Talkshow Pemusaran Jenasah Odha
16 Desember 2010 hadir Putu Utami Dewi selaku ketua Yayasan Spirit Paramacitta (Bali Plus) dan Istina Dewi selaku Koordinator lapangan Yayasan Spirit Paramacitta sebagai narasumber Talkshow KPA dengan tema Pemulasaran jenasah Odha yang dipandu Anggreni selama 60 menit di 91,45 RPKD FM.
Diawali oleh Putu Utami Dewi bahwa topik Pemulasaran jenasah Odha diangkat karena terdapat kurang lebih ada 41 orang meninggal karena HIV dan AIDS di Rumah Sakit Sanglah periode 2008. Dalam penanganan jenasah di Bali, biasanya jenazah dimandikan langsung bersentuhan dengan tangan tanpa menggunakan sarung tangan sebagai tradisi penghormatan terakhir. Namun ternyata hal ini menjadi salah satu kekhawatiran masyarakat yaitu tertularnya penyakit HIV/AIDS dari jenazah kepada yang memandikan. Pada Talkshow yang berlangsung dijelaskan bahwa melalui protap khusus yang direkomendasikan CDC (Centre of Desease Control) khususnya di instalasi kamar Jenasah RS Sanglah yang selama berlangsung selama 4 jam dapat membunuh virus HIV/AIDS pada jenazah Odha, namun pada penanganan jenasah pada umumnya lebih dianjurkan dan lebih ideal apabila menggunakan sarung tangan.
Kepala bagian SMF kedokteran Forensik RS Sanglah, Dr.I.B Alit,SPF,DFM menyampaikan bahwa Jenasah Odha ada beberapa langkah yang dijalani sebelum jenasah dibawa pulang. Pertama jenasah dibiarkan selama 4 jam setelah kematian klinis ditentukan,yang disebut kematian selular. Menunggu 4 jam dengan maksud menunggu sel dalam tubuh mati. Yang di asumsikan Virus HIV dalam tubuh Odha ikut mati.
Langkah kedua untuk mencegah penularan pada yang sehat. Jenasah dimandikan dengan Hipoklorit 0,5% setelah itu dibasuh dengan alkohol 90% langkah selanjutnya setiapa lubang pada jenasah seperti hidung, telingan dan mulut ditutup dengan kapas. Selanjutnya jenasah diformalinkan dengan formalin 4%. Formalin disuntikan melalui intravena dianggap lebih mudah diserap tubuh.Dengan langkah tersebut jenasah Odha sudah bisa dibawa pulang, tentu saja pelayat tidak perlu takut untuk datang. Langkah langkah ini hampir sama penanganannya dengan dengan penyakit pada umumnya. Yang berbeda formalinnya 20% buat jenasah yang biasa sedangkan untuk jenasah Odha 4% dengan alasan lebih cepat menyerap. Semua langkah – langkah tersebut juga harus persetujuan dari keluarganya.. Biasanya pihak penanganan jenasah rumah sakit memberitahukan kepada keluarga mengenai kondisinya.Biasa pihak keluarga tidak pernah menolak dan menyetujui langkah – langkah tersebut. Bagi masyarakat awam tetntunya tidak perlu takut lagi bahkan sampai mendiskriminasikan jenasah Odha dengan tidak mau melayat atau membantu penguburan atau pengabenan.
Apalagi penularan HIV tidak segampang penularan flu, HIV hanya bisa menular lewat pertukaran cairan kelamin dan darah.
Dalam kesempatan ini ada pertanyaan dari bapak Indra secara on air melalui line telp 244444 “bagaimana jika jika jenasah tidak diketahui meninggal karena HIV AIDS? apakah yang memandikan jenasah tidak tertular?â€. Dijelaskan oleh narasumber bahwa ini terkait dengan ketertutupan Odha. Pada saat konseling,Odha disarankan agar terbuka kepada orang terdekat seperti orang tua atau pasangan yang dipercayai.
Melalui line telp 244444 Bapak Kompyang di Imam Bonjol menceritakan bahwa salah satu keluarganya yang masih kecil mengidap HIV AIDS karena ayahnya pemakai narkoba dan sudah meninggal dunia ,dan bertanya adakah obat untuk menyembuhkan HIV AIDS? sudah ada obat untuk mengambat pertumbuhan virus yaitu obat ARV (Anti Retro Viral) ,karena semua virus tidak dapat dibunuh.
Sebelum mengakhiri talkshow, narasumber menyampaikan harapan mereka bahwa tidak perlu khawatir jika keluarga mengidap HIV AIDS, karena bisa ditangani dan bisa di prosesi secara biasa sesuai tradisi yang ada.Jika ada rasa khawatir bisa menghubungi Yayasan Spirit Paramacitta di no telp 0361 7807321.
_dhia_