Hari suci Tumpek Krulut yang dirayakan di Bali dimaknai sebagai hari kasih sayang, yang perayaannya dilaksanakan setiap 210 hari pada Saniscara(Sabtu) Kliwon, wuku Krulut. Kata Krulut diambil dari kata “lulut” yang bermakna sayang, cinta, rangakaian/ikatan dan welas asih. Moment ini adalah salah satu implementasi Tri Hita Karana yang melibatkan Yadnya atau korban suci, dimana korban suci adalah bagian dari cinta yang tulus.
Dalam penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H yang merupakan dosen UNHI dan Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar, dalam acara talkshow interaktif (Jumat, 19 Mei 2017) dalam menyambut hari tumpek krulut tanggal 20 Mei 2017, di studio RPKD 92,6 FM, menyampaikan bahwa Tumpek Krulut tidak hanya dimakanai sebagai hari kasih sayang kepada sesama manusia, tapi juga kasih sayang kepada semua mahkluk. Kasih sayang dalam tumpek krulut ini juga dimaknai sebagai suatu rangkaian/ikatan yang kemudian di masyarakat hindu bali memaknainya juga sebagai tumpek gong, karena dalam lontar sundari gama menyebutkan bahwa tumpek krulut ini adalah hari suci yang dirayakan untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Iswara, sebagai manisfestasi Tuhan yang membidangi tentang berbagai unsur seni, dan berbagai unsur keindahan. Sehingga tumpek krulut yang juga diartikan sebagai tumpek gong, karena gong diimplementasikan sebagai alat yang dapat menimbulkan suara – suara atau bunyi – bunyian yang indah.
Banten atau sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu peras, pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong. Dan segala yang dihaturkan juga dalam keadaan utuh seperti telur, buah-buahan, dan lain sebagainya. Sebelum menghaturkan upacara ini dilakukan upacara mabyekala atau beakaon sebagai upacara penyucian untuk menghilangkan segala mala. Di hari ini juga dipercaya sebagai hari untuk melakukan ritual penyembuhan bagi anak – anak yang sulit berbicara.(bc)
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026