Menu

TALKSHOW WACANA PRAJA TENTANG CUACA EKSTREM, SELASA, 1 FEBRUARI 2011

  • Rabu, 02 Februari 2011
  • 387x Dilihat
TALKSHOW WACANA PRAJA TENTANG CUACA EKSTREM, SELASA, 1 FEBRUARI 2011
TALKSHOW WACANA PRAJA TENTANG CUACA EKSTREM, SELASA, 1 FEBRUARI 2011 Cuaca Ekstrem tentu sudah dirasakan oleh seluruh penduduk Bali, dan utamanya di Kota Denpasar. Derasnya hujan disertai angin kencang sering terjadi di wilayah kota Denpasar. Untuk mengungkap penyebab serta antisipasi yang bisa dilakukan masyarakat, RPKD FM menghadirkan para ahli dalam talkshow interaktif Wacana Praja di hari Selasa, 1 Februari 2011. Talkshow berlangsung selama 1 jam mulai pukul 09.00 hingg 10.00 wita di pandu oleh Penyiar Yenni. Talkshow dengan tema “Cuaca Ekstrem” ini menghadirkan 4 orang narasumber yang terdiri dari : Bapak Nyoman Suarsa dari Badan Meteorologi Klimatolagi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Bapak dr. I Made Sudhana Satrigraha, M.Si yang merupakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar. Hadir pula Bapak Agus Prihantara Mertha dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar dan Bapak Gusti Ngurah Putra Sanjaya dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Denpasar. Dipaparkan oleh Bapak Suarsa dari BMKG bahwa secara Klimatologis bulan ini merupakan musim penghujan, dan juga tahun ini merupakan tahun La Nina yang biasanya muncul 2 tahun sekali. Fenomena La Nina itu berupa penghangatan suhu muka laut sebesar 0,5 hingga 2 derajat Celsius, yang mengakibatkan penguatan aliran udara dari Pasifik Tengah ke Pasifik Barat atau Indonesia. Inilah yang menyebabkan cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi di Bali. Saat ini matahari bergerak dari kutub selatan menuju equator / khatulistiwa sehingga Bali mendapat panas yang optimal. Hal ini menyebabkan awan kovektif yang aktif menjadi awan – awan hujan. Sedangkan angin puting beliung diawali oleh awan cibi akibat pemanasan yang terlalu tinggi berlangsung di permukaan laut dengan anomali sangat besar menyebabkan penguapan sangat besar pula dan energi sangat kuat untuk menjadi hujan lebat dan angin kencang. Angin puting beliung ini bersifat lokal, tidak bisa diprediksi dan durasinya pendek sekitar 5 hingga 10 menit. Fenomena La Nina rata – rata kita rasakan 2 tahun sekali tapi maksimal terjadi 10 tahun sekali. Prediksi dari BMKG untuk musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem masih berlangsung hingga akhir Februari sedangkan tahun La Nina biasanya awal musim hujan lebih cepat dan berakhirnya lebih lama. Masih menurut prediksi BMKG tahun La Nina akan berlangsung sampai bulan April, dan akan melemah pada bulan Mei. Turut serta bergabung bapak Janatuna melalui line telepon 244444 yang bertanya, “Apa penyebab hujan es yang pernah saya alami di Sibang Gede?” Dijelaskan oleh bapak Nyoman Suarsa, hujan es terjadi karena awan cibi yang menjulang tinggi melewati batas missing level / masa udara dingin dan titik beku sehingga berubah menjadi es. Es yang terbentuk adalah es batangan, karena jatuh ke permukaan bumi bergesekan dengan atmosfir sehingga mengecil sekecil kacang atau kelereng. Bapak Sudhana dari BPBD Kota Denpasar menjelaskan konsekuensi dari curah hujan tinggi adalah terjadinya banjir, tanah longsor, maupun pohon tumbang. Fungsi dari BPBD adalah koordinasi dengan mengkoordinir SKPD lain. Jika terjadi banjir yang menjadi partner kerja BPBD adalah Dinas PU, jika terjadi pohon tumbang BPBD pastilah berkoordinasi dengan DKP dan untuk membaca prediksi cuaca, BPBD berkoordinasi dengan BMKG. Selanjutnya bapak Ngurah dari Dinas P.U. Kota Denpasar menjelaskan Dinas PU Kota Denpasar menerapkan 3 langkah mengantisipasi cuaca ekstrem. Yang pertama yakni pencegahan, antara lain berupa melaksanakan pembersihan alur sungai serta membuat sodetan di titik - titik yang rawan banjir di Kota Denpasar. Untuk tahun 2010 Dinas P.U. Kota Denpasar telah membuat sodetan dari tukad Pakerisan menuju tukad Rangda dan di tahun 2011 bekerjasama dengan Dinas P.U. Provinsi untuk membuat sodetan dari tukad Teba menuju tukad Badung. Fungsi dari sodetan ini untuk mengurangi genangan maupun banjir di Monang – maning, Pemecutan Kelod dan di Pura Demak. Langkah kedua yakni pada saat banjir senantiasa berkoordinasi dengan BPBD. Koordinasi dilakukan dengan rig, maupun HT, sehingga saat terjadinya bencana, Dinas P.U. mendapat informasi lebih awal melalui BPBD, RPKD maupun Call Center Kota Denpasar. Selanjutnya Bapak Agus dari DKP menjelaskan bahwa DKP sudah mempersiapkan pasukan yang terdiri dari 4 kendaraan untuk memantau keadaan di lapangan, mengantisipasi pohon tumbang. Seperti kemarin, terjadi 16 kasus pohon tumbang dan DKP pun menyebar pasukan tersebut termasuk berkoordinasi dengan Dinas P.U. maupun BPBD. Untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, DKP melakukan perompesan yang bertujuan untuk meringankan beban pohon dan menumbuhkan cabang baru guna memperkuat batang pohon. Apabila di lapangan ditemukan adanya batang pohon yang mulai membusuk seperti busuk batang dan lain sebagainya maka akan langsung ditebang. Sebelum talkshow berakhir, dijelaskan oleh bapak Sudhana, BPBD menggelontorkan program Busana yakni Budaya Sadar Bencana. Busana tiada lain adalah kegiatan pada saat sebelum bencana. Misalnya, penduduk yang tinggal bantaran sungai diberikan pengetahuan apa yang harus dilakukan pada saat hujan lebat. -dyt-