SUARA LENTERA 21 JUNI 2010 'SOSILISASI IPPI'
Talkshow Suara Lentera kembali mengisi ruang dengar warga kota Senin, 21 Juni 2010. Kali ini topik yang dibahas dalam talkshow selama 1 jam ini adalah “Sosialisasi IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia)â€. Talkshow yang dipandu penyiar Krisna menghadirkan narasumber Mbak Suarni dan Utami dari IPPI yang beralamat di Jln. Tukad Buaji Gang Lotus No. 30 Denpasar.
Sebagai suatu organisasi pendampingan yang bertugas untuk membantu para penderita yang dinyatakan terinfeksi HIV bukanlah tugas yang ringan apalagi masyarakat sangat tertutup untuk informasi. Sementara ini dilaporkan ada sebanyak 25 orang anggota yang aktif dalam kegiatan yang diadakan, seperti sosialisasi ke sekolah – sekolah, kepada kelompok beresiko tertular dan masyarakat umum yang salah satunya melalui program suara lentera ini. Pendampingan yang dilakukan lebih mengarah pada upaya pencegahan penularan dari ibu kepada bayi, pengobatan dan rehabilitasi. Penularan HIV dari pasangan kepada kaum perempuan lebih banyak terjadi pada kalangan heteroseksual yang suka berganti – ganti pasangan dan melakukan seks yang tidak sehat, berbeda dari tahun sebelumnya yang banyak terjadi pada kalangan yang beresiko ataupun populasi kunci. Data ini diperkuat dengan semakin banyaknya ibu rumah tangga yang terinveksi dari suaminya, demikian pula terhadap bayi ataupun anak yang terinfeksi dari ibunya sendiri.
Untuk mereka yang beresiko ataupun mempunyai pasangan yang terinfeksi sebaiknya segera memeriksakan diri dengan melakukan test untuk mengetahui kondisi kesehatannya sehingga pendamping ataupun dokter dapat segera membantu untuk selanjutnya melakukan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien. Penularan HIV dari ibu yang belum mengetahui dirinya terinfeksi kepada bayinya terjadi saat proses kehamilan, melahirkan dan melalui air susu. Satu cara untuk mengatasi hal tersebut, apabila seorang ibu sudah mengetahui dirinya terinfeksi dan ingin hamil harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang kemudian melakukan test selanjutnya, dan dalam proses tersebut apabila memungkinkan untuk hamil akan dilakukan terapi khusus sehingga virus tidak sampai menular kepada bayi. Sedangkan apabila tidak memungkinkan si ibu disarankan untuk tidak hamil karena kemungkinan bayi tertular sangat besar.
Sedangkan untuk penanganan bayi / anak yang terinfeksi melalui terapi khusus dengan obat – obatan tertentu dengan tujuan utama untuk menjaga daya tahan dan kekebalan tubuh, karena sampai saat ini belum ditemukan obat untuk HIV ataupun AIDS.
Beberapa penanya sempat masuk secara on air ataupun of air :
- Ari – Denpasar (off air)‘Apa sebenarnya yang harus dilakukan ketika kita tahu kalau kita positif HIV karena kebanyakan pasti ada rasa takut. Bagaimana caranya agar mampu bertahan untuk selalu semangat?’ Dijawab oleh Mbak Utami, ‘Pada saat orang pertama kali tahu dirinya positif pasti mengalami ketidakpercayaan dan penolakan pada kenyataan. Biasanya dilakukan konseling sebaya yaitu pendampingan oleh orang yang juga positif, agar si pasien ini tetap semangat. Dan reaksi setiap orang berbeda – beda, namun rata – rata seperti itu’.
- Dara – Sesetan (off air)‘Tidak sedikit kasus kalau ibu yang terdeteksi HIV positif dan ternyata bayi yang dilahirkan itu negatif. Nah,bagaimana caranya agar bayi itu tidak tertular karena tidak mungkin juga di kasi ASI dari sang ibu yang positif HIV. Bagaimana cara menanggulanginya?’ Dijelaskan oleh Mbak Utami, ‘Pada saat kehamilan ibu yang positif ini harus dengan rutin memeriksakan diri karena perlu kontrol dokter. Selanjutnya kalau bisa umur 2 minggu sebelum melahirkan si ibu dapat melakukan terapi ARV dengan jenis obat ACT. Itu diprogram untuk pencegahan penularan kepada bayi. Pada saat melahirkan lebih baik dengan Caesar. Pada saat lahir, si anak jika dilakukan tes pasti hasilnya positif karena mengikuti antibodi ibu. Setelah 3 bulan si bayi telah membentuk antibodi sendiri dan jika dites hasilnya negatif berarti selamanya bayi ini tidak akan menjadi positif’.
- A.A.Raka – Gianyar (on air) ‘Yang berjuang untuk AIDS banyak, tapi yang ‘penjual yang beresiko AIDS (prostitusi) makin banyak juga. Apa untungnya kita berjuang jika yang ‘menjual’ juga gigih? Apakah yang berjuang masih kuat untuk berjuang?’ ‘Pada dasarnya kita tidak bisa menutup mata terhadap fenomena ini. Di IPPI sendiri ada program pencegahan dan penanggulangan. Untuk pencegahan, IPPI mengadakan penyuluhan – penyuluhan ke berbagai tempat seperti ke tempat mereka yang beresiko terkena AIDS, dan IPPI sendiri masih tetap gigih untuk berjuang,’ demikian yang dijelaskan oleh Mbak Utami.
Sebelum mengakhiri talkshow, narasumber Utami menyampaikan Moto dari IPPI yakni : Bersama – sama berjuang walaupun sebagai orang yang positif berkewajiban tidak menularkan kepada orang lain, dan untuk warga kota dimohon untuk menjalin hubungan harmonis dengan pasangan agar terhindar dari HIV ataupun AIDS. Ditambahkan oleh narasumber Suarni,’Mudah – mudahan anggota IPPI mendapat dukungan dari semua pihak, dari keluarga utamanya dan semoga tetap ada di Bali, tetap eksis dan anggotanya lebih aktif menyuarakan HIV dan AIDS’.
.. dyt..