Talkshow : Melalui Rainan Tumpek Uduh/Pengatag, Kita Tingkatkan Pemeliharaan Kelestarian Lingkungan Sebagai Bentuk Persembahan Kepada Sang Hyang Sangkara”
Narasumber : Drs. I Gusti Ketut Widana,M. Si
Tumpek berasal dari kata metu dan pek, metu yang berartilahir/keluar, pek artinya putus / berakhir, jadi tumpek adalah rainan yang dilaksanakan setiap akhir bertemunya dua wewaran.Tumpek uduh jatuh pada saniscara kliwon wuku wariga. Tumpek uduh dikenal dengan banyak namaya itu tumpek wariga, tumpek bubuh, tumpek pengatag, dan tumpek pengarah, namun dari banyak nama itu, memiliki makna yang sama yaitu mencintai lingkungan khususnya tumbuh tumbuhan.
Dalam talkshow yang berlangsung 1 jam ini, Ibu Elvin bertanya pada narasumber mengenai pekarangannya yang sempit, hanya ada tanaman pot. Bagaimana cara mebanten saat rahina tumpek uduh? Dijelaskan oleh BapakWidana ,dalam pelaksanaan tumpek uduh ini diyakini ada pohon yang dapat mewakili segala jenis pepohonanyaitu pohon kelapa atau jenis bunga lainnya yang proses tumbuh yang besar. Jika dalam pot dengan ketinggian kurang dari 1 meter, tidak harus melakukan persembahan, namun tetap dapat menghaturkan canang.
Dalam talkshow yang berlangsung 1 jam ini, Ibu Elvin bertanya pada narasumber mengenai pekarangannya yang sempit, hanya ada tanaman pot. Bagaimana cara mebanten saat rahina tumpek uduh? Dijelaskan oleh Bapak Widana ,dalam pelaksanaan tumpek uduh ini diyakini ada pohon yang dapat mewakili segala jenis pepohonan yaitu pohon kelapa atau jenis bunga lainnya yang proses tumbuh yang besar. Jika dalam pot dengan ketinggian kurang dari 1 meter, tidak harus melakukan persembahan, namun tetap dapat menghaturkan canang.
Di hari tumpek uduh, menghaturkan banten di pohon yang dianggap bisa mewakili pohon lainnya, kemudian menepuk pohon ,menorehkan kulit kayu pohon tersebut yang kemudian digunakan untuk menempatkan banten tumpek uduh sambil melantunkan sahe “ kaki kaki malih selae dina jagi galungan, mebuah nyen apang nged nged nged”.
Kewajiban umat hindu tidak usai hanya sampai di ritual / mebanten saja, namun juga ikut melestarikan lingkungan. Jika pada saat upacara menggunakan unsur alam tanpa ikut melestarikan dan menjaga, tentunya akan habis. Mari cintai lingkungan kita. (nr)