Menu

Talkshow Suara Lentera Senin, 12 Juli 2010 PEREMPUAN POSITIF HIV/AIDS

  • Selasa, 13 Juli 2010
  • 517x Dilihat
Talkshow Suara Lentera Senin, 12 Juli 2010 PEREMPUAN POSITIF HIV/AIDS
Ikatan Perempuan Positif Indonesia ( IPPI ) Bali kembali menyapa warga kota dalam Talkshow Suara Lentera Senin, 12 Juli 2010. Adapun tema yang di angkat adalah “Perempuan dengan HIV/AIDS” bersama narasumber Putu Utami dan penyiar Krisna, hadir juga penyiar pendamping Suarni dalam talkshow yang berlangsung selama 1 jam ini. Mengawali Talkshow, Putu Utami menjelaskan Perempuan penderita HIV di dalam tubuhnya sudah terdapat virus namun belum tahap AIDS. Pada umumnya penderita HIV akan melakukan penolakan secara psikologis bila dari hasil test dinyatakan terkena virus HIV. Hal ini disebabkan karena penderita kondisi tubuhnya normal, belum menunjukkan gejala dan masih dapat beraktifitas seperti biasa. Namun, biasanya setelah 2 minggu atau sebulan barulah si pasien mau menerima kenyataan bahwa dirinya positif HIV dan apabila tidak rutin berobat akan terserang AIDS. Yang menjadi masalah dalam konteks perempuan dengan HIV/AIDS adalah lebih kepada penanganan perempuan dengan HIV / AIDS pada saat kondisi mereka setelah melahirkan. Yang menjadi masalah yang komplek adalah mengobati diri sendiri, bayinya, dan suaminya sendiri yang terkena virus belum lagi menghadapi masyarakat sekitarnya. Yang paling spesifik adalah bagaimana si bayi dapat tumbuh sehat, dimana si ibu punya tanggung jawab besar untuk merawat bayinya, mejaga kesehatannya sendiri serta menjaga kelangsungan hidup berumahtangga, inilah yang menjadi masalah yang sangat rumit. Dalam hal pendataan, perempuan dengan HIV/AIDS IPPI melakukan upaya kerjasama dengan klinik – klinik VCT yang ada di Denpasar dan Bali pada umumnya, selain itu juga dengan bantuan dokter – dokter spesialis internis. Dokter – dokter yang menangani para penderita HIV / AIDS akan mengajukan rujukan pendampingan kepada IPPI untuk para pasien HIV / AIDS. Dari sanalah IPPI memaksimalkan perannya dalam melakukan pendampingan terhadap penderita HIV / AIDS khusunya untuk kaum Perempuan. Warga kota tidak menyia – nyiakan kesempatan untuk berinteraktif melalui 244444, ada Dewi di Denpasar bertanya, “Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh ibu yang sudah terinfeksi virus HIV? Sementara dia punya keluarga seperti anak dan suami? Apakah dia harus menjauh dari keluarga atau tetap bertahan dalam keluarganya?” Selain itu juga turut serta Indah di Denpasar yang bertanya, “Obat HIV / AIDS itu seperti apa?” dan masih serupa dengan pertanyaan Indah, Diva di Jln. Hayam Wuruk bertanya, “Apakah benar HIV / AIDS bisa diobati dengan tumbuhan yang berasal dari Papua sejenis umbi merah?” Menanggapi pertanyaan ibu Dewi, dijelaskan oleh Putu Utami, “Yang perlu dilakukan oleh ibu yang terinfeksi adalah harus terus bertahan dalam artian terus mendampingi suami dan anakdisamping berobat untuk kepentingan diri sendiri. Dan jika berencana mempunyai anak lagi, harus mengikuti program PMTCT (Seperti yang dibahas minggu lalu 5 juli 2010). Dan ibu ini harus mengikuti terapi serta selalu memantau perkembangan buah hatinya.” Sedangkan menanggapi pertanyaan Indah, “Sebetulnya sudah ada obat – obatan medis untuk HIV / AIDS. Obat patennya telah dibuatkan di Luar Negeri sekitar tahun 1997 dengan harga awal sekitar 6 Juta rupiah namun, tidak tersedia di Asia Pasifik, hal ini menimbulkan keberatan pada negara lain untuk mendapatkan harga murah dengan memproduksi obat sendiri. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan program ‘Three By Five’ dengan obat – obatan Anti Retroi Virus / ARV yang dibuat di India tahun 2005. Dan di tahun 2007 – 2008 Indonesia telah dapat membuat obat sendiri dan pemerintah juga melatih tenaga medis serta petugas laboratorium dalam menangani kasus HIV / AIDS. Saat ini, obat – obatan tersebut tersedia gratis tanpa dipungut biaya bagi penderita HIV / AIDS. Hal ini sungguh hal yang sangat mengembirakan sekali sekaligus sebagai bentuk kepedulian pemerintah. Selanjutnya menjawab pertanyaan Diva, Putu Utami mengatakan,”Memang benar umbi merah ditemukan di Papua dan ternyata setelah diproses memang cukup efektif dalam menambah sistem kekebalan tubuh, bukan untuk membunuh ataupun menekan pertumbuhan virus. Dan penomena ini sempat membawa dampak negatif di Papua, dimana pendirita HIV/AIDS yang sebelumnya rajin minum obat ARV menjadi berhenti terapi dan hanya mengkonsumsi umbi merah. Dalam kasus tertentu dijelaskan juga ada satu kejadian dimana seorang penderita HIV yang sudah parah dikucilkan oleh keluarganya sendiri bahkan sampai akhir hidupnya sekalipun. Dalam hal ini masyarakat hendaknya mulai belajar untuk memahami tentang virus ini, baik penularannya ataupun pengobatannya sehingga tidak mengucilkan penderita. Untuk warga kota yang membutuhkan dukungan terkait HIV / AIDS dapat bergabung di IPPI Bali dengan alamat Jln. Tukad Buaji Gang Lotus No. 30 Denpasar. -dyt-