Narasumber : I Made Adi Surya Pradnya ( Dosen Fakultas Brahma Widya, IHDN Denpasar)
Hari/Tanggal : Jumat, 12 Agustus 2016
Penyiar : Arie Kumbara
Tumpek Pengatag atau Wariga merupakan salah satu hari raya umat Hindu di Bali yang diperingati 25 hari sebelum hari raya Galungan yang bertepatan pada hari saniscara kliwon wuku wariga dalam kalender caka/Bali. Tumpek wariga merupakan hari dimana umat hindu di Bali menghaturkan sesajen yang ditunjukkan kepada Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan.
Secara umum, tata cara pelaksanaan Tumpek Wariga , yaitu dengan dipersembahkan bubur sumsum yang terbuat dari tepung, Banten Prass, Banten Nasi Tulung Sesayut, Banten Tumpeng, Banten Tumpeng Agung, Ulam itik (diguling), banten penyeneng, Tetebusan, dan canang sari. Banten tersebut dihaturkan menghadap Kaja-Kauh dan ditunjukkan kepada Bhatara Sangkara sebagai Dewanya tumbuh-tumbuhan. Kemudian, semua tanaman yang ada di sekitar rumah atau pekarangan diberikan sasat gantungan dan diikat di bagian batangnya. Setelah itu, diberikan bubur sumsum. lalu, "atag", dipukul tiga kali dengan pisau tumpul dan mengucapkan mantra sebagai berikut : “ Kaki-kaki buin selai lemeng Galungane mangde mebuah ngeed, ngeed ngeed “.
Manfaat perayaan Tumpek Wariga bagi kehidupan manusia, yakni diharapkan tumbuhan yang sudah diupacarai dapat memberikan hasil yang berlimpah, agar nantinya bisa digunakan dalam pelaksanaan hari raya Galungan selain itu melalui perayaan Tumpek Wariga ini sejatinya umat Hindu diingatkan betapa pentingnya merawat alam dengan menanam tumbuh-tumbuhan agar keseimbangan alam pun tetap terjaga (A.K).
02 Oktober 2025
03 Oktober 2025
01 Oktober 2025
08 Januari 2026