Narsumber : Cok Wisnu Wardana
Hari Raya Galungan merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Perayaan Galungan identic dengan pemasangan Penjor yang bermakna tegaknya Dharma dan dipasang didepan rumah .
10 hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan sebagai ungkapan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya. Bila Galungan identic dengan pemasangan Penjor, maka Kuningan identic dengan nasi kuning yang sebagai simbolis bermaknasebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan, selain itu di tiap-tiap Palinggih juga digantungkan “tamiang” sebagai simbolis tameng atau perisai yang memiliki makna sebagai pelindung dari serangan kekuatan adharma.
35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026