Menu

TALKSHOW SUARA LENTERA KPA PROV. BALI, SENIN,19 JULI 2010 “HIV / AIDS dan Kondom pada Kelompok Gay, Waria, LSL”.

  • Selasa, 20 Juli 2010
  • 399x Dilihat
TALKSHOW SUARA LENTERA KPA PROV. BALI, SENIN,19 JULI 2010 “HIV / AIDS dan Kondom pada Kelompok Gay, Waria, LSL”.
Penyiar Krisna kembali memandu gelaran acara “Suara Lentera” Senin, 19 Juli 2010. Seperti biasa, kali ini tidak sendiri, tapi ditemani oleh Sofi yang merupakan penyiar pendamping yang bekerja di yayasan Gaya Dewata. Hadir sebagai narasumber yakni Ajus dari Yayasan Gaya Dewata. Yayasan sosial ini bergerak dalam bidang penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV dan AIDS pada kelompok Gay, Waria dan LSL berdiri sejak Februari 1992. Adapun topik yang dibahas dalam talkshow yang berlangsung selama satu kali 60 menit itu, adalah tentang “HIV / AIDS dan Kondom pada Kelompok Gay, Waria, LSL”. Dalam talkshow yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.00 wita itu, dijelaskan oleh penyiar Sofi, bahwa Yayasan Gaya Dewata mencakup wilayah Denpasar, Badung, dan Singaraja karena tiga kabupaten / kota ini terdapat lebih banyak komunitasnya, dan beralamat di Jalan Sakura 4 No. 8 Denpasar. Dalam melakukan tugasnya untuk pencegahan HIV dan IMS Yayasan bertugas untuk melakukan pendampingan pada kelompok gay dan waria dengan cara out reach dan juga cyber out reach, dengan melakukan sosialisasi pada kelompok tersebut demikian pula kepada masyarakat umum melalui diskusi, workshop ataupun seminar. Diutamakan penjelasan langsung dari komunitas sendiri, hal ini untuk lebih memudahkan penyampaian karena kalau dari kalangan sendiri maka akan lebih mudah untuk memahami kebiasaan mereka dan juga gaya hidup mereka. Sesuai topik yang dibahas, “HIV / AIDS dan Kondom pada Kelompok Gay, Waria, LSL” secara umum dijelaskan tentang perbedaan tiga kelompok ini : Gay merupakan seorang laki – laki yang berpenampilan laki – laki tetapi orientasi seksualnya tertarik dengan laki – laki juga. Selanjutnya, Waria adalah seorang laki – laki yang berpenampilan feminim seperti perempuan yang orientasi seksualnya tertarik dengan laki – laki. Sedangkan LSL ( Lelaki Seks dengan Lelaki ) yaitu seseorang yang sebenarnya heteroseksual tetapi juga melakukan hubungan seks dengan sesama laki – laki ( baik gay maupun waria atau juga laki – laki biasa ). Pada dasarnya kondisi yang dialami kelompok ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti gen, keluarga dan juga lingkungan. Dikatakan dari segi gen apabila dalam masa perkembangannya mengalami perubahan sifat karena hormon atau gen, sedangkan dikatagorikan keluarga, tergantung dari banyaknya keluarga perempuan atau laki – laki yang lebih banyak mempengaruhi dan katagori lingkungan yang lebih banyak dipengaruhi pergaulan di lingkungannya. Dalam sosialisasi pencegahan HIV/AIDS ditekankan tentang bahaya dan pencegahannya demikian juga untuk melakukan seks secara sehat setia pada satu pasangan dan penggunaan kondom secara benar, terkait dengan komunitas ini sering disebut sebagai populasi kunci dan beresiko tertular HIV/AIDS. Beberapa penanya berpartisipasi melalui on/off air : ‘Yushi - Legian menanyakan tentang bagaimana waria dalam mencari pekerjaan? Bisa tidak mereka mendapat pekerjaan dengan posisi tinggi, seperti manager perusahaan, manager hotel / atasan yang lain ? Biasanya sementara ini hanya dilihat kerja disalon’. kemudian ada ‘Yudi - Denpasar yang menanyakan bahwa Waria biasanya dikucilkan sama masyarakat, dalam hal ini apa yang harus dilakukan waria untuk mengatasi hal ini?’, selanjutnya ‘Dewa – Denpasar menyangsikan apakah iya kalau anak yang masih dibawah umur , misalnya SMP ketika mengungkapkan rasa suka pada cowok bisa dikatakan ada bibit gaya / penyimpangan? Padahal kan mereka masih dalam masa labil? Kecuali memang dipengaruhi rasa penasarannya masih besar, apakah ada kemungkinan untuk gak bisa lepas dari penyimpangan itu? Apalagi kalau sudah tahu/ sudah merasa nyaman behubungan dengan cowo’. dan terakhir ada ‘Jian Tabanan menanyakan anda lebih tertarik pada pria / wanita? Apakah anda punya keinginan untuk menikah dan memiliki keturunan?. Demikian tadi pertanyaan yang langsung dijawab oleh narasumber, bahwa Waria, Gay ataupun LSL bekerja bukan hanya pada bidang usaha salaon saja, bahkan banyak dari mereka yang bekerja dalam bidang entertainment atau hiburan dan perusahaan tertentu, sedangkan pemilik salon – salon besar juga banya dan terbilang sukses. Untuk peluang usaha sebenarnya tergantung dari kemampun ataupun keahlian sendiri, disamping itu seringkali masyarakat masih merasa agak aneh dengan keberadaan mereka dan menyangsikan kemampuannya padahal mereka kalau diberikan kesempatan mempunyai daya saing yang tidak kalah dengan yang lainnya. Untuk masalah penyimpangan tergantung dari pribadi masing – masing, dan apabila itu terjadi pada usia dini jadi masih cukup banyak kesempatan untuk memperbaiki dan tugas dari yayasan sebagai pendamping untuk membantu memberikan pemahaman kepada mereka sebelum memilih keputusan yang sangat penting untuk menentukan masa depan selanjutnya. Untuk ketertarikan sudah pasti sesuai dengan keadaan mereka saat ini, semua orang pasti ingin bahagia dalam menjalani hidupnya demikian juga untuk kesempatan berkeluarga dan mempunyai anak. Akan tetapi hukum di Indonesia belum melegalkan pernikahan dalam komunitas ini demikian juga untuk urusan pengangkatan anak mereka mengalami kendala oleh sistem administrasi. Di akhir talkshow ditegaskan bahwa komunitas waria, gay dan lsl itu ada disadari ataupun tidak dan diharapkan masyarakat untuk tidak menganggap mereka aneh bahkan memandang remeh, tetapi berusaha untuk membantu dan mendukung mereka, karena nereka juga manusia biasa yang perlu untuk bersosialisasi. Dan untuk kalangan mereka diharapkan untuk berprilaku positif bekerja sesuai dengan kemampuan untuk melanjutkan masa depan. ..dhia..