Menu

“TALKSHOW TUMPEK KRULUT”

  • Senin, 24 Oktober 2016
  • 1150x Dilihat

Tema : Harmonisasi Cinta Kasih Dalam Kehidupan Remaja Kekinian Perspektif Hindu

Hari/Tanggal: Senin, 24 Oktober 2016

Narasumber : Ketut Sandika ( Dosen IHDN Denpasar, Fakultas Dharma Acarya)

Penyiar : Arie Kumbara

 

Hari suci Tumpek Krulut jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Krulut,yaitu setiap 6 bulan atau 210 hari kalender. Pada hari Tumpek Krulut , umat Hindu mengadakan pemujaaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk manifestasiNya sebagai Sang Hyang Iswara. Istilah dari Tumpek Krulut , berasal dari kata “lulut” yang memiliki makna jalinan atau rangkaian dan beberapa tahun belakangan ini, maknanya berubah menjadi hari kasih sayang. Beberapa Sastra seperti Lontar Aji Gurnita, Lontar Aji Prakempa, dan Lontar Purwa Gara Sesana menyebutkan bahwa Hyang Iswara diturunkan ke dunia, untuk mengajarkan seni (alat musik), dari kesenian itulah memunculkan rasa yang dekat dengan hati, kemudian dari hati memunculkan kasih sayang, jadi dapat disimpulkan bahwa hari Tumpek Krulut merupakan wujud dari kasih sayang terhadap kesenian, berupa gamelan atau tetabuhan.

Pada hari Tumpek Krulut , umat hindu mempersembahkan banten Sesayut Lulut Asih, kemudian ditambahkan pula dengan sarana seperti (Pengambaian, Peras, Daksina, Prayascita, segehan) dan yang terpenting banten ketipat gong yang ditunjukkan kehadapan Hyang Iswara.

Selain di Bali, hari Kasih sayang juga dirayakan di India,ini dapat terlihat pada pelaksanaan ritual Raksa Banda dan Walmiki Jayanti. Dalam perayaan Raksa Banda, umat hindu India merayakannya dengan mengikat benang merah oleh pasangan atau orang tua, benang tersebut sebagai simbol persamaan atau persatuan, sedangkan perayaan Walmiki Jayanti merupakan hari kasih sayang yang mengambil etos cerita dari Kitab Ramayana *(M.A.K).