Menu

EARTH HOUR

  • Jumat, 18 Maret 2016
  • 1302x Dilihat

Menjelang akhir Maret setiap tahunnya diadakan kegiatan “EARTH HOUR” yang merupakan kampanye inisiasi publik, untuk menyatukan masyarakat dari seluruh dunia dalam menegakkan komitmen gaya hidup hemat energi dengan cara mematikan lampu dan alat elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam. Kegiatan EARTH HOUR tahun 2016 ini merupakan tahun ke – 8 diadakan di Indonesia, yang awalnya dari tahun 2007 komunitas Earth Hour semakin berkembang pesat, dapat dilihat dari partisipasi negara, kota, dan pendukung individu dari seluruh dunia. Dan untuk tahun 2016 ini akan diselenggarakan pada tanggal 19 Maret 2016, yang rangkaian acaranya dimulai dari sore hari pada pukul 17.00 Wita sampai pukul 21.45 Wita. Sedangkan untuk puncak acara atau kegiatan selebrasinya diadakan pada pukul 20.30 – 21.30 Wita yang di pusatkan di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, yang mengangkat tema “Efisiensi Energi dan Energi Terbarukan. Kegiatan publik ini akan diramaikan dengan street campaign, long march, aksi switch off selama satu jam, pameran isu energi terbarukan oleh sejumlah komunitas, LSM dan perusahaan, hiburan musik akustik, puisi, tari, stand up comedy dan lainnya.
Data terakhir 2014, komunitas Earth Hour mencatat dukungan ratusan juta individu di 7.000 kota dari 162 negara. Berkat intensitas kampanye yang dilakukan berbagai komunitas, media massa, dan aktifitas di dunia maya, jumlah kota yang berpartisipasi di Earth Hour 2014 mencapai lebih dari 30 kota. Earth Hour ini bertujuan untuk mendorong individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan yang saling berhubungan untuk menjadi bagian dari perubahan untuk dunia yang berkelanjutan. Dimulai dengan langkah awal semudah mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak terpakai sebagai komitmen hemat energi untuk Bumi, dan juga merupakan momentum menampilkan kepada dunia tentang perilaku hemat energi yang sudah dilakukan. Selain itu juga untuk mengajak publik melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini, dianggap berhasil bila bisa dilakukan semua orang, kapan saja, dimana saja, sesering mungkin, tanpa menunggu orang lain atau momen tertentu. Tahun 2016 ini Indikator sukses Earth Hour di Indonesia adalah partisipasi aktif dan komitmen dari komunitas dan pemerintah kota seluruh Indonesia untuk mematikan lampu. “Shine a Light on Climate Action”
Sampai saat ini lebih dari 1 Juta penduduk Indonesia telah menjadi bagian dari kampanye Earth Hour Indonesia. Pemimpin Daerah dan Kota yaitu Gubernur DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Kapolda NAD, Walikota 5 Wilayah di Jakarta, Walikota/Bupati dari kota: Banda Aceh, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Pontianak, Samarinda, Sidoarjo, dan Denpasar.
Komunitas pendukung Earth Hour selalu mengajak dengan memberi contoh. Oleh karena itu, tema Earth Hour Indonesia selalu berubah per tahun mengikuti prinsip “dialektika gerakan” dari tahun sebelumnya dan mencari relevansi yang dekat dengan isu lokal. Di Indonesia Earth Hour 2016 mengangkat tema : “Hijaukan Hutan, Birukan Laut” , dengan pesan yang lebih singkat yaitu, “Ini Aksiku”. Dengan tema dan pesan ini ditujukan untuk lebih berfokus kepada gerakan aktivasi dan konservasi untuk 7 issue utama secara nasional, yaitu :
1. Laut & pesisir
2. Deforestasi
3. Biodiversity
4. Sampah
5. Sungai & air
6. Transportasi
7. Energi
Target utama kampanye Earth Hour Indonesia, adalah :
1. Untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi,
2. Berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan
3. Mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan pemerintahan dan korporasi untuk secara signifikan melakukan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan mereka.
Tujuan kampanye Earth Hour Indonesia
1. Menjaring sebanyak-banyaknya individu, rumah tangga, dan pemerintahan untuk ikut mematikan lampu sebagai simbol kontribusi mereka terhadap perubahan iklim
2. Mengajak dan mengedukasi masyarakat mengenai pemanasan global dan apa yang bisa dilakukan setiap individu untuk menjadi bagian dari perubahan untuk mengurangi penggunaan emisi mereka
3. Menjaring partisipasi korporasi untuk mengomunikasikan EARTH HOUR, baik staf mau pun jejaring eksternal untuk berkomitmen mematikan lampunya dan melakukan perubahan kebijakan dalam pengunaan energi
4. Terbentuknya kegiatan komunitas hijau masyarakat di berbagai kota di Indonesia.
Dukungan dari makin banyak pemimpin Daerah dan Kota di seluruh wilayah Indonesia, Presiden, Menteri Lingkungan Hidup berupa perubahan kebijakannya terkait penghematan energi. “Bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, tetapi harus terus dibuktikan setiap hari, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup ramah lingkungan lainnya, seperti: mengendalikan penggunaan listrik, hemat penggunaan kertas/tisu, aktivasi transportasi publik, mengurangi potensi sampah atau melakukan pemilahan sampah, dan lain-lain.