Menu

SUARA LENTERA, 31 MEI 2010 KELOMPOK DALAM PENANGGULANGAN HIV

  • Senin, 31 Mei 2010
  • 623x Dilihat
SUARA LENTERA, 31 MEI 2010 KELOMPOK DALAM PENANGGULANGAN HIV
Hujan yang mengguyur kota Denpasar Senin pagi 31 Mei 2010 tidak menyurutkan RPKD untuk menggelar Talkshow bersama KPA Provinsi Bali dalam program “Suara Lentera”. Hadir sebagai narasumber dari Kelompok Dalam Penanggulangan HIV yakni Gung Ki. Diawal talkshow, Kadek Mantara sebagai penyiar pendamping dari KPA Provinsi Bali mengungkapkan bahwa Kasus HIV dan Aids yang terdata 3390 orang dan diperkirakan di Bali terdapat 7000 orang pengidap Aids. Gung Ki yang merupakan Anggota dari kelompok korban napza di Bali yang tergabung dalam IKON BALI, yaitu : Ikatan Korban Napza. Dijelaskan oleh Gung Ki, yang disebut dengan Napza adalah Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan Korban adalah korban pertama yang bersentuhan langsung napza yakni pengguna, karena selain korban pertama masih ada lagi korban napza lainnya yang meliputi keluarga serta lingkungan sekitar. IKON Bali yang berdiri sejak September 2006 bukan hanya diperuntukkan bagi pencandu aktif, tapi juga pecandu tidak aktif. IKON Bali didirikan atas dasar pelanggaran - pelanggaran yang dialami pengguna napza baik penyiksaan maupun diskriminasi terutama saat mengakses layanan kesehatan seperti di rumah sakit / puskesmas. Dalam Talkshow ini, Gung Ki memberikan pernyataan kesaksiannya sebagai pengguna dari tahun 1994,saat itu Gung Ki tengah duduk di kelas 2 SMA menggunakan napza jenis heroin dengan jarum suntik. Pada awalnya Gung Ki ditawari teman secara gratis dan terjerumus menggunakan napza akibat ketidaktahuan tentang bahaya napza karena jarangnya informasi yang Gung Ki peroleh mengenai napza. Diawal penggunaan napza Gung Ki merasakan mual dan muntah tapi setelah berkelanjutan akhirnya menjadi kebutuhan selain itu dampak psikis dan fisik yang merasa kesakitan. Kehilangan panutan dari orang tua karena orang tua sudah meninggal turut menjadi pemicu terjerumusnya Gung Ki dalam pergaulan dengan narkoba. Pernah terjadi ketika Gung Ki merasakan kesakitan sendiri di rumah, ada tetangga yang juga pemakai, menawari berobat ke psikiater tahun 1996. Di Psikiater Gung Ki diberikan antidepresan untuk menghilangkan ingatan tentang napza. Saat sakit menyerang yang Gung Ki rasakan adalah badan linu, hidung meler, mual, terus nguap, dan muntah. Gung Ki merupakan tamatan SMA yang sempat kuliah sampai semester 3 di salah 1 universitas namun berhenti karena Drop Out ( DO ) setelah menjadi pemakai lagi. Tanggapan dari saudara Gung Ki setelah tahu bahwa Gung Ki adalah seorang pemakai masih tetap positif. Sanak Saudara tidak menjauhi, tidak mendiskriminasikan bahkan mendorong untuk sembuh, karena di lingkungan Gung Ki sendiri ada beberapa orang yang menjadi pemakai. Saat ini, IKON Bali sedang gencar - gencarnya menyuarakan vonis rehabilitasi, yakni vonis bagi pecandu narkoba yang akan di bawa ke panti rehabilitasi bukan di penjara karena pecandu narkoba bukan pelaku kriminal. Hal ini dilakukan karena di Bali belum juga pernah menjatuhkan vonis rehabilitasi. Padahal untuk di Bali, ada 1 sal khusus untuk menangani pecandu untuk rehabilitasi yakni di RSJ Bangli. Pengalaman Gung Ki di Lapas selama 3 tahun, pada kenyataannya tidak didapatkan efek jera bahkan yang didapat adalah semakin buruk. Penelpon interaktif di line telepon 244444 yakni Pak Bagus di Teuku Umar menanyakan, “Barang bukti untuk kasus narkoba di bawa kemana? apakah dimusnahkan?” Dijelaskan oleh Made Mantara, Barang buktitersebut biasanya digunakan lagi oleh polisi untuk memancing kasus – kasus yang lebih besar dan mungkin jawaban itu lebih tepat jika diberikan oleh pihak kepolisian. Sebelum mengakhiri talkshow, Gung Ki menyampaikan harapannya untuk penanganan napza lebih intensif lagi, dan orang – orang yang menggunakan narkoba adalah korban dari ketidaktahuan yang perlu perawatan sama seperti masyarakat lainnya. Made Mantara juga menyampaikan himbauannya kepada masyarakat untuk memberikan celah berbagi informasi bagi pemakai dan cobalah membangun sisi positif yang mereka miliki. -dyt-