Menu

TALKSHOW MALAM RENUNGAN AIDS NUSANTARA KPA KOTA DENPASAR

  • Sabtu, 29 Mei 2010
  • 1141x Dilihat
TALKSHOW MALAM RENUNGAN AIDS NUSANTARA KPA KOTA DENPASAR
Kamis, 27 Mei 2010 dilaksanakan talkshow sosialisasi Malam Renungan AIDS Nusantara di 91,45 RPKD FM. Hadir 2 narasumber yaitu Bapak I Ketut Sukanata, SH dari PKBI dan Ibu dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes selaku Ka. Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Talkshow yang sangat menarik ini berlangsung selama 1 jam dan di pandu oleh Cok Krisna Dewi. Di Awal perbincangan, Bapak Sukanata menyebutkan bahwa Malam Renungan Aids Nusantara (MRAN) merupakan acara untuk seluruh lapisan masyarakat. Malam Renungan Aids Nusantara di Indonesia sudah di laksanakan dari tahun 1991, sedangkan di Bali sudah melaksanakan malam renungan ini dari tahun 1996 dan khususnya di Kota Denpasar Malam Renungan Aids Nusantara dilaksanakan dalam waktu 10 tahun terakhir. Ibu dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes menambahkan bahwa KPA Kota Denpasar menjadi koordinator acara ini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, dan juga LSM untuk menanggulangi permasalahan sosial di Kota Denpasar. Acara Malam Renungan AIDS Nusantara mengajak masyarakat yang hadir untuk ikut merenung atau mengenang rekan-rekan yang meninggal karena HIV/AIDS demikian juga mereka yang sudah terkena untuk berusaha tetap berobat dan bagi yang belum terkena agar menghindari untuk tidak tertular dan juga agar tidak mendiskriminasi Orang yang sudah terinveksi HIV/AIDS. Acara Malam Renungan AIDS Nusantara akan dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2010 bertempat di SMPN 10 Denpasar dengan melibatkan anak – anak sekolah, LSM dan masyarakat umum.Tujuan dari di libatkannya anak sekolah dalam acara Malam Renungan Aids Nusantara untuk memberikan informasi tetantang bahaya HIV/AIDS, dari data yang diperoleh kasus HIV/AIDS ada pada usia produktif yaitu 20 – 29 tahun. Para narasumber juga mejelaskan tentang carac- cara pencegah HIV/AIDS dengan menjaga perilaku dan pola hidup sehat dengan menerapkan prinsip “ABCDE”. A untuk “Abstinence” atau tidak melakukan hubungan seks sama sekali, B untuk “Be faithful” atau tetap setia pada satu pasangan. C untuk “use Condom” atau menggunakan kondom bila sulit untuk setia dan melakukan hubungan seks yang berisiko. D untuk “Don’t inject” atau jangan menggunakan jarum suntik dan E untuk “Education” mempelajari segala sesuatu tentang bahaya HIV/AIDS. Dalam kesempatan tersebut, penelpon yang berinteraktif secara langsung di line telp 244444 ada Ryan di Vetran yang bertanya ke narasumber tentang prosentase tertinggi penularan HIV AIDS, dan bagaimana persentasenya terhadap pelaku sex sejenis, dan siapa saja yang bisa hadir ke acara malam renungan? Narasumber menanggapi bahwa persentase penularan tertinggi adalah pelaku sex heterogen, artinya tidak lagi terfokus pada populasi kunci, masyarakat biasapun saat ini sudah ada yang terkena karena prilaku tidak sehat tersebut, sedangkan untuk Malam Renungan Aids Nusantara, siapa saja boleh menghadirinya dan dihimbau untuk masyarakat luas untuk ikut hadir. Penelpon yang bertanya via off air diantaranya : Asty di Karangasem yang bertanya “ apa saja acara dalam Malam Renungan Aids Nusantara dan dimana dilaksanakan?” , kemudian ada Ananta yang menanyakan apa saja gejala – gejala HIV/AIDS , ada Dewi di Jimbaran yang bertanya “ apakah HIV/AIDS menyerang binatang dan menularkan virusnya melalui gigitan, seperti rabies?” kemudian ada Bapak Mustika yang menanyakan informasi bahwa “ ada teman saya seorang ibu – ibu, suaminya meninggal karena aids, bagaimana cara menyelamatkan ibu itu?” dan juga ada Edwin di Gianyar yang bertanya tentang kebenaran buah merah yang di temukan di papua sebagai obat AIDS? Dari sekian pertanyaan yang masuk melalui line telp 244444 para narasumber menjawab secara bergantian. Salah satu acara dalam Malam Renungan Aids Nusantara adalah menyalakan lilin, karena lilin merupakan simbol penerangan, dan pastinya malam itu akan merenung, acara dilaksanakan di SMPN 10 Denpasar di kawasan jalan Gatot Subroto.Dan untuk pertanyaan kedua, Ibu dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes menjawab untuk HIV belum bisa dilihat gejalanya secara kasat mata harus melalui pemeriksaan laborartorium, dan HIV diindikasi dapat menularkan virusnya ke orang lain. Untuk AIDS beberapa gejalanya adalah berat badan turun drastis, diare kronis, demam, kelainan pada kulit, mata. HIV/AIDS tidak menular dari binatang, dan untuk Bapak Mustika di Tabanan disarankan agar segera membantu ibu tersebut untuk conseling agar bisa mengetahi status ibu tersebut, conseling bisa dilakukan ke Puskesmas 2 Densel di Sanur, Klinik merpati RS Wangaya, RSUP Sanglah, Yayasan Kerti Praja dan juga bisa ke klinik PKBI yang memiliki klinik Voluntary Konselling And Testing (VCT). VCT adalah suatu layanan konseling dan tes HIV sukarela, untuk memastikan apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Dan untuk buah merah yang ditemukan di papua itu bukan untuk membunuh virus namun hanya digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Diakhir perbincangan, para narasumber menghimbau untuk para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) agar tidak berkecil hati karena banyak orang yang akan mendampingi dan memberi semangat dan jangan menularkan HIV/AIDS kepada orang lain. Dan untuk yang tidak tertular agar menghindari tindakan menyimpang / beresiko tertular HIV AIDS. “MENCEGAH LEBIH BAIK DARI MENGOBATI” _dhia_