Menu

TALKSHOW SOSIALISASI SARBAGITA

  • Kamis, 02 Juni 2011
  • 483x Dilihat
TALKSHOW SOSIALISASI SARBAGITA
Salah satu penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di Kota Denpasar adalah tidak seimbangnya ruas jalan dengan jumlah kendaraan. Membludaknya kendaraan pribadi menyebabkan ruas jalan tidak lagi mampu menampug. Sehingga perlu dipikirkan jalan keluar untuk mengatasi kemacetan ini dengan mengupayakan penggunaan transportasi massal dan mengurangi kendaraan pribadi. Salah satu usaha pemerintah yakni dengan mengupayakan transportasi yang menghubungkan 4 kabupaten di Bali yang padat lalu lintas kendaraannya, yakni : Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan yang disingkat dengan Sarbagita. Talkshow berlangsung pada hari Rabu, 1 juni 2011 dipandu oleh penyiar Yenni. Talkshow yang berlangsung selama 1 jam ini menghadirkan beberapa orang narasumber, yakni : Bapak Sugeng Sugianto yang merupakan Kepala Bidang Darat Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Provinsi Bali, Selanjutnya yakni Bapak Hari Edi selaku Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Denpasar, Bapak Gede Semara Dari Organda Kota Denpasar, dan Bapak Krisdianto dari Badan Pengelola Dinas Perhubungan Kota Denpasar. Dijelaskan oleh bapak Sugeng bahwa pertimbangan pengembangan angkutan Sarbagita ini berasaskan pada UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Melihat kondisi kota Denpasar dan sekitarnya yang sedemikian macet serta berdasarkan referensi study publik transport pada tahun 1998, Rencana Induk Transportasi Bali 2004, Penelitian Transportasi Kota Denpasar yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Denpasar serta Kajian penataan angkutan umum Sarbagita 2006/2007 sehingga timbullah konsep transportasi Sarbagita (yang sering disebut Trans Sarbagita). Tujuannya tiada lain untuk memecah permasalahan lalu lintas. Di tahun 2011 ini akan dibuka 1 koridor yang bernama koridor 2 yakni dari Batu Bulan hingga Nusa Dua dan trayek pengumpannya adalah dari Tegal menuju ke Bandara. Mengingat saat ini Bandara sedang melakukan renovasi kemungkinan trayek ini hanya dikerjakan sampai di patung kuda Tuban. Kemudian tarif yang akan dikenakan kepada masyarakat sejumlah Rp. 3.500,- rupiah dengan waktu tunggu antrean hanya 15 menit. Jadi Bus yang digunakan akan menaik dan menurunkan penumpang pada halte – halte yang telah disediakan. Untuk Bus menengah tersedia 14 halte dan 10 halte untuk bus besar. Bapak Krisdianto menjelaskan sudah disiapkan halte dan standar pelayanan untuk mendukung transportasi Sarbagita. Halte yang telah dibangun memiliki tinggi lantai 110 cm, dimaksudkan agar Bus Sarbagita ini tidak berhenti di sembarang tempat. Sedangkan waktu berangkat masing – masing Bus Sarbagita yakni 15 menit. Jadi,setiap 15 menit diberangkatkan 1 Bus Sarbagita dan waktu untuk menaik dan menurunkan penumpang di setiap halte adalah maksimal 1 menit. Untuk pertama kali peluncuran, akan diberangkatkan 14 bus, dan beroperasi dari pukul 05.00 hingga pk. 21.00 wita. Jadi dari Batu Bulan akan berangkat 7 bus dan dari Nusa Dua 7 bus. Halte yang sudah ada bisa warga kota lihat di tohpati – simpang I.B. Mantra, Nusa Dua, dan lain sebagainya. Untuk tarif sangat terjangkau yakni Rp. 3.500,- untuk dewasa dan Rp. 2.500,- untuk pelajar dan mahasiswa. Untuk sementara sistemnya akan menggunakan karcis, namun nantinya akan menggunakan smartcard. Dilanjutkan oleh bapak Hari Edi, untuk mendukung koridor – koridor trans Sarbagita akan menyiapkan fider – fider yang terkait dengan tarikan sebuah perjalanan. Selain itu, Dinas Perhubungan Kota Denpasar juga akan memebentuk sebuah Unit Pelaksana Tekhnis ( UPT ). “Bus untuk Sarbagita disiapkan oleh pemerintah pusat sebanyak 15 unit, tetapi kebutuhan kita hanya 14 jadi kita memiliki 1 cadangan”. Demikian dijelaskan oleh bapak Krisdianto. Sedangkan standar pelayanan seperti persiapan sopir menggunakan sistem tender dan belum ditentukan saat karena masih dalam proses lelang. Standar pelayanan minimal pun diberlakukan tidak hanya bagi sopir namun juga bagi perawatan bus. Setelah proses tender selesai barulah nanti sopir Bus akan dilatih agar mahir terutama dalam proses berhenti di halte. Karena tinggi lantai halte memerlukan jarak 10 cm agar penumpang aman saat naik dan turun bus, jadi bus harus berhenti tepat di pintu halte. Bapak Gede Semara dari Organda Kota Denpasar sangat mendukung adanya Trans Sarbagita ini. Pada saat ini mengingat koridor 1 yang Organda layani adalah dari jln. Surapati Denpasar menuju GWK akan dibuka 4 fider serta mempersiapkan 4 angkot dengan fasilitas setara bus. Turut berinterakhir yakni bapak Prana yang bertanya, “Apakah sudah pasti 15 menit waktu keberangkatan bus Sarbagita? Dan untuk parkir kendaraan penumpang Sarbagita apakah aman serta ada penanggungjawabnya?” Dijawab oleh bapak Kridianto bahwa 15 menit itu adalah waktu antar keberangkatan kendaraan yang satu dengan yang lain. “Sedangkan untuk parkir kewenangan ada di masing – masing kabupaten / kota untuk pengelolaannya jadi kita hanya berkoordiansi di mana – mana saja areal parkir yang bisa digunakan,” kata bapak Krisdianto. Sebelum talkshow berakhir hadir juga bapak Gonzales selaku Kanit Diyaksa Satlantas Polresta Denpasar. Bapak Gonzales mengatakan,”Kami dari kepolisian sangat menyambut baik adanya trans Sarbagita ini, karena kami menginginkan kota yang tertib lancar. Yang kedua kami ingin mewujudkan ketertiban dan kelancaran pemakai jalan. Dengan adanya Sarbagita, tentunya bisa mengurangi angka pelanggaran dan angka kecelakaan.” Di ujung talkshow bapak Krisdianto menyampaikan bahwa saat ini sedang disiapkan nama – nama halte, persiapan SDM untuk sopir bus juga pelatihan dan lain sebagainya. Semoga segera trans Sarbagita ini terealisasi. -dyt-