Nara Sumber : Bpk Nyoman Dayuh ( Kementrian Agama Kota Denpasar )
Host : Wisnu
Tumpek Pengatag atau Wariga merupakan salah satu Hari Raya umat Hindu di Bali yang diperingati 25 hari sebelum hari raya Galungan yang bertepatan pada hari Saniscara Kliwon wuku Wariga. Tumpek wariga merupakan hari dimana umat Hindu di Bali menghaturkan sesajen kepada tumbuh – tumbuhan yang ada di bumi sebagai rasa syukur manusia atas segala kelimpahan makanan dan banyak fungsi dari tumbuh – tumbuhan yang membantu kehidupan manusia.
Makna dari Tumpek Wariga atau Pengatag itu sendiri memiliki makna yanag sangat mulia. Dimana kita sebagai manusia harus saling menjaga hubungan baik dengan Tuhan, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, dan hubungan baik dengan lingkungan ( tumbuh – tumbuhan ) sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana ( Tiga Penyebab Keseimbangan Alam Semesta ). Dengan dilaksanakannya tumpek wariga ini, manusia setidaknya bisa ingat atas jasa – jasa tumbuhan kepada manusia , sehingga manusia dapat menjaga lingkungan , dan sebaliknya lingkungan juga dapat menjaga kita sesuai dengan Hukum Aksi Reaksi.
Secara filosofi makna dari tumpek pengatag ini sebagai ungkapan rasa syukur atas segala karunia Hyang Widhi Wasa berupa berbagai jenis makanan yang dihasilkan oleh tanam – tanaman. Ritual ini juga disertai harapan agar tanam – tanaman dapat menghasilkan dengan baik, sebab 25 harinya lagi adalah perayaan Hari Raya Galungan.
Maka melalui hari raya Tumpek Wariga atau Pengatag ini, manusia pada umumnya dan umat Hindu pada khususnya mulai belajar untuk bisa menanam, memelihara tumbuh – tumbuhan melalui reboisasi atau penghijauan kembali. Kita sebagai manusia yang disebut insan Tuhan yang paling sempurna yang memiliki pikiran, janganlah kita selalu saling memfitnah, menghina, dan saling menyalahkan orang lain, dan kita sendiri harus sadar bahwa yang lewat itu adalah dipakai guru yang paling berharga untuk belajar menuju yang lebih baik dan sejahtera.
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026