Menu

ESENSI HARI SUCI NYEPI

  • Kamis, 03 Maret 2016
  • 2397x Dilihat

Talkshow Hari Raya Nyepi ( Kamis, 3 februari 2016 )

Tema               :  ESENSI HARI SUCI NYEPI

Narasumber  :   Bapak Nyoman Dayuh ( Kementrian Agama Kota Denpasar )

Host                 :  Wisnu

     Nyepi berasal dari kata sepi, sunyi, senyap. Hari Raya Nyepi adalah Hari Suci Umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Caka, jatuh pada hitungan tilem kesanga yang di percaya merupakan hari penyucian dewa – dewa yang berada di pusat samudra yang membawa intisari Amerta air hidup.

    Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia yaitu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis, sehingga melalui perayaan Nyepi dalam hening dan sepi kita kembali kejati diri ( mulat sarira ) dan menjaga keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan, ( Bhuta ) dan sesame sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud.

    Menurut Narasumber kita Bapak Nyoman Dayuh, Tujuan Hari Suci Nyepi adalah Penyucian bhuana agung dan bhuana alit ( makro dan mikrokosmos ) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin ( jagadhita dan moksa ), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam ( kebenaran ), siwam ( kesucian ), dan sundaram ( keharmoisan atau keindahan ).

     Sejarah Hari Suci Nyepi di mulai pada masa pemerintahan Raja Kaniska dari Dinasti Kushana yang naik tahta pada tahun 78 Masehi, pusat kerajaannnya adalah Purusapura ( sekarang Pesawar, Pakistan ). Raja ini sangat bijaksana bahkan pada hari minggu tanggal 21 Maret 78 Masehi, Purnama Waisaka, kebetulan hari itu gerhana bulan menetapkan Panchanga ( system kalender Saka ). Untuk mengenang kejayaannya dan hari penobatannya, sejak itulah ditetapkan tahun perayaan tahun saka.

     Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang di lakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

1.      Melasti

Tiga atau Dua hari sebelum Nyepi, Umat Hindu melakukan Penyucian dan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis tau Mekiyis. Pada hari tersebut segala sarana persembahyangan yang ada di Pura di arak ke pantai atau danau, karena laut dan danau adalah sumber air suci ( tirta amerta ) dan bisa menyucikan segala leteh ( kotor ) di dalam diri manusia dan alam.

2.      Bhatara Nyejer di Bale Agung

Nyejerartinya tegak, bersemayam dalam beberapa hari ( bhatara, dewa ). Bhatara Nyejer di bale agung dilaksanakan sampai pada puncak pelaksanaan Tawur kasanga yaitu pada Tilem Kasanga. Yang bermakna Permohonan agar seluruh prabhawa Sang Hyang Widhi berstana di Bale Agung.

3.      Tawur Kasanga dan Pengrupukan

Di tingkat Kabupaten Kota sebelum Tawur Kasanga dilakukan upacara Mapapada, yang artinya memutar atau mengitari. Mapapada artinya rangkaian ritual untuk penyucian upakara utamanya binatang ( kerbau, babi, ayam, itik ) dan sebagainya sebelumnya disembelih di upacarai ( sakralisasi ) khususnya upacara bhuta yadnya pada tingkatan utama.

4.      Puncak Acara Nyepi

Keesokan harinya yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kadasa tibalah Hari Raya Nyepi sesunguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “ Catur Brata “ Penyepian yang terdiri dari Amati Geni ( tidak menggunakan atau menghidupkan api ), Amati Karya ( tidak bekerja ), Amati Lelungaan ( tidak bepergian ), Amati Lelanguan ( tidak  menikmati  hiburan ).

5.      Ngembak Geni

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “ pinanggal ping kalih “ sasih kadasa. Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut mamasuki hari kedua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluaraga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling memaafkan ( ksama ) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.(GP)