Menu

KAJIAN PENYEBAB BANJIR DI KOTA DENPASAR

  • Selasa, 14 Maret 2017
  • 2500x Dilihat

Masalah banjir pada beberapa saluran drainase merupakan persoalan serius yang dihadapi Kota Denpasar, bukan hanya menimbulkan pemandangan dan kesan lingkungan yang kotor, tetapi dapat merembet juga pada fasilitas umum, seperti ; Kemacetan lalu lintas, rusaknya sarana dan prasarana transportasi, berkurangnya kenyamanan, bau busuk, dan berbagai penyakit yang timbul pasca banjir.

Sebelumnya ke inti permasalahan banjir di Kota Denpasar terlebih dahulu, Bapak I Ketut Soriarta, ST. M.Si sebagai narasumber pada talk show kali ini memaparkan mengenai Sistem Drainase di Kota Denpasar, yang terdiri dari:

1.      Sistem I (Sistem Tukad Badung)

Dengan sub system : Tukad Oongan, Tukad Jurang, Tukad Badung Hilir, dan Tukad Badung Hulu.

2.      Sistem II (Sistem Tukad Ayung)

Dengan sub system : Tukad Abian Base, Tukad Ayung Hulu, dan Tukad Ayung Hilir.

3.      Sistem III (Sistem Tukad Mati)

Dengan sub system : Tukad Teba, Tukad Mati Hulu, dan Tukad Mati Hilir.

4.      Sistem IV (Sistem Niti Mandala-Suwung)

Dengan sub system : Tukad Loloan, Tukad Ngenjung, Tukad Punggawa, Tukad Panjer, Tukad Rangda dan Tukad Pekaseh.

5.      Sistem V (Sistem Pemogan)

Berupa saluran kecil-kecil yang belum jelas alirannya dan masih berupa sawah atau lahan tidak produktif.

Beberapa sistem drainase di kota denpasar saat ini yang sudah mendapat penanganan dari pemerintah pusat, Provinsi Bali, dan Kota Denpasar yang menggunakan anggaran APBN adalah Tukad Tebe, Tukad Punggawa yang posisinya di Renon, sampai di Tukad Rangda, dan beberapa sistem drainase lainnya masih perlu penanganan dari Pemerintah.

Selain memaparakan mengenai sistem drainase yang ada di Kota Denpasar, Bapak I Ketut Soriarta, ST. M.Si juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan banjir pada saluran drainase di Kota Denapasar, yaitu ; a. Perubahan kondisi lingkungan pada daerah pengalirannya (Chatment area) yang menyebabkan meningkatnya debit aliran permukaan (surface run off) sehingga kapasitas saluran yang ada tidak mampu lagi menampungnya, b. Terjadi sumbatan sampah atau sidemen pada penampang saluran, sehingga kapasitas saluran mengecil dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan c. Terjadi Komplikasi antara faktor perubahan lingkungan dan sumbatan sampah atau sedimen.

Saluran drainase harus dijaga agar tidak tersumbat oleh sampah, oleh karena itu saluran drainase harus selalu dibersihkan dan tidak boleh digunakan sebagai tempat membuang sampah. Saluran yang bersih dan terbebas dari sampah atau sidemen dapat mengalirkan air sebesar kapasitas terpasang. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk mengusahakan agar saluran dapat mengalirkan air sebesar kapasitas terpasang, kurangnya partisipasi dari masyarakat baik dalam membersihkan saluran maupun dalam disiplin membuang sampah menyebabkan berkurangnya kapasitas terpasang.