yaitu: Ishwara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Tripurusha. Karena tripurusha adalah yang kelima dan juga akhir dari siklus maka purnama dan tilem yang terjadi tepat pada akhir putaran kelima itu lalu disakralkan.
Awal dari siklus triwara, yaitu Pasah, juga disakralkan sebagai awal semua siklus yang ada, sehingga dalam mithologi dikatakan bahwa awal itu (pasah) patut dihormati karena para Dewa sedang berkonsentrasi melakukan putaran untuk mencapai siklus berikutnya, maka pada saat pasha tidak dianjurkan melakukan yadnya.
Ada beberapa hari yang dianggap tidak baik untuk menyelenggarakan pernikahan atau pawiwahan menurut tradisi Hindu di Bali , yaitu sebagai berikut :
1. Rangda Tiga
Rangda tiga merupakan wuku tertentu yang dianggap buruk untuk melangsungkan pernikahan. Wuku-wuku itu yakni Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail dan Prangbakat. Ada keyakinan, jika menikah pada saatrangda tiga, perkawinan bisa berakhir dengan perceraian. “Rangda itu artinya janda(bisa juga duda). Rangda tiga artinya tiga kali menjadi janda atau duda, artinya pernikahan akan selalu gagal,” ujar penyusun kalender Bali dari Buleleng, Gede Marayana.
2. Was Penganten
Was Penganten merupakan hari-hari tertentu seperti Minggu Kliwon dan Jumat Pon wuku Tolu, Minggu Wage dan Sabtu Kliwon wuku Dungulan, Minggu Umanis dan Sabtu Pahing wuku Menail serta Minggu Pon dan Sabtu Wage wuku Dukut. Hari-hari ini juga dianggap kurang baik untuk melangsungkan pernikahan.
3. Uncal Balung
Nguncal Balung yakni hari sepanjang 35 hari, sejak Buda Pon Sungsang atau sehari sebelum Sugihan Jawa atau seminggu sebelum Galungan hingga Buda Kliwon Wuku Pahang yang juga kerap disebut sebagai Buda Kliwon Pegat Wakan. Pada hari itu, umat Hindu biasanya dipantangkan untuk melaksanakan upacara-upacara besar, utamanya yang bersifat ngewangun seperti ngaben dan pernikahan.
4. Panglong
Panglong yakni hari sesudah bulan purnama. Hari yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan yakni pada penanggal yakni hari sesudah tilem (bulan mati).
5. Ingkel Wong
Ingkel wong artinya hari-hari naas bagi manusia. Karenanya, saat itu tidak baik melaksanakan kegiatan atau upacara yang berkaitan dengan manusia termasuk pernikahan
Kelima hari tersebut merupakan hari-hari yang patut dihindari untuk menyelenggarakan pernikahan. Namun tradisi padewasan di Bali tidaklah kaku benar , misalkan saja ada kondisi seorang perempuan yang sudah terlanjur hamil dan si lelaki bersedia bertanggung jawab, akan tetapi pada saat itu dalam waktu dekat tidak ada hari /dewasa yang baik, jika ditunggu padewasan yang paling baik, anak yang lahir dari perempuan itu bisa dikategorikan sebagai anak bebinjat, karena itu dibijaksanai untuk memilih hari yang dianggap kurang baik untuk upacara pernikahan dengan menyertakan caru pemarisudha mala dewasa.
“Ritual Hindu di Bali sebenarnya tidaklah ribet, semua sebenarnya sudah diberikan solusi dari setiap permasalahan didalam melaksanakan ritual atau upacara, mungkin karena kurang mengerti terhadap solusi-solusi yang ada sehingga seakan-akan tata cara upacara menjadi saklek” demikian Gede Sutarya menutup pembicaraan.
[rah]
~***~
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026