TALKSHOW PARIWISATA BUDAYA TENTANG SASTRA JUMAT, 25 JUNI 2010
Sastra muncul dari nurani yang suci dan tercipta untuk meruwat di dunia, demikian terungkap dalam Talkshow Pariwisata Budaya yang membahas tentang “Sastraâ€. Talkshow yang berlangsung selama 1 jam ini menghadirkan 3 orang narasumber : Anak Agung Sagung Mas Ruscitadewi (Sastrawan dan pengamat sastra) Ni Made Ari Dwijayanthi (Mahasiswa Fakultas Sastra) dan Made Gede Saskara (Dinas Kebudayaan Kota Denpasar). Talkshow yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.00 wita ini dipandu oleh penyiar Krisna.
Diungkapkan oleh Arik, sapaan akrab Ni Made Ari Dwijayanthi, Sastra merupakan suatu kebebasan untuk berekspresi, berimajinasi dan berkarya. Selanjutnya menurut Bapak Saskara, Sastra di Denpasar sebagai hasil budaya budaya sudah dari dahulu ada dan kini semakin berkembang, terbukti dengan hal – hal yang berhubungan dengan sastrapun diangkat kembali oleh Pemerintah Kota Denpasar. Sedangkan Ibu Mas menyampaikan hendaknya berhati – hatilah dengan sastra, jangan sampai terjebak dan tenggelam di dalamnya. Sastra merupakan penciptaan yang muncul dari nurani yang bercampur dengan logika. Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa sastra merupakan inti dari segala hal, demikian halnya bila sastra dikaitkan dengan upacara ataupun yadnya dan prilaku dalam kehidupan sehari – hari bersumber dari sastra. Oleh sebab itu kita harus bisa melestarikan dan memperbaharui karya – karya sastra.
Rama di Tabanan yang masuk melalui line on-air 244444 menanyakan, bagaimana tanggapan Narasumber tentang perbedaan pengarang sastra kuno yang biasanya tidak mencantumkan nama dalam karyanya (anonim) dengan sastrawan saat ini yang cederung menghasilkan karya yang komersil? Dan bagaimana mengembalikan kejayaan karya sastra jaman dahulu? Dijelaskan oleh Ibu Mas, “Memang kelihatannya sederhana, Sastra itu kembali ke masa lalu dengan tidak menonjolkan komersialitas namun kenyataannya tidak begituâ€. Karena sastrawan dahulu, dalam melahirkan karya sastra adalah dari kenyataan atau pengalaman hidup bukan bersifat komersial. Sastrawan dulu hanyalah menginginkan pesan yang disampaikan dalam karya sastranya sampai pada pembacanya dan tidak terikat dengan materi. Apabila dikatakan tidak menyebutkan nama, karya sastra dahulu menyebutkan hanya tersamar dalam kata – kata kiasan,..seperti karya Tanakung yang berarti tanpa cinta. Bila dibandingkan dengan karya sastra sekarang, seniman bukan hanya komersial saja, tetapi suatu karya sastra bila ingin dikenal masyarakat banyak perlu adanya publikasi dan bila memungkinkan tentu saja bisa dikomersialkan.
Dalam kesempatan off air juga sempat bergabung Dara di Sesetan yang menanyakan tentang hak paten dari karya sastra seniman Bali dan Denpasar khususnya. Menurut Ibu Mas, hak paten itu penting namun, banyak seniman yang terbentur dana dalam mematenkan karya mereka. Hal itulah yang menyebabkan seniman Bali kurang responsif dalam mematenkan hasil karya mereka. Menurut Bapak Saskara, “Kiranya perlu kita bersama menjaga hak – hak kita, serta karya yang kita miliki, jangan salahkan pihak lain jika terjadi hal yang tidak diinginkan karena kitalah yang harus sadar untuk mematenkanâ€, kata pak Saskara.
Sebelum mengakhiri talkshow, tak lupa Ibu Mas menghimbau warga kota untuk, “memakai nurani di dalamberpikir, berkata dan berbuat. Hidup ini memang sulit. Setiap saat kita mendapat tantangan dan tantangan itu adalah soal untuk menjawab soal berikutnya. Supaya kita bisa menjalani hidup dengan senyuman.†Arik selaku Mahasiswa juga berpesan kepada sesama rekan Mahasiswa, “Cobalah untuk berani berkaryaâ€, kata Arik. Dari Pihak Dinas Kebudayaan, Pak Saskara juga berpesan, “Bahwa Pemerintah sangat mendukung kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya. Mari kita bangkitkan bersama, kita gali ‘local genius’ yang ada di Denpasar khususnya.â€
-dyt-