SUARA LENTERA, 7 JUNI 2010 REHABILITASI
Kadek Sukantara dari Yayasan Kesehatan Bali ( Yakeba ) hadir sebagai narasumber dalam talkshow Suara Lentera dengan tema “Rehabilitasiâ€. Talkshow yang berlangsung Senin, 7 Juni 2010 ini di pandu oleh penyiar Krisna selama 1 kali 60 menit. Sesuai dengan tema, yang dimaksud dengan rehabilitasi adalah suatu pengkondisian yang sangat dibutuhkan oleh pecandu. Selama ini, masyarakat hanya melihat faktor fisik dari pecandu saja, padahal di luar itu, hal lain seperti : mental, emosional, spritual dari pencandu juga terganggu. Hal itulah yang menyebabkan rehabilitasi sangat diperlukan oleh para pecandu narkoba. Pengguna narkoba dibedakan menjadi 3, yakni : user yaitu orang yang menggunakan narkoba hanya ketik ditawari / tidak dikondisikan harus memakai. Yang kedua yakni abuser yaitu penyalahgunaan / memakai narkoba pada saat tertentu saja dan secara fisik belum terlihat seperti pengguna. Yang terakhir adalah adiktif yaitu pengguna narkoba yang mempunyai slogan hidup untuk menggunakan narkoba dan menggunakan narkoba untuk hidup.
Yayasan Kesehatan Bali atau yang biasa disebut Yakeba beralamat di Jln. Merta Sari 159 Suwung Kangin Denpasar Tlp.0361 – 724699 telah berdiri sejak tahun 1999. Yakeba yang awalnya hanya menyediakan sarana dan prasarana rehabilitasi, sejak akhir 2004 mengembangkan diri, tak hanya melakukan rehabilitasi namun juga, melakukan pengurangan dampak buruk dari pengguna jarum suntik seperti HIV, hepatitis C serta mendukung program komunitas, menjangkau pecandu dan mengarahkan pecandu di lapangan bersama KPA ( Komisi Penanggulangan Aids ). Untuk rehabilitasi sendiri dapat berlangsung 4 hingga 5 tahun. Tidak ada syarat khusus untuk masuk rehabilitasi, dijelaskan oleh Kadek Sukantara, “Poinnya yakni bermasalah dengan kecanduan / pemakai narkoba.†Yakeba dari awal tidak pernah memungut biaya dan proses rehabilitasi tersebut meliputi konseling terhadap keluarga, setelah itu konseling dengan si pecandu lalu menggali informasi narkoba jenis apa yang digunakan. Berbeda jenis narkoba yang digunakan berbeda pula cara merehabilitasinya. Contohnya untuk pecandu heroin, hal pertama yang dilakukan adalah pemutusan zat atau disebut juga proses detoksifikasi yang dilakukan selama 1 – 2 minggu. Selanjutnya akan dilakukan pendampingan 24 jam untuk tetap memantau kondisi perkembangan si pecandu. Setelah itu baru diikutkan dengan program keseharian yakni pembelajaran yang bersifat sosial termasuk cara menjalani kehidupan baru. Saat proses rehabilitasi berlangsung, si pencandu mau tidak mau akan merasakan sakau / ketagihan. Saat sakau tak hanya secara fisik tapi juga mental yang terganggu, tapi belum ditemukan orang meninggal karena sakau. Sakit saat sakau yang dirasa adalah 9 kali lebih sakit daripada seorang perempuan yang tengah melahirkan. Heroin adalah sumber obat yang efeknya ke saraf utama, jadi ketika zat ini diputus maka yang terserang adalah saraf utama. Seorang pecandu yang telah menjalani proses rehabilitasi selama 6 bulan hingga 1 tahun sudah termasuk kuat untuk kembali ke masyarakat. Setelah menjalani rehabilitasipun Yakeba masih memantau perkembangan si pecandu dengan program ‘after care.’
Turut serta berinteraktif melalui line 244444 yakni Ega di Denpasar menanyakan, “Dalam proses rehabilitasi, bagaimana peran orang terdekat dengan si pecandu apakah dilibatkan oleh pihak rehabilitasi?†Dijelaskan oleh Kadek Sukantara, “Orang terdekat terutama keluarga harus dilibatkan. Pasien yang sudah selesai rehabilitadi pasti kembali ke masyarakat dan tentunya kembali ke keluarga terlebih dahulu. Lingkungan terdekat inilah yang harus siap menerima pasien kembali setelah rehabilitasi. Pada saat rehabilitasi, disediakan waktu setiap hari minggu untuk kunjungan keluarga sekaligus memberikan konseling tentang dunia narkoba kepada keluarga pasien di Yakeba.
Selanjutnya yang ikut bergabung di line 244444, Bapak Dewa di Denpasar, “Ketika sudah terlanjur memakai napza, pasti suatu waktu akan merasa kecanduan. Dan ketika tidak memakai maka akan mengalami gangguan seperti sakau, mengigau atau yang lain. Nah bagaimana cara mengatasinya semetara jika dibiarkan akan membuat rasa sakit sendiri yang menyiksa si pemakai?†Dijawab oleh Kadek Sukantara, “Sebenarnya sakau itu proses yang nantinya akan terlewati juga tapi kebanyakan pecandu saat merasa sakau merasa putus asa. Disinilah pentingnya pendampingan. Pecandu yang ingin berhenti pasti merasakan sakau tapi itu harus di hadapi.
Sulis di Setiabudi juga ikut berinteraktif dengan pertanyaannya,â€Ipar saya memakai narkoba, saat ini keluarga ingin memasukkannya ke tempat rehabilitasi. Namun kondisinya sedang hamil muda. Apa tindakan yang harus kami ambil?†Dianjurkan oleh Kadek Sukantara agar ipar dari Ibu Sulis ini dirawat di medis atau di rumah sakit dulu, karena proses detoksifikasi pada saat rehabilitasi akan berdampak ke kandungan. Apalagi usia kandungan masih muda.
Sebelum mengakhiri talkshow, Kadek Sukantara menghimbau, “Masyarakat yang belum bermasalah dengan narkoba, jangan sekali - sekali menggunakan narkoba. Mudah sekali untuk mengenal narkoba dan menggunakan narkoba, tapi pada saat berusaha untuk keluar sangatlah sulit. Selain itu, bukan berarti sekali kita berjuang sekali kita langsung sudah berhasil untuk keluar dari dunia narkoba. Bagi pecandu diluar sana yang masih menggunakan, carilah informasi sebanyak - banyaknya,bahwa ada kehidupan yang lebih baik. Jalan ada banyak jangan takut untuk mencoba, jalan saja, melangkah sajaâ€, demikian disampaikan oleh Kadek Sukantara.
Ditambahkan oleh Kadek Adi Mantara, “Saat ini di Bali sudah banyak sekali perawatan untuk keluar dari budak narkoba. Termasuk perawatan medis. Untuk rehabilitasi sosial juga banyak, jangan takut untuk mencari, bisa menghubungi KPA di Jalan Melati No. 21 Denpasar dengan tlp. 0361 – 228723 jika ingin tahu lebih lengkap mengenai beberapa LSM yang memberikan dukungan terhadap pemulihan kasus narkobaâ€.
-dyt-