Menu

TALKSHOW ‘SUARA LENTERA’ BERSAMA KPA PROVINSI BALI

  • Selasa, 25 Mei 2010
  • 1019x Dilihat
TALKSHOW ‘SUARA LENTERA’ BERSAMA KPA PROVINSI BALI
Saat ini makin beragam program acara di 91.45 RPKD FM, Salah satunya adalah Program Siaran bersama Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali yakni ‘Suara Lentera’. Hadir setiap hari Senin pukul 09.00 – 10.00 wita selama beberapa bulan ke depan dengan tema dan narasumber yang berbeda – beda. Suara Lentera merupakan program sosialisasi untuk lebih mengenal dan pencegahan AIDS. Gubernur Bali sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali yang biasa disingkat dengan KPAP Bali, sangat mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh KPA, sedangkan untuk tingkat Kabupaten dan kota diketuai oleh Bupati atau Walikota. Tugas dan Fungsi KPAP Bali adalah mengkoordinir dan memfasilitasi setiap upaya penanggulangan AIDS di daerah. Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Bali tahun 1983 dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya, untuk upaya pencegahan berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah terhadap kasus HIV dan AIDS melalui KPAP Bali inilah dengan sosialisasi kepada masyarakat salah satunya melalui Program Suara Lentera bersama RPKD FM. Dalam siaran perdana Suara Lentera yang berlangsung pada Senin, 24 Mei 2010 hadir sebagai narasumber Sekretaris II KPAP Bali, Bapak Made Suprapta dengan tema ‘Sosialisasi dan Pemberdayaan Populasi Kunci Sebagai Bagian Integral Komunitas Peduli AIDS Dalam Rangka Pencegahan HIV dan AIDS di Bali’, dengan penyiar Yeni dan didampingi oleh penyiar pendamping I Made Adi Mantara. Sesuai dengan tema, dijelaskan oleh Bapak Made Suprapta, Populasi Kunci merupakan Komunitas terbatas bagian dari masyarakat yang berasal dari kelompok beresiko tinggi terinveksi HIV kemudian yang ikut terlibat dalam program pencegahan dimana yang paling berperan disini kelompoknya sendiri seperti Waria, PSK, Pecandu Narkotika, dll. Dulu, Populasi Kunci disebut sebagai Populasi Beresiko, yakni yang beresiko tertular dan menularkan. “Mereka – mereka inilah yang kita rangkul untuk menekan penyebarluasan HIV dan AIDS”, ungkap Bapak Made Suprapta. Cara pendekatan yang dilakukan dengan menjangkau sedikit demi sedikit populasi kunci agar mau berbagi pengalaman demi menekan kasus HIV dan AIDS. Data HIV yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Bali bahwa sampai dengan Maret 2010 adalah sebanyak 3390 kasus. Sementara data estimasi kasus HIV di Bali yang baru dikeluarkan oleh Kemenkes RI pada 2010 diperkirakan berjumlah 7300 orang yang sudah terinveksi HIV. Kelompok yang paling banyak terinfeksi adalah dari kelompok PSK dan pelanggan yang mencapai 55% kemudian dari kelompok pengguna Napza suntik 35%. Dengan demikian, peran dari Populasi Kunci sangat diperlukan untuk menekan angka kasus HIV. Bentuk keterlibatan komunitas ini dalam pencegahan HIV dan AIDS antara lain sebagai pemberi informasi HIV dan AIDS atau sebagai peer educator (tutor sebaya), pendamping, dan konselor sesama populasi kunci. Hal ini ditempuh karena biasanya mereka lebih terbuka dengan sesama komunitas mereka. Intinya, ketika konsep pencegahan HIV melibatkan kelompok yang datang dari kelompok mereka hasilnya akan lebih efektif. Salah satu penanya interaktif melalui 244444 yakni dari Kepala Lingkungan di wilayah Pekambingan yakni Bapak Wibawa menanyakan prihal, “Bagaimana prosedur apabila orang yang terinfeksi HIV/AIDS meninggal, proses penanganannya seperti apa, apakah dari rumah sakit ada ketentuannya? Apakah tidak perlu di bawa ke rumah duka, atau langsung ke kuburan dan apakah dari pihak RS akan memberikan informasi bahwa warga tersebut meninggal karena HIV ataukah dirahasiakan karena privasi menyangkut keluarga besar?” Dijelaskan oleh Bapak Made Suprapta, “Prosedur penanganan jenasah penderita HIV sudah ada dan tidak perlu terlalu takut karena Virus HIV dalam hitungan beberapa jam sudah mati. Dan sebelum dibawa pulang, jenasah dititipkan dahulu di kamar Jenasah beberapa jam untuk memastikan Virusnya mati. Nah, apakah pihak RS memberitahu pihak keluarga tentang penyebab kematian pasien, itu adalah ketentuan dan rahasia ataupun kode etik dokter untuk tidak membocorkan kondisi pasien kepada orang lain. Untuk pencegahan, ada beberapa tips yang bisa diikuti dengan : menghindari hubungan seks bebas dan beresiko, setia kepada pasangan, hindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, hindari penularan melalui tranfusi darah dengan cara selektif dan ketat. Mari bersama – sama mencegah dan menekan penularan HIV dan AIDS. Untuk informasi mengenai HIV dan AIDS, warga kota dapat menghubungi KPAP Bali di Jalan Melati No. 21 Denpasar. Dengan Telepon (0361) 228723 -dyt-